:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

STUDI EKSPERIMENTAL MESIN DIESEL BERBAHAN BAKAR GANDA LPG-SOLAR

STUDI EKSPERIMENTAL MESIN DIESEL

BERBAHAN BAKAR GANDA LPG-SOLAR*)

Oleh: Hifni Mukhtar Ariyadi**)

INTISARI

Dua permasalahan penting yang dihadapi dunia saat ini adalah masalah lingkungan, khususnya pencemaran udara karena penggunaan bahan bakar serta krisis bahan bakar minyak (minyak bumi). Solusi agar dapat keluar dari permasalahan tersebut dibutuhkan suatu inovasi tertentu, di antaranya mencari bahan bakar alternatif sebagai substitusi bahan bakar mineral tersebut. Salah satu bahan bakar alternatif yang berpotensi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah bahan bakar gas, di antaranya adalah LPG (Liquefied Petroleum Gas).

Dalam penelitian ini dilakukan pengujian unjuk motor diesel dengan bahan bakar ganda solar dan LPG, meliputi torsi, daya, konsumsi bahan bakar spesifik (spesific fuel consumption), tekanan efektif rata-rata (brake mean effective pressure), dan perbandingan udara dan bahan bakar (air-fuel ratio) pada berbagai variasi kecepatan putaran. Bahan bakar utama yang digunakan pada penelitian ini adalah LPG. Bahan bakar solar digunakan sebagai pemantik pengapian (pilot fuel). Sebagai pembanding, diuji pula unjuk kerj motor diesel yang sama dengan bahan bakar solar saja.

Hasil dan analisa dalam penelitian ini menunjukkan bahwa motor diesel berbahan bakar ganda LPG dan solar mempunyai torsi, daya, dan tekanan efektif rata-rata yang lebih besar pada putaran rendah, dan lebih kecil pada putaran tinggi dibandingkan dengan motor diesel berbahan bakar solar saja. Nilai konsumsi bahan bakar spesifik masing-masing bahan bakar pada pengujian dengan bahan bakar ganda, baik itu LPG dan solar, nilainya tidak menunjukkan perbandingan nilai yang konstan antara LPG dan solar, berbeda dengan mesin berbahan bakar solar saja yang cenderung cekung. Pola grafik perbandingan udara-bahan bakar mesin berbahan bakar solar saja cenderung linier dengan gradien negatif, sedangkan pada mesin berbahan bakar ganda bahan bakar ganda cenderung tidak memiliki pola tertentu.

Kata kunci: mesin diesel, bahan bakar ganda, unjuk kerja

*) Merupakan Judul Skripsi S1 Penulis, selesai pada tahun 2007

**) Penulis adalah Mahasiswa Program Sarjana Teknik Mesin FT UGM 2003 – 2007

Agustus 4, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Teknologi | | & Komentar

Banjir Jawa Tengah—Jawa Timur

Banjir Jawa Tengah—Jawa Timur

 

Dalam sejarah hidup saya, kawasan Ngawi, Madiun, dan Purwodadi tak pernah mengenal yang namanya musibah banjir. Apalagi Banjir bandang hingga menjebol jembatan. Yang ‘terbiasa’ dengan banjir justru wilayah Bojonegoro, Lamongan, Gresik. Itupun hanya sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, di mana daerahnya sangat rendah, dan konturnya ‘nyaris’ datar, sehingga air mengalir sangat ‘susah’ dan  pelan, selain karena jenis tanah yang liat, sehingga sulit ditembus air.

***

Dulu, sebelum tahun 2000,  kawasan Bojonegoro yang sering banjir, adalah daerah Kalitidu, kemudian Kota Bojonegoro, itupun hanya sebelah utara (tepatnya daerah pasar kota, yang dilalui bengawan solo), kemudian Lamongan di sebagian persawahan Babat, Kalitengah, kemudian sebagian kecil Gresik sebelum aliran Bengawan Solo berakhir di Ujung Pangkah.

Solusi untuk menanggulangi banjir di kawasan DAS Bengawan solo sangatlah sederhana. Cukup membuat tanggul dari tanah—warga menyebutnya tangkis— di kedua sisi sungai, kira-kira setinggi atap rumah lebih. Selesai perkara. Tak pernah banjir melanda penduduk. Kalaupun air meluap, itu karena tanggul bolong di sana-sini (seperti di sebagian Babat), atau memang tidak ada tanggul—umumnya di kawasan persawahan. Jika musim hujan, maka air sungai mampu mencapai hampir puncak tanggul—Sebuah pemandangan menarik ketika kita berdiri di puncak tanggul. Sedang jika musim kemarau, benar-benar “tak seberapa airmu”. Lebar sungai menjadi tinggal kurang dari separuhnya, dan di tepinya, jadi lahan persawahan bagi penduduk.

***

Banjir yang melanda kawasan Ngawi, Madiun, dan Purwodadi kali ini tidak mengagetkan saya. Banjir kini bergeser ke kawasan yang lebih tinggi. Tak pernah lagi terdengar berita pesisir utara Jawa Timur dilanda banjir. Terakhir banjir dan longsor melanda Madiun, Magetan, Ngawi, Wonogiri, Grobogan, Purodadi. Di Madiun, arus Kali Madiun mampu menjebol jembatan. Padahal Kali Madiun tidak segede dan sepanjang Bengawan Solo.

***

Sebelum tahun dua ribu, sebelum era reformasi, daerah Ngawi, Madiun, Magetan, Bojonegoro selatan (Pegunungan Kendeng), adalah kawasan hutan. Begitu pula Pegunungan Kapur Utara (Purwodadi, Blora, sampai Tuban). Pemerintah menjadikan kawasan ini sebagai semacam paru-paru bagi Jawa—idealnya sampai sekarang.

Kawasan hutan terbentang luas di wilayah perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur. Kalau Anda melakukan perjalanan dari Jogja ke Surabaya via Sragen – Ngawi, maka hutan dapat dijumpai mulai masuk perbatasan Sragen – Ngawi, Mantingan terus hingga menjelang masuk Kota Ngawi. Ke selatan menuju Madiun, lalu ke timur menuju Caruban, hutan lagi, hingga Nganjuk. Kalau dari Kota Ngawi terus ke timur, akan dijumpai Pertigaan Pos Pemeriksaan  Hasil Hutan. Lurus ke timur sampai ke Caruban, sedang belok kiri sampai Ngraho, kemudian Padangan. Menuju Ngraho, begitu keluar dari Kota dan kabupaten Ngawi, kanan-kiri-depan-belakang adalah bukit-bukit berhutan lebat milik Perhutani. Jarak pandang terbatas, saking lebatnya hutan. Mirip di Gunung Kidul. Pemandangan ini terus saja eksotik hingga masuk Padangan.

Tapi itu dulu….

Setelah era reformasi, selepas tahun 2000 lain lagi kondisinya.

Terakhir, saya melewati kawasan tersebut pada awal Syawal 1428. Mengerikan. Selepas Sragen, tak ada lagi hutan. Benar-benar nyaris gundul. Hanya ada beberapa kawasan yang masih ada pohonnya. Dilihat dari posturnya, masih muda. Namun kondisi kawasan ini belum seberapa. Begitu Ngawi ke belok utara, arah Ngraho dan Padangan, pemandangannya lebih mengerikan lagi. Sejauh mata memandang, hanya ada perbukitan gundul. Benar-benar gundul. Mirip gurun, bukan pasir, tapi tanah. Saya berkata dalam hati ketika melewati kawasan ini. “Pasti banjir, pasti longsor….” Dan ternyata benar.

Sebenarnya, bukan tanpa solusi atas gundulnya hutan di kawasan ini. Di sekitar Monumen Gubernur Suryo, Mantingan, dapat ditemui lokasi pembibitan untuk reboisasi hutan di kawasan ini. Namun ternyata banjir dan longsor lebih dulu menghantam sebelum bibit itu layak tanam.

Lantas, apa penyebab banjir dan longsor itu?

Kalau ada yang memprediksi karena pengaruh global warming sehingga iklim berubah dan mempengaruhi intensitas hujan, kok saya sedikit sangsi. Sepengetahuan saya—Wallahu a’lam—intensitas hujan seperti akhir-akhir ini adalah wajar untuk kawasan tropis seperti negeri ini, di bulan Desember. Hujan deras sepanjang siang dan malam di bulan Desember adalah wajar. Tak heran jika orang-orang Jawa sejak dulu membuat kerata basa untuk Desember adalah gedhe-gedhene sumber dan Januari adalah hujan sehari-hari.

Untuk lokal di kawasan perbatasan Jawa Tengah—Jawa timur itu, saya cenderung memperkirakan, ya, karena hutan gundul itu…

***

Dulu, di era Orde Baru, yang bisa membabat hutan hanyalah yang punya HPH, Hak Pengusahaan Hutan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses hutan. Kalau Anda bukan kroni-kroni  Orde Baru, jangan harap mampu mengakses hutan. Kekuasaan adalah mutlak milik Orde Baru. Terpusat.

Sekarang, siapapun dapat mengakses hutan. Illegal logging bisa dilakukan oleh siapapun, tak perlu akses apapun, tanpa system dan prasyarat apapun. Tak perlu dengan koordinasi terpusat dengan penguasa. Semua bisa jadi penguasa dan berkuasa. Bahkan yang mengaku reformis-pun juga bisa. Kalau tertangkap dan diadili, bisa secara ajaib kemudian bebas dan divonis tak bersalah.

Namun, tak menjadi penting ketika kita hanya mengutuki para penjahat hutan dan lingkungan itu. Biarkan saja mereka. Karena kini, yang tak bersalah apapun atas nasib hutan itu, justru digalak-galakkan untuk menanam satu-sepuluh-seratus-seribu-sejuta pohon. Demi lingkungan, katanya. Memang ada benarnya. Tapi mungkin, juga demi memaafkan para penjahat hutan yang tak kita ketahui nasibnya dan tak bertanggung jawab itu—dan kitalah yang bertanggung jawab. Untuk kasus ini, kita harus bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan kita pelakunya. Dan berbahagialah, karena kita ternyata ‘dianggap’ makhluk bertanggung jawab.

Save Our Earth!

 

 

17.12.1428

Hifni M. Ariyadi

kiaisuper.wordpress.com

***Setelah selesai menulis ini, Jogja TV memberitakan beberapa wilayah di Jogja banjir!***

Desember 28, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Lingkungan, Teknologi | | & Komentar