:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Memaknai Musibah

            Ada pertanyaan menarik yang diajukan oleh sebagian orang berkaitan sengan musibah gempa bumi melanda Jogja dan sekitarnya. Apakah musibah ini sebagai azab, peringatan, cobaan, ujian, ataukah yang lain? Berkenaan dengan hal ini, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. 

Dari Ummul Mu’minin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Rasulullah Saw bersabda: “Sekelompok pasukan hendak menyerang Ka’bah, ketika itu mereka berada di sebuah tanah lapang, maka mereka dbinasakan sejak bagian depan hingga paling belakang.” Kata Aisyah:”Lalu aku bertanya,’Wahai Rasulullah, mengapa mereka dibinasakan sejak barisan paling depan jingga paling belakang, sedang di antara mereka ada yang sedang berbelanja dan ada pula yang bukan dari golongan mereka?’”Rasulullah Saw menjawab: “Mereka dibinasakan sejak yang paling depan hingga paling belakang, kemudian mereka dibangkitkan menurut niat masing-masing.” 

            Sesungguhnya, hanya Allah Swt yang mengetahui untuk apa bencana ini terjadi, karena Dia-lah yang berkehendak. , Allah Swt menjadikan musibah sebagai azab bagi orang-orang yang ingkar, Allah Swt menjadikan musibah sebagai peringatan bagi orang-orang yang lalai, dan Allah Swt menjadikan musibah sebagai ujian dan cobaan bagi orang-orang yang beriman. Dan semua orang yang menjadi korban dalam musibah ini, maka Allah Swt akan membangkitkannya menurut niat masing-masing. Ada yang beriman dan shalih, ada yang kufur, ada yang lalai, dan adapula anak-anak yang belum dicatatkan amalnya. Lalu dimanakah posisi kita? 

1. Musibah sebagai Azab dari Allah Swt 

           Boleh jadi Allah Swt hendak membersihkan bumiNya dari pelaku kemaksiatan, kesyirikan, dan kekufuran.  ”Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (adzab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. Al Ankabut:4)             Atau Allah ingin membersihkan bumiNya dari orang-orang yang jika dibiarkan hidup, maka mereka hanya akan menyesatkan hamba-hamba Allah, dan hanya melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak mau bersyukur.  

”Dan Nuh berkata Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh: 26-27)

            Kita memohon kepada Allah Swt dari AzabNya yang pedih.

2. Musibah sebagai Peringatan

            Jikalau musibah ini adalah peringatan bagi kita, maka bersyukurlah! Karena Allah Swt masih mau mengingatkan kita. Segeralah bermuhasabah, sudahkah kita mengikhlaskan niat hanya kepada Allah Swt saja, dan bukan yang lain? Ataukan masih ada bibit-bibit riya’ dan sum;ah dalam diri kita? Sudahkah aqidah kita selamat dari segala bentuk penyembahan kepada selain Allah Swt? Sudahkah kita shahihkan segala bentuk ibadah kita dari segala macam bid’ah? Sudahkah kita murnikan akhlak kita dari ’ujub, takabbur, serta dari akhlak syaitan? Sudahkah kita shalih kan dan kuatkan akhlak kita dengan akhlak Rasulullah Saw? 

            Berbahagialah, karena kita masih diingatkan oleh Allah Swt dan masih diberi waktu untuk berbenah dan bertaubat. Maka segeralah mengingatNya, dan segeralah berbenah dan bertaubat            Dan janganlah sekali-kali kita mengabaikan peringatan Allah Swt. Karena ketika kita melalaikan peringatan Allah, maka musibah itu akan menjadi azab bagi kita. ”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS.  Al An’am:44) 

3. Musibah sebagai Ujian

            ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabut:2) 

            Beruntunglah orang-orang yang beriman. Karena musibah ini adalah media ujian untuk kenaikan derajat baginya. Adapun orang-orang yang beriman, beramal shalih dan yang sabar menghadapi ujian ini, maka baginya adalah kedudukan tinggi di hadapan Allah Swt. Dan orang-orang yang beriman, ketika mendapatkan ujian dari Allah Swt, maka ia segera memohon ampunan kepada Allah, bersujud, dan bertaubat kepadaNya

 ”Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.” (QS. Shaad:24)  

           Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beriman, yang sabar menghadapi ujian dan cobaan dariNya. 

Ya Allah, karuniakanlah kesabaran kepada kami dan ilhamkanlah taubat kepada kami.

Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya. 

Jogja, Juni 2006

Agustus 26, 2007 - Posted by | Muhasabah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: