:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Beo

Kau ini burung beo.

Bisa bicara dengan bahasa kami,

Namun tak paham apa yang kau omongkan.

Kesana kemari kau cari pembicaraan penting

Terus kau rekam,

Dan kau putar lagi kepada semua orang,

Lewat moncong paruhmu.

Seolah-olah kaulah yang paling paham.

Padahal kau tak tau apa-apa.

Kosong dalam otakmu.

Tak ada isinya,

Selain sebiji kursi.

 

Jatibarang, 210609

Iklan

Agustus 20, 2009 Posted by | Ekspresi | 2 Komentar

SMS Silaturahim

Tentu saja semua sepakat bahwa silaturahim pastilah membutuhkan pengorbanan. Karena setiap amal membutuhkan pengorbanan.

Dan apapun pengorbanan untuk silaturahim itu, Insya Allah mendapatkan balasan dari Allah.

Dalam Idul Fitri, sudah lumrah di negeri kita untuk silaturahim, baik dengan saling saling mengunjungi ataupun saling berkirim kartu ucapan atau sekedar bertegur sapa lewat SMS.

Dan SMS yang berisi ucapan selamat idul fitri dan serangkaian kata – maupun doa – yang mengikuti di belakangnya adalah salah satu sarana silaturahim, ketika kita tak mampu atau, karena kesibukan kita, tak sempat untuk silaturahim kepada sekian banyak rekan-rekan dan sahabat-saudara kita.

Maka SMS tersebut bukanlah sekedar menghamburkan harta, tetapi adalah bagian dari tad-hiyyah (pengorbanan) dalam silaturahim. SMS tersebut adalah sarana silaturahim, dimana di era sekarang media silaturahim tak hanya dengan bertemu jasad semata dengan muwajjahah (bertatap muka), tetapi juga dengan pertemuan virtual melalui sarana-sarana teknologi, yang tidak mengharuskan adanya muwajjahah di dalamnya.

Jakarta, 7 Syawal 1429

Hifni M. Ariyadi

Oktober 12, 2008 Posted by | Lepas...! | 1 Komentar

Tantangan di Kehadiran Idul Fitri

Kehadiran Idul Fitri adalah buah kemenangan umat islam atas perjuangan selama bulan Ramadhan. Di antara makna idul fitri adalah kembali kepada fitrah, yakni fitrah kehidupan manusia umumnya dan biasanya.

Selama bulan Ramadhan, kita menjalani kehidupan yang tidak biasanya, karena selama satu bulan penuh, kita berpuasa. Berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang biasanya kita amalkan secara rutin pada siang hari, seperti sarapan pagi, makan siang, dan yang lainnya. Juga berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang boleh kita amalkan pada siang hari, seperti berhubungan dengan istri, dan seterusnya. Dan kita menjalankan aktivitas-aktivitas yang tidak biasa kita jalani, seperti makan sahur pada sebelum fajar.

Maka, idul fitri adalah kembalinya ritme kehidupan kita seperti biasanya, seperti manusia pada umumnya. Pola makan, dan juga aktivitas-aktivitas harian kita, kembali seperti semula.

Dalam Idul Fitri pula kembali kita dibukakan pintu-pintu untuk menguji kualitas keimanan dan ketaqwaan kita. Sejauh mana kita mampu mempertahankan – atau bahkan peningkatan lagi – kualitas ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah, atas peningkatan kualitas ubudiyyah yang kita jalankan selama bulan Ramadhan, akan terlihat setelah datangnya Idul Fitri dan berakhirnya Ramadhan.

Sudah menjadi hal yang lumrah, khususnya dinegeri kita, juga di negeri mayoritas muslim, bahwa selama bulan Ramadhan, semua yang ada di sekitar kita, dan juga kita sendiri mengkondisikan sehingga selama bulan puasa itu, semua ibadah dijadikan mudah untuk di amalkan, dan kemaksiatan dijadikan sulit untuk diamalkan, bahkan untuk didekati. Kajian-kajian keislaman, peluang infak dan sedekah, tilawah, shalat sunnah, begitu mudah ditemui dan begitu mudah diamalkan. Tempat-tempat hiburan ditutup, acara-acara televise berubah menjadi “tampak” islami, sehingga kita, bahkan tak sempat memikirkan dan melihat kemaksiatan.

Begitu pula, Allah telah memberikan kepada ummat yang diwajibkan berpuasa, dengan kemudahan-kemudahan untuk melakukan amal kebaikan dan kesulitan untuk melakukan kemaksiatan. Amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, dan setan-setan dibelenggu oleh Allah.

Begitulah, Allah telah memberikan pelajaran, pelatihan, sekaligus perjuangan yang sesungguhnya dalam bulan Ramadhan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman—yang mendapatkan kewajiban berpuasa—menjadi orang-orang yang bertakwa.

Dan kemudian, setelah Ramadhan usai, dan Idul Fitri datang, tantangan yang sesungguhnya kembali menghadang. Karena semuanya telah kembali seperti semula. Seperti tatanan pada umumnya. Di sekeliling kita menjadi sekular, tak ada nuansa islam lagi. Acara-acara televisi kembali campur aduk. Tak ada lagi lipat ganda pahala, dan setan-setan dilepaskan kembali. Kemaksiatan menebar kembali di mana-mana.

Mempertahankan selalu lebih sulit daripada mendapatkan. Dan, bertahan dalam kondisi “tidak nyaman” selalu lebih sulit daripada meningkatkan namun dalam kondisi “nyaman”. Dan pada gilirannya, setelah Ramadhan, kita ditantang, untuk mempertahankan kualitas keimanan, ketaqwaan kita, yang telah kita rengkuh sedemikian nikmatnya pada bulan Ramadhan. Namun, kali ini lebih berat, yaitu mempertahankan kualitas ubudiyyah kita dalam keadaan fitri, keadaan yang biasanya, dalam keadaan yang penuh godaan dan cobaan di sekeliling kita, setelah kita mendapatkannya dalam kondisi yang “mudah” di bulan Ramadhan.

Sanggupkah kita?

Cilandak, 7 Syawal 1429

Hifni M. Ariyadi

Oktober 12, 2008 Posted by | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah | Tinggalkan komentar

STUDI EKSPERIMENTAL MESIN DIESEL BERBAHAN BAKAR GANDA LPG-SOLAR

STUDI EKSPERIMENTAL MESIN DIESEL

BERBAHAN BAKAR GANDA LPG-SOLAR*)

Oleh: Hifni Mukhtar Ariyadi**)

INTISARI

Dua permasalahan penting yang dihadapi dunia saat ini adalah masalah lingkungan, khususnya pencemaran udara karena penggunaan bahan bakar serta krisis bahan bakar minyak (minyak bumi). Solusi agar dapat keluar dari permasalahan tersebut dibutuhkan suatu inovasi tertentu, di antaranya mencari bahan bakar alternatif sebagai substitusi bahan bakar mineral tersebut. Salah satu bahan bakar alternatif yang berpotensi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah bahan bakar gas, di antaranya adalah LPG (Liquefied Petroleum Gas).

Dalam penelitian ini dilakukan pengujian unjuk motor diesel dengan bahan bakar ganda solar dan LPG, meliputi torsi, daya, konsumsi bahan bakar spesifik (spesific fuel consumption), tekanan efektif rata-rata (brake mean effective pressure), dan perbandingan udara dan bahan bakar (air-fuel ratio) pada berbagai variasi kecepatan putaran. Bahan bakar utama yang digunakan pada penelitian ini adalah LPG. Bahan bakar solar digunakan sebagai pemantik pengapian (pilot fuel). Sebagai pembanding, diuji pula unjuk kerj motor diesel yang sama dengan bahan bakar solar saja.

Hasil dan analisa dalam penelitian ini menunjukkan bahwa motor diesel berbahan bakar ganda LPG dan solar mempunyai torsi, daya, dan tekanan efektif rata-rata yang lebih besar pada putaran rendah, dan lebih kecil pada putaran tinggi dibandingkan dengan motor diesel berbahan bakar solar saja. Nilai konsumsi bahan bakar spesifik masing-masing bahan bakar pada pengujian dengan bahan bakar ganda, baik itu LPG dan solar, nilainya tidak menunjukkan perbandingan nilai yang konstan antara LPG dan solar, berbeda dengan mesin berbahan bakar solar saja yang cenderung cekung. Pola grafik perbandingan udara-bahan bakar mesin berbahan bakar solar saja cenderung linier dengan gradien negatif, sedangkan pada mesin berbahan bakar ganda bahan bakar ganda cenderung tidak memiliki pola tertentu.

Kata kunci: mesin diesel, bahan bakar ganda, unjuk kerja

*) Merupakan Judul Skripsi S1 Penulis, selesai pada tahun 2007

**) Penulis adalah Mahasiswa Program Sarjana Teknik Mesin FT UGM 2003 – 2007

Agustus 4, 2008 Posted by | Teknologi | 16 Komentar

Apa Makanan Kesukaanmu?

Apa Makanan Kesukaanmu?

Itulah Pertanyaan yang paling kubenci dalam setiap mengisi data-data, apapun itu. Saya lebih suka – dan lebih mudah – menjawab jika pertanyaan itu di negasikan. Apa makanan yang tidak kau suka?

Perihal makanan kesukaan dan ketidaksukaan, sejatinya saya itu lebih banyak sukanya daripada tidak sukanya. Asalkan memenuhi persyaratan halal dan thoyyib.

Dalam Al Quran, Alloh lebih banyak memberikan daftar-daftar makanan yang haram dan tidak thoyyib. Artinya, makanan halal itu lebih banyak daripada makanan yang haram. Semuanya halal kecuali yang disebutkan sebagai makanan haram. Sebagaimana logika “kecuali” dalam ayat Al Quran yang lain, misalnya dalam Surah Al Ashr, bahwa semua orang itu berada dalam kerugian, kecuali yang memenuhi syarat sebagaimana dalam ayat tiga surah tersebut.

Dalam hal selera ini, khususnya makanan, saya pun ternyata demikian. Saya justru lebih banyak makanan yang suka ketimbang yang tidak suka. Jadi lebih mudah bagi saya untuk menyebutkan makanan yang tidak saya suka.

***

Ataukah yang dimaksud makanan kesukaan adalah makanan yang paling disuka? Sehingga jawabannya harus satu? Sebagaimana makanan kesukaan Rasulullah SAW adalah paha kambing depan bagian kiri. Kalau ini yang dimaksud, maka makanan kesukaan, bagi saya selalu berganti-ganti, karena selalu saja ada kebosanan dalam setiap menu makanan yang selalu itu-itu saja. Maka tak mungkin saya selalu suka nasi goreng, yang sehingga kapanpun saya mampu membeli atau membuat nasi goreng, maka menu saya adalah nasi goreng. Ada kalanya saya menjadi ingin makan nasi goreng, namun suatu saat pun saya menjadi bosan makan dengan menu nasi goreng, dan justru keranjingan dengan gudeg. Dan begitu menu gudeg menjadi jenuh, maka saya akan beralih ke menu-menu yang lain yang saya suka. Kecuali, ya, menu-menu yang tidak saya suka, saya berusaha untuk tidak menuju ke menu itu, kecuali dalam keadaan darurat yeng memang menuntut saya untuk makan dengan menu yang tidak saya suka itu.

Cilandak, 29 Rajab 1429 H

Agustus 1, 2008 Posted by | Uncategorized | 3 Komentar

Memandang Dunia

Dari Abdullah ra., dari Nabi saw, beliau bersabda, “Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia seperti seorang pengembara,” beliau bersabda, “di bawah lindungan pohon pada hari yang panas, kemudian ia pergi pada sore hari dan meninggalkannya.”

(HR. Imam Ahmad, dalam kitab Az-Zuhd)

Dalam memandang dunia, manusia berbeda-beda sikapnya. Tergantung pula kepada pemahaman dan kapasitas keilmu-arifan yang dimilikinya.

Ada manusia yang menganggap dunia ini adalah kesenangan dan satu-satunya kehidupan dalam dirinya. Sehingga dia melakukan apa saja yang menyenangkan bagi dirinya, karena tak mungkin lagi dia mendapatkan “dunia” yang sama ataupun lain setelah dia mati. Kesenangan dan kesuksesan di dunia saja yang diharapkan dan dilakukannya.

Ada manusia yang menganggap dunia adalah tempat bersenang-senang sebelum memasuki alam kubur. Dia yakin bahwa akhirat ada, namun yang dilakukannya adalah menunda pertaubatan dan amal-amal kebaikannya seolah-olah dia sendirilah tuhan, yang menentukan hidup-matinya. Maka, yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan nafsunya sebanyak mungkin.

Dan Sang Manusia Sempurna, telah memilih untuk tidak mau berurusan dengan dunia. Dunia hanyalah bagian dari anak tangga, untuk mempersiapkan pijakan kaki sekuat mungkin agar tidak terjatuh saat mendaki anak tangga hingga anak tangga yang terakhir. Dunia hanyalah tempat berteduh, untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan kembali bekal yang akan dibawa untuk sampai ke tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidupnya.

Ada di posisi manakah kita?

8 Jumadil Akhir 1429

Juni 20, 2008 Posted by | Dakwah, Muhasabah | Tinggalkan komentar

Dunia Dakwah yang Belum Tersentuh

Adalah sebuah hal yang menakjubkan sekaligus menantang ketika kita ternyata tiba-tiba menghadapi, dan berada dalam sebuah dunia baru, dunia yang sebelumnya tak pernah kita bicarakan dalam diskusi-diskusi halaqoh, tak pernah kita lihat dalam acara-acara televisi, dan tak pernah kita dengar dalam ceramah-ceramah maupun siaran di radio.

Maksud saya tentang hal yang menantang adalah tentu saja bagaimana kita harus belajar cepat beradaptasi dengan, kalaupun pernah kita bicarakan, diskusikan, dan lihat, kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kultur dimana kita dibesarkan. Tantangan kedua adalah bagaimana kita, dengan proses adaptasi yang menuntut waktu secepat-cepatnya agar bisa segera sesuai dan diterima masyarakat sekitar kita, kita harus menyebarkan nilai-nilai kebaikan sekaligus memelihara nilai-nilai kebaikan itu, minimal dalam diri kita sendiri. Lebih menantang lagi, jika dalam proses-proses itu, yaitu – dalam istilah saya – adaptasi, propagasi, dan maintenance kebaikan, kita berada dalam segala keterbatasan. Akses komunikasi, transportasi, dan bahkan akses tarbiyah yang sangat terbatas sekaligus tuntutan-tuntutan agar kita tetap bisa hidup terus menghimpit kita ditengah-tengah kewajiban kita untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan sebanyak mungkin, bahkan jika mampu, membinanya dan mentarbiyahnya menjadi bagian dari generasi yang kita harapkan.

Sebuah, atau beberapa buah objek dakwah telah mananti kita, dalam suatu lingkungan yang benar-benar baru, belum pernah tersentuh oleh dakwah, kecuali hanya pada tempat tinggalnya. Itupun belum tentu ada. Sedangkan tempat kerjanya, di lingkungan yang tak pasti dan terus menerus berpindah-pindah, menuntut kita untuk terus bisa bertahan hidup, beradaptasi, memetakan, merencanakan, dan kemudian mengejawantahkannya menjadi amal nyata sebagai wujud nyata partisipasi kita dalam berdakwah. Berdakwah di dunia yang belum tersentuh. Berdakwah di dunia yang berpindah-pindah. Berdakwah di dunia dengan penghuni yang berganti-ganti.

Siapkah kita?

* Sebagai refleksi atas ketergagapanku ketika memasuki dunia lapangan pengeboran minyak *

Prabumulih, 3 Mei 2008


Juni 20, 2008 Posted by | Dakwah, Muhasabah | 1 Komentar