:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Tantangan di Kehadiran Idul Fitri

Kehadiran Idul Fitri adalah buah kemenangan umat islam atas perjuangan selama bulan Ramadhan. Di antara makna idul fitri adalah kembali kepada fitrah, yakni fitrah kehidupan manusia umumnya dan biasanya.

Selama bulan Ramadhan, kita menjalani kehidupan yang tidak biasanya, karena selama satu bulan penuh, kita berpuasa. Berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang biasanya kita amalkan secara rutin pada siang hari, seperti sarapan pagi, makan siang, dan yang lainnya. Juga berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang boleh kita amalkan pada siang hari, seperti berhubungan dengan istri, dan seterusnya. Dan kita menjalankan aktivitas-aktivitas yang tidak biasa kita jalani, seperti makan sahur pada sebelum fajar.

Maka, idul fitri adalah kembalinya ritme kehidupan kita seperti biasanya, seperti manusia pada umumnya. Pola makan, dan juga aktivitas-aktivitas harian kita, kembali seperti semula.

Dalam Idul Fitri pula kembali kita dibukakan pintu-pintu untuk menguji kualitas keimanan dan ketaqwaan kita. Sejauh mana kita mampu mempertahankan – atau bahkan peningkatan lagi – kualitas ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah, atas peningkatan kualitas ubudiyyah yang kita jalankan selama bulan Ramadhan, akan terlihat setelah datangnya Idul Fitri dan berakhirnya Ramadhan.

Sudah menjadi hal yang lumrah, khususnya dinegeri kita, juga di negeri mayoritas muslim, bahwa selama bulan Ramadhan, semua yang ada di sekitar kita, dan juga kita sendiri mengkondisikan sehingga selama bulan puasa itu, semua ibadah dijadikan mudah untuk di amalkan, dan kemaksiatan dijadikan sulit untuk diamalkan, bahkan untuk didekati. Kajian-kajian keislaman, peluang infak dan sedekah, tilawah, shalat sunnah, begitu mudah ditemui dan begitu mudah diamalkan. Tempat-tempat hiburan ditutup, acara-acara televise berubah menjadi “tampak” islami, sehingga kita, bahkan tak sempat memikirkan dan melihat kemaksiatan.

Begitu pula, Allah telah memberikan kepada ummat yang diwajibkan berpuasa, dengan kemudahan-kemudahan untuk melakukan amal kebaikan dan kesulitan untuk melakukan kemaksiatan. Amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, dan setan-setan dibelenggu oleh Allah.

Begitulah, Allah telah memberikan pelajaran, pelatihan, sekaligus perjuangan yang sesungguhnya dalam bulan Ramadhan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman—yang mendapatkan kewajiban berpuasa—menjadi orang-orang yang bertakwa.

Dan kemudian, setelah Ramadhan usai, dan Idul Fitri datang, tantangan yang sesungguhnya kembali menghadang. Karena semuanya telah kembali seperti semula. Seperti tatanan pada umumnya. Di sekeliling kita menjadi sekular, tak ada nuansa islam lagi. Acara-acara televisi kembali campur aduk. Tak ada lagi lipat ganda pahala, dan setan-setan dilepaskan kembali. Kemaksiatan menebar kembali di mana-mana.

Mempertahankan selalu lebih sulit daripada mendapatkan. Dan, bertahan dalam kondisi “tidak nyaman” selalu lebih sulit daripada meningkatkan namun dalam kondisi “nyaman”. Dan pada gilirannya, setelah Ramadhan, kita ditantang, untuk mempertahankan kualitas keimanan, ketaqwaan kita, yang telah kita rengkuh sedemikian nikmatnya pada bulan Ramadhan. Namun, kali ini lebih berat, yaitu mempertahankan kualitas ubudiyyah kita dalam keadaan fitri, keadaan yang biasanya, dalam keadaan yang penuh godaan dan cobaan di sekeliling kita, setelah kita mendapatkannya dalam kondisi yang “mudah” di bulan Ramadhan.

Sanggupkah kita?

Cilandak, 7 Syawal 1429

Hifni M. Ariyadi

Oktober 12, 2008 - Posted by | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: