:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Memandang Dunia

Dari Abdullah ra., dari Nabi saw, beliau bersabda, “Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia seperti seorang pengembara,” beliau bersabda, “di bawah lindungan pohon pada hari yang panas, kemudian ia pergi pada sore hari dan meninggalkannya.”

(HR. Imam Ahmad, dalam kitab Az-Zuhd)

Dalam memandang dunia, manusia berbeda-beda sikapnya. Tergantung pula kepada pemahaman dan kapasitas keilmu-arifan yang dimilikinya.

Ada manusia yang menganggap dunia ini adalah kesenangan dan satu-satunya kehidupan dalam dirinya. Sehingga dia melakukan apa saja yang menyenangkan bagi dirinya, karena tak mungkin lagi dia mendapatkan “dunia” yang sama ataupun lain setelah dia mati. Kesenangan dan kesuksesan di dunia saja yang diharapkan dan dilakukannya.

Ada manusia yang menganggap dunia adalah tempat bersenang-senang sebelum memasuki alam kubur. Dia yakin bahwa akhirat ada, namun yang dilakukannya adalah menunda pertaubatan dan amal-amal kebaikannya seolah-olah dia sendirilah tuhan, yang menentukan hidup-matinya. Maka, yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan nafsunya sebanyak mungkin.

Dan Sang Manusia Sempurna, telah memilih untuk tidak mau berurusan dengan dunia. Dunia hanyalah bagian dari anak tangga, untuk mempersiapkan pijakan kaki sekuat mungkin agar tidak terjatuh saat mendaki anak tangga hingga anak tangga yang terakhir. Dunia hanyalah tempat berteduh, untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan kembali bekal yang akan dibawa untuk sampai ke tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidupnya.

Ada di posisi manakah kita?

8 Jumadil Akhir 1429

Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Muhasabah | | No Comments Yet

Dunia Dakwah yang Belum Tersentuh

Adalah sebuah hal yang menakjubkan sekaligus menantang ketika kita ternyata tiba-tiba menghadapi, dan berada dalam sebuah dunia baru, dunia yang sebelumnya tak pernah kita bicarakan dalam diskusi-diskusi halaqoh, tak pernah kita lihat dalam acara-acara televisi, dan tak pernah kita dengar dalam ceramah-ceramah maupun siaran di radio.

Maksud saya tentang hal yang menantang adalah tentu saja bagaimana kita harus belajar cepat beradaptasi dengan, kalaupun pernah kita bicarakan, diskusikan, dan lihat, kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kultur dimana kita dibesarkan. Tantangan kedua adalah bagaimana kita, dengan proses adaptasi yang menuntut waktu secepat-cepatnya agar bisa segera sesuai dan diterima masyarakat sekitar kita, kita harus menyebarkan nilai-nilai kebaikan sekaligus memelihara nilai-nilai kebaikan itu, minimal dalam diri kita sendiri. Lebih menantang lagi, jika dalam proses-proses itu, yaitu – dalam istilah saya – adaptasi, propagasi, dan maintenance kebaikan, kita berada dalam segala keterbatasan. Akses komunikasi, transportasi, dan bahkan akses tarbiyah yang sangat terbatas sekaligus tuntutan-tuntutan agar kita tetap bisa hidup terus menghimpit kita ditengah-tengah kewajiban kita untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan sebanyak mungkin, bahkan jika mampu, membinanya dan mentarbiyahnya menjadi bagian dari generasi yang kita harapkan.

Sebuah, atau beberapa buah objek dakwah telah mananti kita, dalam suatu lingkungan yang benar-benar baru, belum pernah tersentuh oleh dakwah, kecuali hanya pada tempat tinggalnya. Itupun belum tentu ada. Sedangkan tempat kerjanya, di lingkungan yang tak pasti dan terus menerus berpindah-pindah, menuntut kita untuk terus bisa bertahan hidup, beradaptasi, memetakan, merencanakan, dan kemudian mengejawantahkannya menjadi amal nyata sebagai wujud nyata partisipasi kita dalam berdakwah. Berdakwah di dunia yang belum tersentuh. Berdakwah di dunia yang berpindah-pindah. Berdakwah di dunia dengan penghuni yang berganti-ganti.

Siapkah kita?

* Sebagai refleksi atas ketergagapanku ketika memasuki dunia lapangan pengeboran minyak *

Prabumulih, 3 Mei 2008


Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Muhasabah | | No Comments Yet

Berkata Baik Atau Diam

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas tampaknya sederhana, mudah diamalkan.

Dan memang demikianlah adanya. Hadits diatas sangatlah sederhana, dan mudah diamalkan. Berkata-kata yang baik, atau memilih diam, adalah mudah bagi semua orang. Begitupun dengan memuliakan tetangga dan memuliakan tamu, adalah perkara yang sederhana, yang seharusnya bias dilakukan oleh semua muslim.

Amalan-amalan tersebut hanya sulit dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai komitmen terhadap agamanya, tidak mempunyai komitmen terhadap sunnah Rasulullah saw.

Setelah mengetahui isi hadits tersebut maka kewajiban selanjutnya adalah mengamalkan dan mendakwahkan isi hadits tersebut, dengan penuh keikhlasan dan keimanan.

***

Aku terkejut, bahwa ternyata aku sendiri hampir saja melupakan hadits itu.

Berada di lingkungan dengan orang-orang yang berperangai cenderung keras dan (cenderung) jauh dari nilai agama, tentu diperlukan kehati-hatian dalam berdakwah. Namun kehati-hatian telah kuterjemahkan menjadi kelambanan, dan tak ada nilai substantif dari apa-apa yang kukatakan. Perkataan yang baik menjadi perkataan yang hambar dan tanpa makna. Dan akhirnya aku hanya menjadi aku untuk diriku sendiri, tanpa ada nilai-nilai kebaikan yang mampu kusebarkan ke orang-orang di sekitarku.

Ingatanku justru digedor-gedor secara tak sengaja oleh seorang mantan santri. Benar-benar mantan santri! Kini dia sudah menjadi orang yang, menurut dia sendiri, adalah orang yang salah pergaulan, hingga menjadikan status santrinya menjadi ”mantan”.

Di radio handy talky, pada suatu siang di saat rekan-rekan kami bercanda tak bermutu, maka secara tiba-tiba si mantan santri itu, mengucapkan dengan fasih bunyi hadits ke lima belas Arba’in An-Nawawiyyah itu. Aku kaget alang-kepalang. Dia masih begitu lancar melafalkan hadits itu. Aku coba-coba sendiri untuk melafalkankan dalam hatiku, apakah aku masih menghafalnya dengan baik. Ternyata perlu waktu lama untuk kembali memperbaiki ingatanku akan hadits ini. Hadits yang sederhana namun kaya makna.

Dan di sini, aku sendiri belum mampu menjaga kebaikan-kebaikan yang ada pada diriku. Tarbiyah Dzatiyah, dan Ri’ayah Ma’nawiyah masih perlu digembleng habis-habisan di dunia yang terasing ini. Maka belum pula mampu aku mengatakan kebaikan kepada mereka. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali. Belum mampu aku mengajak dengan lisanku untuk mengamalkan kebaikan, apa lagi menghindari kemaksiatan yang sering mereka lakukan secara terang-terangan. Yang ada hanyalah perkataan hambar tak bermakna, dan amal-amal individu yang aku sendiri tetap berharap semoga ada pancaran kebaikan darinya. Pancaran kebaikan yang terus menyinari hati-hati orang-orang di sekitarku. Semoga.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, karuniakanlah kesabaran kepada kami dan ilhamkanlah taubat kepada kami

Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.

Siak, Riau, Juni 2008


Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah | | No Comments Yet

100 Tahun Kebangkitan Nasional di Tengah Penjajahan Internasional

Di tengah hiruk-pikuk 100 tahun kebangkitan nasional, dan kenaikan harga BBM, aku mendengar dan membaca di media massa, semuanya meneriakkan bahwa negeri ini belum sebenar-benarnya merdeka, belum sebenar-benarnya bangkit, dan negeri ini dengan sebenar-benarnya masih terjajah oleh neo kapitalisme, neo liberalisme, neo impeialisme

Bukan lagi bentuk penjajahan fisik dan teritorial sekarang, yang dilakukan oleh para penjajah itu, namun penjajahan ekonomi, penjajahan politik, penjajahan ideologi, penjajahan kebudayaan, dan penjajahan nilai-nilai.

Negeri ini hancur di dalam sebuah ruang negara dengan tata nilai ekonomi yang terjajah, sehingga terus menerus berada di dalam jurang-jurang kemiskinan yang dalam, yang di atas dan di bawahnya tersimpan kekayaan alam yang melimpah. Namun, semua diberikannya secara cuma-cuma kepada para penjajah yang mengaku sahabat baik, yang dengannya tertipulah kita.

Negeri ini hancur dalam sistem tata politik yang mementingkan isi perut gendut masing-masing, sehingga terus menerus berusaha untuk memelihara kebodohan dan kemiskinan pada rakyatnya, agar mudah bagi penjajah, yang merupakan kawan sejati politikus busuk itu, untuk lebih leluasa menancapkan kukunya pada darah dan daging kita, menusuk dalam hingga menembus tulang dan sumsum, sehingga jika dicabut hanya menambah rasa sakit yang luar biasa.

Negeri ini hancur dalam pola kebudayaan yang secara terang-terangan menjiplak mentah-mentah dari nilai-nilai buruk yang dibawa penjajah. Nilai-nilai yang menyenangkan nafsu, dan juga syahwat. Bukannya budaya disiplin, melek teknologi, tekun, gemar membaca, pembelajar, dan rajin yang ditiru, namun budaya materialistik, individualis yang mengarah pada egois, hedonis, dan sekular. Keramah-tamahan menjadi kekerasan, religiusitas menjadi sekular, kejujuran menjadi korupsi.

Semuanya mengatakan dengan kompak, kita belum merdeka!

Namun di saat yang sama, banyak orang yang mengatakan bahwa negeri ini belum merdeka itu, justru beramai-ramai menyodorkan kepala mereka sendiri kepada penjajah-penjajah itu. Dengan setia mereka mengalungkan lehernya kepada penjajah, menyerahkan diri sepenuhnya, sambil berkerja dan memperbudak diri dengan iming-iming upah besar, untuk mengeruk, menguras, dan membabat habis semua kekayaan negeri ini, untuk diserahkan secara cuma-cuma kepada penjajah.

Jika demikian adanya, terus menerus berlangsung, dan tak ada upaya melepaskan diri dari penjajah, dalam semua sisi kehidupan, maka selamanya kita akan meneriakkan bahwa kita belum merdeka!

Selatan Jakarta, Mei-Juni 2008

Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Muhasabah | | No Comments Yet

Untuk Pemuda dan Mahasiswa

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap keangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.” (Hasan Al-Banna)

Sejarah telah membuktikan, bahwa tonggak peubahan dan kebangkitan ada di tangan para pemuda. Hal ini berlaku untuk segala macam perubahan, termasuk di dalamnya adalah dakwah dan kebangkitan Islam. Dari sisi manapun, pemuda merupakan asset penting dalam sebuah perubahan.

Tentunya, untuk sebuah perubahan menuju kepada kebangkitan, di samping mensyaratkan adanya pemuda, juga perlu adanya syarat-syarat pendukung, agar perubahan itu berjalan menuju ke arah positif, ke arah perbaikan dan bukan sebaliknya, ke arah kehancuran.

Di antara syarat syarat yang diperlukan agar pemuda menjadi agen perubahan adalah adanya rasa keimanan yang kuat, keikhlasan dalam berjuang di jalannya, bersemangat dalam merealisasikannya, kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya.

Akan tetapi satu hal penting yang menjadi asas fundamental dalam persyaratan itu semua adalah pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap dakwah dan Islam. Tanpa adanya pemahaman yang sempurna, maka, seorang pemuda hanya akan menjadi agen perubahan yang tidak seimbang di sana-sini, jalannya timpang, dan perubahan yang terjadi adalah perubahan yang tidak utuh dan parsial.

Pemahaman yang harus diketahui oleh setiap pemuda yang mendedikasikan dirinya sebagai agen perubahan dan kebangkitan Islam adalah pemahaman dan keyakinan akan fikrah yang benar. Fikrah itu adalah Islam yag hanif, sempurna, dan tanpa cacat, dan bersih tidak terkotori oleh ideologi-ideologi lainnya. Selain itu, perlu pemahaman akan tujuan dan tahapan-tahapan dakwah Islam, berikut sarana-sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Tujuan-tujuan tersebut harus diketahui sejara jelas, mulai dari perbaikan individu menjadi individu muslim yang benar-benar muslim dari berbagai sisi, baik itu akidahnya, pemikirannya, ibadahnya, dan akhlaknya, hingga tujuan yang paling besar yang harus dipahami dengan baik yaitu berkibarnya panji Islam memenuhi jagad raya, serta mendakwahkannya kepada seluruh alam.

Pemahaman berikutnya, adalah peahaman yang benar bahwa perubahan yang harus dilakukan haruslah menyeluruh. Tahapan dan sarana yang ada juga harus menyeluruh dan seimbang, tidak boleh berat sebelah. Adalah salah, jika hanya membatasi pada permasalahan ibadah saja, adalah salah pula, ketika menganggap perubahan hanya bisa dilakukan pada aspek ideologi saja, di mana hanya menyerukan pada satu ideologi buatan manusia, seperti nasionalisme sempit, rasialisme, dan pembedaan status sosial.

Setelah memahami secara utuh danmenyeluruh dari karakter-karakter berikut tujuan dan sarana darifikrah Islam yang hanif tersebut, maka amal pertama yang harus dilakukan adalah menyampaikan kepada manusia tentang risalah Islam ini secara utuh dan sempurna pula, tanpa menambahi dan menguranginya. Disamping itu dalam tataran praktis, perubahan perubahan harus mulai digerakkan, untuk menegakkan nilai-nilai Islam pada berbagai sektor dan dimensi yang ada dalam masyarakat secara bertahap dan berkesinambungan. Sektor politik, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya harus dapat terayomi dengan nilainilai Islam.

Setiap orang yang berjuang, pasti membutuhkan perbekalan. Begitu pula setiap orang yang akan berjuang dalam perubahan menuju kebangkitan Islam. Perbekalan tersebut adalah keimanan yang tulus, dalam dan kuat. Disamping itu, yang juga menjadi perbekalan utama adalah jihad, kesungguhan, dan pengorbanan.

Hal itulah yang menjadi dasar-dasar utama yang harus diketahui oleh pemuda, sebagai agen perubahan dan kebangkitan, agar dapat melakukan kerja yang sempurna untuk mewujudkan kebangkitan dan perubahan menuju ke


arah kebaikan.

Wallahu A’lam.

Diringkas dari buku Majmu’atur Rasail karya Hasan Al-Banna

Bab Kepada Para Pemuda dan Secara Khusus Kepada Para Mahasiswa

Oleh Hifni M. Ariyadi

23 Ramadhan 1428

Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam | | No Comments Yet

Cobalah Semuanya, Kecuali Mati!

Cobalah Semuanya, Kecuali Mati!

Baru pertama kali ini saya bergaul dengan orang-orang rig. Sederhananya, orang-orang rig adalah tenaga operator yang tugasnya mengoperasikan rig, seperangkat alat pemboran minyak. Benar-benar orang lapangan murni, yang sejak tamat bangku SMA, mereka kemudian merantau dan akhirnya bertarung untuk mempertahankan hidupnya dengan alat-alat berat, deru mesin-mesin, panas lumpur dan minyak, pipa-pipa bor, dan beratnya resiko – harta maupun jiwa – di lapangan minyak. Kadangkala di tengah hutan, pernah pula di tengah laut, di tengah perkebunan, berkeliling Nusantara, bahkan ada yang pernah menikmati hasil minyak di Brunai Darussalam. Tiga pekan, atau dua pekan sekali mereka pulang ke kampung, entah selama seminggu, dua, atau tiga minggu.

Maka, dengan orang-orang rig semacam itu, tiga dimensi dalam dirinya dapatlah dengan mudah diidentifikasi. Jasadnya hitam legam, gempal, dan kekar. Pikirannya dipenuhi oleh beragam pengalaman berdasar kenekatan, pembelajaran dari keterhimpitan, dengan perwatakan yang cenderung keras karena senantiasa terjepit dari segala arah, namun sangat bisa memahami karakter orang-orang dari berbagai penjuru negeri, kecuali para atasannya yang duduk di perkantoran Jakarta yang kadangkala merangkap sebagai mafia perminyakan. Sedangkan jiwanya, bermacam-macam. Ada yang rajin shalat, ada pula yang menyebut nama Tuhannya hanya ketika selesai makan. Itupun jarang. Dari penampilannya, tentu saja ala tenaga-tenaga kasar pada umumnya. Status ekonominya akan terlihat ba hwa mereka orang yang cukup berduit dari kerjanya menggali sumur minyak hanya ketika mereka mengeluarkan handphone-nya.

Dari beragam cerita pengalamannya selama hidupnya itulah saya kemudian menyadari, bahwa di hampir usia saya yang mendekati seperempat abad ini, belum banyak sisi-sisi dunia yang kuhampiri. Bukan hanya secara geografis saja, namun juga secara sosial, kultural, dan sejenisnya. Memang ada orang yang telah berkeliling berbagai penjuru bumi, namun dalam aktivitas bisnis saja, akademis saja, berdakwah dengan masyarakat muslim perkotaan atau pedesaan saja, atau hanya sekedar mencoba makanan daerah saja. Namun, menemukan orang orang yang pernah tidur di barak para pekerja kasar sekaligus duduk di perkantoran mewah dan menebarkan nilai-nilai kebaikan pada dua tempat tersebut sekaligus, sangatlah jarang.

Di sini, di tengah para tenaga kasar, di kota kecil yang kaya minyak namun tetap melarat ekonominya, saya menemukan nasihat sederhana, di suatu pagi ketika kami hendak mencari sarapan pagi. Dari seorang juru las handal, yang kukenal sebagai orang paling shalih di rig yang kutempati sekarang, bersama seorang operator crane yang pendiam namun murah senyum.

”Selagi kau masih hidup, cobalah semuanya, kecuali mati! Untuk mati, jangan pernah coba! Jangan pernah mencoba untuk mati!” Begitu nasihat sederhananya.

Mencoba. Kata itulah yang benar-benar menempati pikiranku cukup lama di pagi itu. Tentu saja, saya tak boleh menelan nasihat itu secara mentah tanpa pembatasan. Dan saya yakin, juru las handal itu bukan bermaksud menasihatkanku untuk mencoba apa saja tanpa batas.

Dari syarah nasihatnya yang dibeberkan, beliau hanya berharap, dari mencoba semua hal itu, saya menjadi mengerti seluk-beluk kehidupan orang-orang pekerja kasar, sehingga, jika saya menduduki posisi penting versi perusahaan, maka saya dapat memahami kondisi semua lapisan pekerja, dan kemudian bijak dalam pengambilan keputusan, sehingga keputusan itu membawa berkah bagi semuanya.

Maka, setelah nasihat dan syarah sederhana namun dalam itu, segera kutarik kesimpulan yang lebih umum versi tafsir saya. Bahwa saya harus mencoba semua hal, untuk memahami sasaran yang akan kutebarkan nilai-nilai kebaikan padanya, pada semua orang, dari berbagai-bagi jenis orang, dari berbagai strata sosial, pada semua wilayah yang akan kujumpai. Dengan demikian, kita tidak menjadi orang parsial, tak pula hidup monoton, yang hidup dengan menebarkan kebaikan pada ’satu jenis’ orang saja, atau hidup dengan satu warna saja. Maka, hidup yang demikian, menjadi apapun kita, yang dihasilkan hanyalah ketidakadilan. Karena dalam diri kita hanya ’satu versi pikiran’ dan satu warna yang kemudian tetaplah polos tak ada corak. Sangat tidak indah jadinya.

Cambai, Prabumulih, 5 Mei 2008

Mei 22, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Lepas...! | | No Comments Yet

Buntu

“Menulislah apa yang ingin kau tulis!” Begitulah kata-kata yang banyak muncul dari para lisan penulis-penulis ampuh, ketika ditanya tentang jurus sakti untuk bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang hebat, berbobot, dan disukai pembaca—atau minimal layak baca

Namun, bagi sebagian orang, yang sudah benar-benar (merasa) dirinya tak mampu menulis, ketika diminta, atau mencoba untuk menuliskan apa yang ingin ditulisnya, tentu akhirnya bergumam kesal, “Akupun tak tahu apa yang ingin aku tulis.”

Kebuntuan.

Pikirannya menemui jalan buntu.

Benar-benar tak mampu lagi menghasilkan sebutir ide, apalagi selembar tulisan. Tidak ada inspirasi. Memandang ke depan, yang ditemui adalah jalan buntu. Ke kiri jalan buntu. Ke kanan jalan buntu. Menunduk, tak ada lubang inspirasi di bawah sana. Menengadah, yang dilihatnya adalah atap gelap. Sedangkan begitu menoleh ke belakang, ternyata kemudian diketahui bahwa dirinya bukan hanya sedang menemui jalan buntu, namun juga sedang tersesat. Tak tahu jalan untuk kembali ke posisi semula.

Proses kreatifnya terhenti.

***

Kebuntuan pikiran bukan tidak disengaja. Seringkali, kebuntuan justru dimunculkan oleh diri kita sendiri. Dalam proses kreatif yang kita sedang ingin berada di dalamnya, kita justru banyak membatasi diri. Tentu saja, yang saya maksud adalah pembatasan-pembatasan yang tak masuk akal, atau pembatasan-pembatasan yang sebenarnya tak perlu. Pembatasan yang tak perlu inilah yang kemudian, baik secara disadari atau tidak, justru membuat jalan buntu yang kemudian kita berjalan ke arahnya. Menuju jalan buntu.

Jika sudah mulai berjalan ke arah jalan buntu itu, dalam pembatasan-pembatasan tak bermanfaat itu, maka kemudian secara tiba-tiba kita munculkan sendiri tembok-tembok penghalang yang besar di hadapan kita. Juga di kiri-kanan kita. Atap di atas kita muncukan. Berbalik ke belakang, kita pun sudah menutup jalan untuk kembali. Sehingga belum juga kita menjalani proses kreatif itu, kita terhenti. Terhenti di dalam batas yang kita buat sendiri.

Kemudian yang terjadi adalah kebuntuan.

Buntu.

Tak ada apapun atau siapapun. Kecuali diri kita sendiri yang terkepung dalam benteng-benteng kokoh batasan yang gelap dan pengap. Meronta-ronta dan berteriak-teriak minta tolong. Menggedor-gedor dinding. Hingga kehabisan energi.

Dan akhirnya mati sendiri.

Di tengah kebuntuan, 17 Maret 2008

April 24, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Lepas...! | | & Komentar