:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Sandal Jepit, Sepatu, Masjid, dan Kampus

      Suatu ketika, saya mendatangi sebuah kampus. Tapi niat saya tidak ke kampus tersebut, tapi ke masjid yang ada di dalam kampus tersebut, untuk menemui teman saya. Saya sendiri, saya akui juga agak ‘gila’. Ke kampus pakai sandal jepit. Dari karet lagi! Sampai digerbang kampus, Pak Satpam dan salah seorang pegawai kampus memanggil saya dari posnya. Saya diinterogasi.

      “Mau ke mana, Mas?” Tanya Pak Satpam.

      “Mau ke masjid, Pak. Mau ketemu sama teman saya!” Jawab saya.

      “Kalau mau masuk tempat ini, nggak boleh pakai sandal! Harus pakai sepatu!” Jelas Pak Satpam beserta pegawai kampus yang saling menambahkan dan mengiyakan. Saya jadi heran.

      “Pak, saya cuma mau ke masjid di dalam, ketemu sama teman saya. Sebentar.” Saya juga jadi menjelaskan keperluan saya.

      Pegawai tersebut jadi agak berang, lalu mengatakan

      “Pokoknya nggak boleh! Ketemu di luar saja! Sudah sana, ditunggu di luar saja!”

      Pegawai itu juga sempat menasihati saya

      “Siapa yang hendak menjaga nama baik dan kehormatan kampus ini, kalau bukan saya dan Anda.”

      Saya juga mau ikut-ikutan berang. tapi sudahlah, dari pada marah-marah di siang bolong yang panas membakar kulit, lebih baik saya keluar. Tidak jadi masuk, dan cuma berucap

      “Makasih, Pak!” Lalu saya keluar.

      Saya menunggu teman saya di luar kampus. Nongkrong di sebuah warung. Heran saya masih belum hilang. Baru kali ini saya dilarang ke masjid gara-gara tidak pakai sepatu. Saya sudah berusaha berpikir positif tentang peristiwa tadi. Tapi tetap saja hasilnya negatif. Mungkin dua bapak tadi berusaha menjunjung tinggi martabat kampusnya. Siapa yang rela harga diri kampusnya diinjak-injak? Saya sendiri tidak rela martabat kampus saya runyam. Tapi, yang bikin saya heran, kenapa martabat kampus harus dijunjung pakai sepatu? Dan saya juga tidak bermaksud menginjak-injak harga diri kampus tersebut dengan sandal jepit karet saya. Karena saya yakin, sandal jepit karet saya tidak akan mampu menurunkan martabat kampus tersebut sedikitpun. Saya jadi berkesimpulan, mungkin Pak Satpam, pegawai kampus tadi, dan orang-orang yang sependapat dengan beliau, cara berpikirnya memang sudah serba terbalik. Beliau berpikiran bahwa sandal jepit karet mampu mengalahkan harga diri sebuah kampus. Atau memang sandal jepit mampu menginjak-injak harga diri kampus karena (bisa jadi) selama ini jati diri kampus dibangun hanya dengan sepatu. Atau mungkin lagi, harga diri kampus tersebut memang sudah (semakin) hancur, dan pihak kampus sudah kehabisan akal untuk membangunnya kembali, sehingga terpaksa membangunnya kembali melalui sepatu, dan kemudian menganggap bahwa sandal jepit karet dapat menghancurkan harga diri kampus serta menjadikan sandal jepit sebagai sebab hancurnya harga diri kampus. Saya jadi semakin heran….

      Akhirnya saya menemukan jalan tengah. Mungkin norma sosial kita memang tidak mengizinkan sandal jepit (karet) hidup di wilayah-wilayah formal. Kampus, kantor, sekolah, dan sebagainya. Dianggap tidak sopan. Tidak etis dan tidak estetis.

      Pikiran saya saya kembali ke masalah semula. Masih juga heran, mengapa dilarang ke masjid gara-gara tidak pakai sepatu. Karena niat saya, seperti sudah saya katakan kepada dua bapak tersebut, adalah ke masjid, ketemu teman saya. Sejauh pemahaman saya, tidak ada dalil yang mewajibkan orang yang hendak ke masjid untuk pakai sepatu. Memang, kalau dalam urusan shalat, shalat pakai sepatu hukumnya boleh. Tetapi, shalat pakai sandal di masjid pun juga boleh. Karena, menurut saya, masjid adalah tempat yang egaliter. Tidak ada perbedaan status sosial, status ekonomi, kesukuan dan warna kulit. Orang miskin yang shalat tanpa alas kaki, maupun orang seperti saya yang hendak ke masjid dengan sandal jepit, semuanya dipersilakan masuk, duduk bersama, menempelkan jidat ke lantai bersama, meski harus berdampingan dengan pejabat yang pakai sepatu boot yang paling gedhe sekalipun. Jidat menempel di lantai, sejajar dengan kaki. Semua adalah sama di hadapan Allah SWT, kecuali ketaqwaannya. Moralitas dan harga diri masjid tidak ditentukan oleh sepatu maupun sandal jepit. Tidak pula oleh biaya yang besar untuk membangunnya. Tetapi ditentukan oleh semangat persaudaraan dan bagaimana fungsi masjid yang sesungguhnya itu diejawantahkan. Sebuah masjid tidak akan menjadi tenar hanya gara-gara semua jamaahnya pakai sepatu, pakaian jas atau safari, dan berjerat dasi. Begitu pula sebuah masjid tidak akan menjadi tidak tenar hanya gara-gara jamaahnya miskin-miskin. Kecuali kalau miskin ilmu, miskin akhlaq, miskin aqidah, plus miskin ibadah. Norma sosial yang berlaku di masjid adalah norma yang berbasis akhlaq. Tidak perlu sepatu ataupun sandal. Semangat bersaudara dijunjung tinggi. Tawashaw bil haq, tawashaw bish shabr, tawashaw bil marhamah adalah sedikit diantara basis moralitas yang dibangun di masjid. Makmum harus taat pada imam, namun imam juga harus bersedia di koreksi oleh makmum, dan makmum harus pula bersedia diluruskan oleh imam.

      Sejauh pemahaman dan pengetahuan saya, dalam peraturan-peraturan kitab fikih klasik maupun kitab hukum dan konstitusi modern, tidak ada yang mewajibkan ke masjid mesti pakai sepatu, kecuali, ya, dua bapak tersebut. Namun, yang membuat kedua bapak tersebut sedikit beruntung adalah karena saat itu saya sudah shalat Dhuhur. Saya tidak tahu apa yang dikatakan kedua bapak itu kalau ketika itu saya belum shalat Dhuhur, kemudian saya katakan

      “Pak, saya cuma mau ke masjid di dalam, mau shalat Dhuhur. Saya belum shalat Dhuhur.”

      Kalau kemudian saya diizinkan untuk shalat di masjid dalam kampus itu, berarti kedua bapak tersebut faham dan mengerti hakikat sandal jepit, sepatu, masjid, dan kampus. Beliau berdua bisa menempatkan sandal jepit, sepatu, masjid, dan kampus secara proporsional. Aturan kampus berarti juga telah dibuat secara proporsional dan realistis. Dan saya yakin kampus tersebut harga dirinya memang tinggi, karena sandal jepit karet saya (memang) tidak mampu menurunkan martabat kampus tersebut sedikitpun. Kalaupun terpaksanya harga diri kampus itu rendah, pasti yang menjadi penyebabnya bukan karena pijakan-pijakan sandal jepit. Sandal jepit terlalu kerdil dan tak cukup kuat untuk mampu merobohkan harga diri kampus segedhe itu yang sudah dibangun dengan biaya mahal, seleksi ketat orang-orang pandai yang hendak studi di kampus tersebut, dan prestasi membanggakan yang telah ditorehkan kampus tersebut.

      Namun, kalau kemudian beliau berdua berkata seperti ucapan pada kejadian saya di atas,

      “Pokoknya nggak boleh masuk! Shalat di masjid lainnya saja! Sudah sana, keluar saja!”

       Saya benar-benar tidak mampu untuk berkomentar.

 

(Hifni Mukhtar Ariyadi)

Condongcatur, 2 Shafar 1426

 

Agustus 26, 2007 - Posted by | Lepas...!

1 Komentar »

  1. sebenarnya itu adalah celakaaaaaa!!!!!

    Komentar oleh Ardiansyah | Oktober 27, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: