:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

100 Tahun Kebangkitan Nasional di Tengah Penjajahan Internasional

Di tengah hiruk-pikuk 100 tahun kebangkitan nasional, dan kenaikan harga BBM, aku mendengar dan membaca di media massa, semuanya meneriakkan bahwa negeri ini belum sebenar-benarnya merdeka, belum sebenar-benarnya bangkit, dan negeri ini dengan sebenar-benarnya masih terjajah oleh neo kapitalisme, neo liberalisme, neo impeialisme

Bukan lagi bentuk penjajahan fisik dan teritorial sekarang, yang dilakukan oleh para penjajah itu, namun penjajahan ekonomi, penjajahan politik, penjajahan ideologi, penjajahan kebudayaan, dan penjajahan nilai-nilai.

Negeri ini hancur di dalam sebuah ruang negara dengan tata nilai ekonomi yang terjajah, sehingga terus menerus berada di dalam jurang-jurang kemiskinan yang dalam, yang di atas dan di bawahnya tersimpan kekayaan alam yang melimpah. Namun, semua diberikannya secara cuma-cuma kepada para penjajah yang mengaku sahabat baik, yang dengannya tertipulah kita.

Negeri ini hancur dalam sistem tata politik yang mementingkan isi perut gendut masing-masing, sehingga terus menerus berusaha untuk memelihara kebodohan dan kemiskinan pada rakyatnya, agar mudah bagi penjajah, yang merupakan kawan sejati politikus busuk itu, untuk lebih leluasa menancapkan kukunya pada darah dan daging kita, menusuk dalam hingga menembus tulang dan sumsum, sehingga jika dicabut hanya menambah rasa sakit yang luar biasa.

Negeri ini hancur dalam pola kebudayaan yang secara terang-terangan menjiplak mentah-mentah dari nilai-nilai buruk yang dibawa penjajah. Nilai-nilai yang menyenangkan nafsu, dan juga syahwat. Bukannya budaya disiplin, melek teknologi, tekun, gemar membaca, pembelajar, dan rajin yang ditiru, namun budaya materialistik, individualis yang mengarah pada egois, hedonis, dan sekular. Keramah-tamahan menjadi kekerasan, religiusitas menjadi sekular, kejujuran menjadi korupsi.

Semuanya mengatakan dengan kompak, kita belum merdeka!

Namun di saat yang sama, banyak orang yang mengatakan bahwa negeri ini belum merdeka itu, justru beramai-ramai menyodorkan kepala mereka sendiri kepada penjajah-penjajah itu. Dengan setia mereka mengalungkan lehernya kepada penjajah, menyerahkan diri sepenuhnya, sambil berkerja dan memperbudak diri dengan iming-iming upah besar, untuk mengeruk, menguras, dan membabat habis semua kekayaan negeri ini, untuk diserahkan secara cuma-cuma kepada penjajah.

Jika demikian adanya, terus menerus berlangsung, dan tak ada upaya melepaskan diri dari penjajah, dalam semua sisi kehidupan, maka selamanya kita akan meneriakkan bahwa kita belum merdeka!

Selatan Jakarta, Mei-Juni 2008

Juni 20, 2008 - Posted by | Muhasabah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: