:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Fenomena Aktivis Dakwah Masa Kini: Sebuah Otokritik

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi hangat dengan teman-teman yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah. tapi saya salut luar biasa karena ini aktivis dakwah sangat kritis melihat beberapa fenomena dikalangan aktivis dakwah yang mulai meluntur nilai-nilai keislaman yang ada dalam dirinya. Atau mungkin juga jamaahnya. Mungkin nggak syakhsiyah daiyah lebih dulu terbentuk daripada syakhsiyyah islamiyyah? Lalu bagaimanakah dampaknya jika ini terjadi?

 

Adab-adab syuro…

Yang ini saya amati beberapa bulan yang lalu bersama seorang teman saya, yang juga mengaku aktivis dakwah. Fenomena unik di kalangan aktivis dakwah. Terjadi di seputar Masjid Kampus UGM. Kalau yang sudah pernah ke Masjid Kampus UGM, akan lebih mudah membayangkan narasi saya. Yang belum pernah, Insya Allah juga bisa membayangkan kira-kira kejadiannya bagaimana.

Sore hari. Dua orang akhwat berjilbab gede, dan dua orang ikhwan duduk berhadapan, melingkar di bawah pohon palem yang ada di halaman sayap utara masjid kampus. Mungkin sedang syuro. Saya dengan teman saya ini, melihat fenomena ini cuma cengengesan. Yang jelas kami yakin bahwa mereka belum menikah. Pasalnya, kalau sudah menikah, pasti posisinya gak berhadapan melingkar. boleh jadi duduk samping kiri-kanan, dan seterusnya. Ini pakai jarak lumayan jauh pada awalnya. Kira-kira 1-1,5 meter lah. Karena saya saya ada keperluan dengan Dimas, saya selesaikan dulu urusan saya. Setelah urusan selesai, entah kenapa, saya liat empat orang tadi. Masya Alloh…! Tambah parah! Posisi duduk ikhwan akhwat semakin kacau. Jaraknya semakin dekat. Lagian itu ikhwan, posisinya bikin kami semakin ngakak. Duduk bersila, memandang si akhwat, dengan siku menempel di paha kaki dan ujung tangan menyangga dagu. Bisa bayangin ga? Basa jawanya songgo wang. Gile bener….

Melihat fenomena ini, dasar aktivis dakwah kurang aktif alias kurang gawean, kami mencoba keliling Masjid ini untuk mencari gejala-gejala aneh macam beginian. Baru sampai pintu utama di sisi timur, ada fenomena lagi. Satu ikhwan, satu akhwat, jadi cuma dua orang. Pas. Duduk menghadap ke timur, dengan jarak kira-kira 1-1,5 meter juga. Asumsi kami, ini sejoli juga belum nikah. Kalau sudah menikah, pasti duduknya lebih dekat, dans seterusnya. Entah yang disyurokan apa….

Kemudian ke selatan. Di sini agak lumayan. masih pakai tiang sebagai pembatasnya. Terus balik ke utara. Ealah, empat orang tadi belum selesai juga!

Lalu kami pulang.

Ini baru fenomena yang saya lihat di suatu sore pada suatu hari di suatu tempat. Ketika saya ceritakan kepada beberapa senior saya, mereka membenarkan. Bahwa ada banyak kasus semacam cerita di atas, yang terjadi di kalangan aktivis dakwah.

 

Suaranya, bikin gemes….

Ini ungkapan teman saya, sebut saja Fulan. Dia juga mengaku dan diakui sebagai aktivis dakwah. Begini cerita dari dia.

Dalam beberapa syuro yang dia temui, dia mengaku sering menemui akhwat gaul. Heran dia. Gaulnya itu, terutama dia tangkap dari gaya bicaranya. Katanya sih, gaya bicaranya di akhwat-akhwatin. Nggak kalah juga, lawan bicaranya, si ikhwan. Si ikhwan ini, meskipun teman-teman di sekelilingnya melabeli dia sebagai ikhwan, tapi gaya ngomongnya… akhwat banget gitu loh! Payah deh….

Ini fenomena saya setujui keberadaannya. Saya juga sering melihat dan mendengar, dalam beberapa komunikasi ikhwan-akhwat, gaya ngomongnya sama. Yang akhwat di akhwat-akhwatin, yang ikhwan juga di akhwat-akhwatin. Setelah saya informasikan ke beberapa senior saya, mereka juga membenarkan.

 

Pada kasus-kasus di atas, Si Fulan memboleh jadikan, bahwa fenomena ini terjadi karena faktor lingkungan yang lebih mendominasi. Boleh jadi, lingkungan sekitar akhwat memang orangnya gaul-gaul. Demikian juga lingkungan si ikhwan. Dan mereka ini tak pernah kembali atau berada pada lingkungan yang sesuai. Namun ini masih boleh jadi.

Boleh jadi juga, ini ikhwan akhwat terlalu sering bertemu, atas nama syuro, kemudian bahasannya ngelantur. Nggak ada tilawah AlQuran plus tadabburnya, nggak ada taushiyah juga. Banyak guyon, nggarapi lawan jenis, dan seterusnya. Dan dua kalimat terakhir ini memang sering terjadi.

Saya sepakat. Kurang ada mekanisme kontrol dari masing-masing individu. Juga dari atasan-atasan para aktivis itu. Kerja dan adab dalam dakwah semakin permisif, dan frekuensinya semakin sering. Payahnya, tidak diimbangi dengan frekunsi pelaksanaan amal-amal ruhiyah yang tinggi pula. Dalihnya selalu saja ada. “Ini kan cuma koordinasi ikhwan-akhwat, bukankah koordinasi harus ada?” Begitu katanya. ”Ini kan cuma guyonan biasa, kita masih tahu batasan kok.” Apa iya? Bagaimanapun juga penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian. Ada lagi yang lebih ngaco, ”Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Masya Allah. Ngomong begitu kepada ustadznya. Gimana, coba?

Sepertinya tidak hanya terjadi di Jogja. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, majalah Tatsqif dari Jakarta juga mengangkat tema ini. Judulnya ATM. Aktivis Tapi Mesra. Yang dibahas lebih dalam. Sampai pada fenomena SMS yang serem-serem itu. Itu baru SMS, belum perkara telepon langsung, atau ketemu langsung.

 

Sempat juga saya diskusi dengan beberapa aktivis yang lain, dan ustadz, berkaitan melunturnya nilai-nilai keislaman dalam diri aktivis dengan adanya fenomena aneh ini. Jumlah aktivis semakin banyak, namun kualitasnya dipertanyakan. Ustadz-ustadzpun turut prihatin atas fenomena ini. Sudah berkali-kali diberi taujih dan taushiyah, e… malah dijawabnya ”Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Bukankah yang haram itu telah jelas, dan yang halal juga telah jelas? Dan diataranya ada syubhat, yang siapa menjauhkan diri dari syubhat, dia telah menjaga agama dan harga dirinya?

Pak Ustadz memberikan titik tolak permasalahannya. Tidak ada semangat untuk kembali ke tarbiyyah. Kalau diminta datang syuro, rajin betul. Apalagi Aksi. Giliran diminta datang kajian, dalihnya Afwan, ada syuro penting. Terlalu lelah. Ada agenda penting. Giliran ada mabit, sama juga alasannya. Giliran ada rihlah, apalagi pakai ikhwan akhwat, semangat lagi. Kan bisa curi-curi pandang. Kalau masih nggak cukup, bisa langsung ketemu ikhwan akhwat, di alam bebas, pake materi koordinasi, nge-fix-kan acara, dan seterusnya. Sekali lagi, penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian.

Pak Ustadz kemudian memberikan solusi sederhana. Kembali ke Tarbiyyah.

Sederhana, bukan?

Jogja, Akhir November 2006

Agustus 29, 2007 - Posted by | Dakwah, Muhasabah

5 Komentar »

  1. Astagfirullahi adzim. Sungguh akhi, saya tidak menyangka sebagian dari aktivis kita sudah lemah sedemikian rupa. Innalillah, ampunilah hamba ya Allah, kuatkanlah hati hamba agar senantiasa lurus dan takkan pernah bebelok arah dari jalanmu.

    Komentar oleh ahmad irfan | Januari 3, 2008 | Balas

  2. jangan su’uzdan dulu lah…! dan jangan meratapi saja. itu kan juga PR antum. jangan sampai antum lupa kalau antum aktivis dakwah juga. kita sama2 faham kalau kondisinya ada yang seperti itu. yang penting kan kita saling jaga supaya tidak terjadi fitnah di kalangan lebih luas yang menimbulkan efek kurang baik untuk dakwah selanjutnya, padahal perjalanan kita masih panjang.

    Komentar oleh Rahmadiyah | Januari 12, 2008 | Balas

  3. jazzakallah atas artikelnya…
    pesan terakhir yang disampaikan juga sangat simpel “Kembali Kepada Tarbiyah” tapi kata2 tersebut sangat mengena bagi kita para aktivis dakwah..
    yang jadi pertannyaan bagi kita semua sudah kah kita menerapkan tarbiyah dalam hidup kita ??? minimal berusaha untuk melaksanakannya.. atau kita sudah sering lupa karena telah disibukkan oleh berbagai aktivitas dakwah???

    Komentar oleh lia_basyakran | Februari 5, 2009 | Balas

  4. HMMM, namanya juga manusia,,,!
    mungkin yang kurang dari Tarbiyah adlah,kepemimmpinan/murobbi yang blum jelas

    Komentar oleh zaqi | Agustus 21, 2009 | Balas

  5. jgn terlalu dipersoalkan akhi, kawinkan saja.

    Komentar oleh muhammad yusuf | April 22, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: