:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Pentas Budaya Kita (d/h Fenomena Aktivis Dakwah Masa Kini: Sebuah Otokritik)

          Dalam setahun terakhir ini, setidaknya ada tiga pementasan budaya yang benar-benar membuat saya terkagum-kagum. ‘Ajib jiddan, adalah predikat yang pantas disandang oleh tiga pementasan budaya tersebut. Dan pementasan yang semuanya diselenggarakan di Yogya ini semakin mengukuhkan keadaan bahwa Yogya adalah gudangnya seni dan budaya. Saya sungguh bangga ditakdirkan oleh Allah swt lahir dan dibesarkan di Yogya.

          Yang pertama, adalah pementasan monolog oleh Whani Darmawan yang bertajuk Metanietzsche: Boneka Sang Pertapa. Dipentaskan pada rangkaian acara Parade Puisi Putra Bangsa, 19 Agustus 2006 di Monumen SO 1 Maret 1949. Secara umum, parade puisi ini sungguh menakjubkan. Namun, penampilan Whani yang berisikan kritik tajam tentang potret buram kondisi keberagamaan di Indonesia ini, mampu membuat saya kagum dan angkat topi setelah pertunjukan hebat ini usai. Bahkan, penampilan para penyair kebanggaan saya di pentas itu – Emha Ainun Nadjib,  Taufiq Ismail, dan tak lupa WS. Rendra – menjadi seolah luput dari perhatian saya.

          Yang kedua, tentu saja lebih hebat dari pementasan Whani, adalah pentas teater Kiai Kanjeng pada refleksi setahun gempa Yogya, Sabtu 26 Mei 2007 di pelataran JEC. Karena saya datang terlambat, saya tidak tahu apa judul teater tersebut. Pementasan ini menggambarkan kesalahkaprahan masyarakat di negeri ini dalam melihat dan memaknai musibah gempa yang terjadi setahun sebelumnya. Juga, secara tajam mengkritik birokrat yang justru bahagia di atas penderitaan orang lain. Berebut proyek, tentu saja. Pasca gempa bagi sebagian kalangan birokrat adalah semacam bancakan yang ramai-ramai diperebutkan untuk mengenyangkan perut gendut mereka dan menumpulkan akal dan hati mereka. Yang membuat lebih menarik, tentu saja iringan musik khas komposisi orkestra Kiai Kanjeng. Pementasan ini ditutup dengan sedikit pemaknaan dan  muhasabah oleh Emha Ainun Nadjib dan lengkingan permainan biola Idris Sardi yang menggetarkan, yang juga diiringi musik khas komposisi orkestra Kiai Kanjeng.

          Yang ketiga, pastinya adalah best of the best dari pementasan budaya yang pernah saya lihat dalam setahun terakhir. Pementasan ini diselenggarakan Sabtu, 11 Agustus 2007 di lingkungan Fakultas MIPA UGM, bertajuk “Muktamar”. Dilihat dari judulnya saja, penampilan ini sudah terasa menggetarkan. Yang membuat saya kagum, di samping pementasannya yang digarap dengan apik, pementasan ini di mainkan oleh anak-anak muda. Semuanya lebih muda dari saya. Tidak ada pakar teater, budayawan, atau penyair di sini. Tak ada iring-iringan musik orkhestra. Namun penampilannya jauh mengungguli Whani Darmawan, Taufiq Ismail, dan WS. Rendra. Bahkan Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng sekalipun. Bakat seni mereka sungguh luar biasa.

          Pentas budaya ini sebenarnya, lebih mirip lenong dalam khasanah budaya Betawi. Pemain dan penonton dapat berperan aktif dalam pentas ini. Penonton dapat menjadi pemain, berkomentar, mengkritisi, dan pulang. Semua boleh datang, namun, tidak semua diundang. Pemainnya, tak kepalang tanggung. Ikhwan dan akhwat. Islam sekali kedengarannya. Setiap mendengar kata itu, saya selalu teringat pesan ustadz saya. Setidaknya ada sepuluh karakter yang membedakan antara kata benda ikhwan dan akhwat dengan cowok dan cewek. Berturut-turut saya menghafalkannya, mulai dari akidahnya selamat, ibadahnya benar, akhlaknya kokoh, hingga yang kesepuluh, memberikan manfaat bagi orang lain.

          Namun, ingat! Ini adalah pentas budaya. Ini adalah teater. Ini sandiwara. Sesuai namanya, sandiwara berasal dari sandhi yang bermakna simbol atau tanda dan warah yang berarti pengajaran dan pendidikan. Jadi kita harus benar-benar cerdas untuk mampu menerjemahkan dan mengambil pelajaran dari simbol-simbol yang tersembunyi. Jangan diambil makna zhahir-nya. Kalau hanya mengambil makna zhahir-nya, bisa-bisa Anda tersesat. Mirip dengan bagaimana kita menyikapi simbol-simbol dalam novel The Da Vinci Code.

          Sayang sekali, saya datang terlambat daam pentas ini. Saya tidak tahu bagaimana kejadian saat layar digulung, dan babak pertama dimulai. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada babak awal. Saat saya tanyakan kepada orang yang tidak lebih terlambat dari saya, ada tilawah? Tidak tahu. Ada taujih atau taushiyah? Tidak ada.

          Mendadak saya jadi ingat. Ini teater! Ini adalah pentas budaya! Wajar saja. Budaya bukan agama. Dan agama bukan budaya. Kalaupun pentas ini diawali dengan tilawah, hampir dipastikan tidak ada hati yang bergetar. Yang bergetar adalah suara si pembaca berikut mushaf yang dipegangnya, karena demam panggung di hadapan penonton dan pemain lain. Bukan tergetar karena yang lain.

          Ini adalah pentas budaya. Maka jangan harap menemukan taujih ataupun taushiyah di dalamnya. Karena taujih dan taushiyah adalah agama, bukan budaya. Tawashaw, saling menasihati,  seperti yang dinasihatkan Allah swt dalam Kitab Suci tidak berlaku di sini. Yang ada di sini –meminjam istilah plesetan dari para santri di pesantren– adalah TawaShow. Tawashaw dalam bahasa Arab bermakna saling menasihati. Sedangkan TawaShow dalam bahasa campuran Indonesia-Inggris bermakna pertunjukan tawa. Dan ternyata benar, pentas ini mampu membuat saya tertawa. Menertawakan diri sendiri. Juga menertawakan diri kita. Simak saja beberapa kisahnya.

          Saat babak ketiga dimulai, seorang pemain akhwat buru-buru naik ke atas panggung dan setelah mengucap salam –tanpa shalawat– lalu berucap layaknya penyanyi dari ibukota “Oke…Langsung saja…Tidak usah banyak cing-cong…!” Saya sontak tertawa. Menertawakan diri. Ada akhwat bilang “cing-cong!” Jarang sekali saya mendengarnya dari seorang yang menyandang gelar akhwat. Akhwat, gitu loh…Please, dech…Oyeaaah! Tapi saya segera sadar diri, bahwa, sekali lagi, ini adalah pentas budaya. Budaya kita , termasuk aktivis-aktivis itu, ternyata telah bergeser pada budaya bicara “Cing-cong”, “Kasian, dech lu!”, “Please, dech!”, “Cape, dech!” dan sederet kalimat-kalimat serupa. Sebuah budaya, yang menurut saya, bercitarasa rendah, kalau memang tidak bisa dikatakan tidak bercitarasa sama sekali.

          TawaShow bertajuk “Muktamar” terus berlanjut. Masuklah pada babak pembahasan tata bahasa dan diksi yang terdapat pada Kitab Hukum Organisasi. Pembahasan menjadi menarik pada saat menyentuh frasa “Waktu Berdiri”. Maksudnya, waktu berdiri Organisasi yang sedang punya hajat itu. Semua penonton dan pemain, ikhwan dan akhwat, mengungkapkan usul diksi terbaik untuk merubah frasa itu, selayaknya pakar ilmu Nahwu dan Sharaf dari Arab sedang berdialog dengan orang Arab Aamiyah. “Waktu Berdiri”, “Waktu Didirikan”, “Waktu Pendirian”, kata sambung “dan”, “atau”, “bertepatan dengan” menjadi bahan diskusi yang membuat urat-urat leher mereka keluar. Dan urat leher saya keluar karena menahan tawa. Inilah budaya kita, yang ternyata belumlah bergeser dari budaya debat kusir, membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar, tidak efisien, pongah, dan sok tahu.

          Setelah istirahat sejenak, budaya-budaya itu masih terus berlanjut. Beranjak pada babak berikutnya, adalah pemilihan Panglima Organisasi. Pada babak ini, yang semula saya prediksikan akan membuat penonton berkomentar “Sungguh sebuah muktamar yang menegangkan!”, “Sebuah penampilan karya seni yang menyentuh!” atau “Anda rugi telah melewatkan pementasan ini begitu saja!” ternyata melenceng. Pemilihan Panglima berlangsung mulus. Sama sekali tidak menegangkan dan menyentuh. Tentu saja ada adegan yang membuat kita tertawa. Karena, sekali lagi, ini adalah TawaShow. Tatkala disebut syarat calon Panglima harus “Ikhwan”, sontak beberapa penonton dari kalangan adam nyeletuk “Aku cowok, lho…! Bukan Ikhwan!” dengan bangganya dan, tentu saja dengan tertawa. Karena ini adalah TawaShow. Begitu bangganya mereka merendahkan martabat dirinya dari seorang Ikhwan menjadi seorang Cowok. Untung saja dari pihak hawa tidak ada yang nyeletuk “Aku cewek, lho…! Bukan Akhwat!” Kalau ini terjadi, hatiku bisa remuk dibuatnya. Budaya kita, termasuk aktivis-aktivis itu, telah bergeser lagi.

          Segera setelah Panglima dipilih, Sang Panglima maju ke panggung, menjadi pemain yang akan menampilkan pidato pertamanya setelah menjadi Panglima. Seperti seorang artis yang baru pertama kali muncul di televisi, Sang Panglima berpidato. Hanya salam untuk pemain dan penonton saja yang diungkapkan. Tak ada hamdalah, apalagi shalawat pada Nabi saw. Langsung ke pokok masalah, persis seperti artis yang sedang konferensi pers untuk mengklarifikasi gosip yang sedang beredar. Mungkin, ini hanya mungkin, Sang Panglima berpikiran bahwa Allah swt tidak turut campur dalam pemilihan ini, dan ini adalah murni kerja keras manusia, bukan Allah swt, apalagi Nabi saw. Mungkin, sekali lagi ini hanya mungkin, bagi Sang Panglima, Nabi saw adalah manusia biasa yang kebetulan diberi wahyu dan dimakshumkan oleh Allah swt. Itu saja. Ditambah lagi, Beliau tidak ada sangkut-pautnya dengan pentas ini.

          Bagi Anda yang tidak hadir, jangan harap bisa berperan seperti penonton. Karena hanya penonton dan pemain yang dapat berkomentar, mengkritisi, dan pulang. Jadi sekalipun Anda titip komentar, usul, dan kritik, dapat dipastikan tidak akan digubris. Karena Anda bukan penonton.

          Dan pentas budaya pun selesai. Layar terkembang lagi, menutup panggung. TawaShow telah usai. 

         Ini adalah pentas budaya. Ini adalah teater. Dan kita harus benar-benar cerdas untuk mampu menerjemahkan dan mengambil pelajaran dari simbol-simbol yang tersembunyi pada pentas budaya itu.

          Ikhwan dan akhwat. Islam sekali kedengarannya. Setiap mendengar kata itu, saya selalu teringat pesan ustadz saya. Setidaknya ada sepuluh karakter yang membedakan antara kata benda ikhwan dan akhwat dengan cowok dan cewek. Berturut-turut saya menghafalkannya, mulai dari akidahnya selamat, ibadahnya benar, akhlaknya kokoh, hingga yang kesepuluh, memberikan manfaat bagi orang lain. 

Condongcatur, 27-29 Rajab 1428

Hifni M. Ariyadi

September 5, 2007 - Posted by | Dakwah, Lepas...!

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: