:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Buntu

“Menulislah apa yang ingin kau tulis!” Begitulah kata-kata yang banyak muncul dari para lisan penulis-penulis ampuh, ketika ditanya tentang jurus sakti untuk bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang hebat, berbobot, dan disukai pembaca—atau minimal layak baca

Namun, bagi sebagian orang, yang sudah benar-benar (merasa) dirinya tak mampu menulis, ketika diminta, atau mencoba untuk menuliskan apa yang ingin ditulisnya, tentu akhirnya bergumam kesal, “Akupun tak tahu apa yang ingin aku tulis.”

Kebuntuan.

Pikirannya menemui jalan buntu.

Benar-benar tak mampu lagi menghasilkan sebutir ide, apalagi selembar tulisan. Tidak ada inspirasi. Memandang ke depan, yang ditemui adalah jalan buntu. Ke kiri jalan buntu. Ke kanan jalan buntu. Menunduk, tak ada lubang inspirasi di bawah sana. Menengadah, yang dilihatnya adalah atap gelap. Sedangkan begitu menoleh ke belakang, ternyata kemudian diketahui bahwa dirinya bukan hanya sedang menemui jalan buntu, namun juga sedang tersesat. Tak tahu jalan untuk kembali ke posisi semula.

Proses kreatifnya terhenti.

***

Kebuntuan pikiran bukan tidak disengaja. Seringkali, kebuntuan justru dimunculkan oleh diri kita sendiri. Dalam proses kreatif yang kita sedang ingin berada di dalamnya, kita justru banyak membatasi diri. Tentu saja, yang saya maksud adalah pembatasan-pembatasan yang tak masuk akal, atau pembatasan-pembatasan yang sebenarnya tak perlu. Pembatasan yang tak perlu inilah yang kemudian, baik secara disadari atau tidak, justru membuat jalan buntu yang kemudian kita berjalan ke arahnya. Menuju jalan buntu.

Jika sudah mulai berjalan ke arah jalan buntu itu, dalam pembatasan-pembatasan tak bermanfaat itu, maka kemudian secara tiba-tiba kita munculkan sendiri tembok-tembok penghalang yang besar di hadapan kita. Juga di kiri-kanan kita. Atap di atas kita muncukan. Berbalik ke belakang, kita pun sudah menutup jalan untuk kembali. Sehingga belum juga kita menjalani proses kreatif itu, kita terhenti. Terhenti di dalam batas yang kita buat sendiri.

Kemudian yang terjadi adalah kebuntuan.

Buntu.

Tak ada apapun atau siapapun. Kecuali diri kita sendiri yang terkepung dalam benteng-benteng kokoh batasan yang gelap dan pengap. Meronta-ronta dan berteriak-teriak minta tolong. Menggedor-gedor dinding. Hingga kehabisan energi.

Dan akhirnya mati sendiri.

Di tengah kebuntuan, 17 Maret 2008

April 24, 2008 - Posted by | Lepas...!

2 Komentar »

  1. Hallooo Mas……

    Komentar oleh window | Mei 17, 2008 | Balas

  2. Hallo juga…

    Komentar oleh kiaisuper | Mei 22, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: