:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Parkir

Ketika saya mau memarkir kendaraan saya di Jogja Book Fair 2003 bulan lalu, di sebelah saya ada seorang bule yang juga mau memarkir sepeda motor Tiger-nya. Ketika itu, si bule duluan yang dilayani dan diberi karcis. Saya tidak begitu memperhatikan ketika si Bule dan tukang parkir ngomong-ngomong pakai bahasa Inggris. Namun yang membuat saya terkejut adalah ketika si bule memberikan selembar uang sepuluh ribuan, dan si bule nggak mau mengambil kembaliannya, alias diberikan kepada tukang parkir. Berbeda dengan cerita anak-anak, si tukang parkir bukannya menerima uang kembalian yang diberikan padanya. Tapi beliau ini justru buru-buru mengambil kembalian, dan mengejar si bule di tempat parkir motornya. Dan memberikan uang kembaliannya. Rp. 9.500,00.

Saya dikacangi sebentar. Lalu dilayani oleh tukang parkir yang lain. Saya kasih uang receh 500-an. Dalam hati saya bilang, “Kembaliannya Ente ambil aja, deh!”

Melihat kisah itu, saya langsung teringat kisah Aa Gym ketika beliau di Madinah Al Munawwarah. Ketika itu, ada seorang syaikh (pak tua) penjual minyak wangi yang menolak diberi uang. Si Syaikh mengatakan dengan halus bahwa beliau bukan peminta-minta atau pengemis, tetapi beliau adalah penjual minyak wangi. Dan beliau hanya mau menerima uang dari hasil keringatnya berdagang minyak wangi.

Alhamdulillah, kisah serupa tersebut dapat saya temui juga di Jogja, tanpa perlu jauh jauh sampai Madinah Al Munawwarah.

Setidaknya, ada dua hal yang membanggakan dari perilaku tukang parkir tersebut.

Yang pertama adalah kemandirian dan etos kerja yang hebat. Beliau ini pantang menjadi peminta-minta (meskipun sebenarnya diberi), selama beliau masih mampu bekerja, tidak bangga dengan hasil pemberian orang lain tetapi bangga dengan hasil jerih payahnya sendiri. Beliau belajar untuk bisa mandiri dan berdikari, tanpa menggantungkan nasib pada orang lain, baik pemerintah atau penguasa, apalagi bule. Dan pula, ini dilakukan oleh tukang parkir, yang -saya yakin- tidak pernah merasakan duduk di bangku sebuah universitas ternama. Apalagi kuliah di situ. Kalau yang diberi uang itu kita, pasti kita langsung teriak “Yes! Lumayan. Bisa buat beli mie ayam, soto, plus buat fotokopi catatan kuliah”. Itu wajar. Karena kita masih sepenuhnya bergantung pada orang lain dan pihak lain. Sebuah perbedaan etos dan semangat kerja yang pincang pada tingkat pendidikan yang pincang pula.

Yang kedua adalah semangat untuk menjaga citra tukang parkir, dan masyarakat Jogja pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Si tukang parkir, orang yang dimarjinalkan, diremehkan, dan dikelasbawahkan, ternyata memiliki loyalitas dan telah melakukan usaha besar untuk mengubah opini dunia lewat si bule, bahwa Indonesia adalah pekerja keras, jujur, tidak korup, dan seterusnya. Efeknya kecil memang, bila dibandingkan dengan opini yang dibangun penggedhe negeri ini, bahwa negeri ini pemalas, korup, nggragas, nderemis, cluthak, melarat, tukang ngutang dan sejenisnya.

Alhamdulillah, ternyata kita masih punya masyarakat yang berjiwa besar. 500 perak hasil keringat sendiri adalah lebih berharga daripada 9500 rupiah pemberian orang lain. Dan itu dilakukan oleh tukang parkir, yang -saya yakin- tidak pernah merasakan duduk di bangku sebuah universitas ternama. Apalagi kuliah di situ. Sedang kita, mahasiswa, sang pelopor perubahan, yang penuh dengan idealisme membawa perubahan yang lebih baik pada semua aspek kehidupan, justru sedang membangun bersama masyarakat yang curang, pencontek, tidak jujur, hedonis, merusak, dan bergantung teman sebangku kita.

Dan semoga kalimat yang terakhir diatas tidak benar.

 

 

Jogja, 19 Ramadhan 1424 / 14 November 2003

 

September 19, 2007 - Posted by | Lepas...!

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: