:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Cobalah Semuanya, Kecuali Mati!

Cobalah Semuanya, Kecuali Mati!

Baru pertama kali ini saya bergaul dengan orang-orang rig. Sederhananya, orang-orang rig adalah tenaga operator yang tugasnya mengoperasikan rig, seperangkat alat pemboran minyak. Benar-benar orang lapangan murni, yang sejak tamat bangku SMA, mereka kemudian merantau dan akhirnya bertarung untuk mempertahankan hidupnya dengan alat-alat berat, deru mesin-mesin, panas lumpur dan minyak, pipa-pipa bor, dan beratnya resiko – harta maupun jiwa – di lapangan minyak. Kadangkala di tengah hutan, pernah pula di tengah laut, di tengah perkebunan, berkeliling Nusantara, bahkan ada yang pernah menikmati hasil minyak di Brunai Darussalam. Tiga pekan, atau dua pekan sekali mereka pulang ke kampung, entah selama seminggu, dua, atau tiga minggu.

Maka, dengan orang-orang rig semacam itu, tiga dimensi dalam dirinya dapatlah dengan mudah diidentifikasi. Jasadnya hitam legam, gempal, dan kekar. Pikirannya dipenuhi oleh beragam pengalaman berdasar kenekatan, pembelajaran dari keterhimpitan, dengan perwatakan yang cenderung keras karena senantiasa terjepit dari segala arah, namun sangat bisa memahami karakter orang-orang dari berbagai penjuru negeri, kecuali para atasannya yang duduk di perkantoran Jakarta yang kadangkala merangkap sebagai mafia perminyakan. Sedangkan jiwanya, bermacam-macam. Ada yang rajin shalat, ada pula yang menyebut nama Tuhannya hanya ketika selesai makan. Itupun jarang. Dari penampilannya, tentu saja ala tenaga-tenaga kasar pada umumnya. Status ekonominya akan terlihat ba hwa mereka orang yang cukup berduit dari kerjanya menggali sumur minyak hanya ketika mereka mengeluarkan handphone-nya.

Dari beragam cerita pengalamannya selama hidupnya itulah saya kemudian menyadari, bahwa di hampir usia saya yang mendekati seperempat abad ini, belum banyak sisi-sisi dunia yang kuhampiri. Bukan hanya secara geografis saja, namun juga secara sosial, kultural, dan sejenisnya. Memang ada orang yang telah berkeliling berbagai penjuru bumi, namun dalam aktivitas bisnis saja, akademis saja, berdakwah dengan masyarakat muslim perkotaan atau pedesaan saja, atau hanya sekedar mencoba makanan daerah saja. Namun, menemukan orang orang yang pernah tidur di barak para pekerja kasar sekaligus duduk di perkantoran mewah dan menebarkan nilai-nilai kebaikan pada dua tempat tersebut sekaligus, sangatlah jarang.

Di sini, di tengah para tenaga kasar, di kota kecil yang kaya minyak namun tetap melarat ekonominya, saya menemukan nasihat sederhana, di suatu pagi ketika kami hendak mencari sarapan pagi. Dari seorang juru las handal, yang kukenal sebagai orang paling shalih di rig yang kutempati sekarang, bersama seorang operator crane yang pendiam namun murah senyum.

”Selagi kau masih hidup, cobalah semuanya, kecuali mati! Untuk mati, jangan pernah coba! Jangan pernah mencoba untuk mati!” Begitu nasihat sederhananya.

Mencoba. Kata itulah yang benar-benar menempati pikiranku cukup lama di pagi itu. Tentu saja, saya tak boleh menelan nasihat itu secara mentah tanpa pembatasan. Dan saya yakin, juru las handal itu bukan bermaksud menasihatkanku untuk mencoba apa saja tanpa batas.

Dari syarah nasihatnya yang dibeberkan, beliau hanya berharap, dari mencoba semua hal itu, saya menjadi mengerti seluk-beluk kehidupan orang-orang pekerja kasar, sehingga, jika saya menduduki posisi penting versi perusahaan, maka saya dapat memahami kondisi semua lapisan pekerja, dan kemudian bijak dalam pengambilan keputusan, sehingga keputusan itu membawa berkah bagi semuanya.

Maka, setelah nasihat dan syarah sederhana namun dalam itu, segera kutarik kesimpulan yang lebih umum versi tafsir saya. Bahwa saya harus mencoba semua hal, untuk memahami sasaran yang akan kutebarkan nilai-nilai kebaikan padanya, pada semua orang, dari berbagai-bagi jenis orang, dari berbagai strata sosial, pada semua wilayah yang akan kujumpai. Dengan demikian, kita tidak menjadi orang parsial, tak pula hidup monoton, yang hidup dengan menebarkan kebaikan pada ’satu jenis’ orang saja, atau hidup dengan satu warna saja. Maka, hidup yang demikian, menjadi apapun kita, yang dihasilkan hanyalah ketidakadilan. Karena dalam diri kita hanya ’satu versi pikiran’ dan satu warna yang kemudian tetaplah polos tak ada corak. Sangat tidak indah jadinya.

Cambai, Prabumulih, 5 Mei 2008

Mei 22, 2008 - Posted by | Lepas...!

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: