:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Tantangan di Kehadiran Idul Fitri

Kehadiran Idul Fitri adalah buah kemenangan umat islam atas perjuangan selama bulan Ramadhan. Di antara makna idul fitri adalah kembali kepada fitrah, yakni fitrah kehidupan manusia umumnya dan biasanya.

Selama bulan Ramadhan, kita menjalani kehidupan yang tidak biasanya, karena selama satu bulan penuh, kita berpuasa. Berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang biasanya kita amalkan secara rutin pada siang hari, seperti sarapan pagi, makan siang, dan yang lainnya. Juga berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang boleh kita amalkan pada siang hari, seperti berhubungan dengan istri, dan seterusnya. Dan kita menjalankan aktivitas-aktivitas yang tidak biasa kita jalani, seperti makan sahur pada sebelum fajar.

Maka, idul fitri adalah kembalinya ritme kehidupan kita seperti biasanya, seperti manusia pada umumnya. Pola makan, dan juga aktivitas-aktivitas harian kita, kembali seperti semula.

Dalam Idul Fitri pula kembali kita dibukakan pintu-pintu untuk menguji kualitas keimanan dan ketaqwaan kita. Sejauh mana kita mampu mempertahankan – atau bahkan peningkatan lagi – kualitas ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah, atas peningkatan kualitas ubudiyyah yang kita jalankan selama bulan Ramadhan, akan terlihat setelah datangnya Idul Fitri dan berakhirnya Ramadhan.

Sudah menjadi hal yang lumrah, khususnya dinegeri kita, juga di negeri mayoritas muslim, bahwa selama bulan Ramadhan, semua yang ada di sekitar kita, dan juga kita sendiri mengkondisikan sehingga selama bulan puasa itu, semua ibadah dijadikan mudah untuk di amalkan, dan kemaksiatan dijadikan sulit untuk diamalkan, bahkan untuk didekati. Kajian-kajian keislaman, peluang infak dan sedekah, tilawah, shalat sunnah, begitu mudah ditemui dan begitu mudah diamalkan. Tempat-tempat hiburan ditutup, acara-acara televise berubah menjadi “tampak” islami, sehingga kita, bahkan tak sempat memikirkan dan melihat kemaksiatan.

Begitu pula, Allah telah memberikan kepada ummat yang diwajibkan berpuasa, dengan kemudahan-kemudahan untuk melakukan amal kebaikan dan kesulitan untuk melakukan kemaksiatan. Amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, dan setan-setan dibelenggu oleh Allah.

Begitulah, Allah telah memberikan pelajaran, pelatihan, sekaligus perjuangan yang sesungguhnya dalam bulan Ramadhan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman—yang mendapatkan kewajiban berpuasa—menjadi orang-orang yang bertakwa.

Dan kemudian, setelah Ramadhan usai, dan Idul Fitri datang, tantangan yang sesungguhnya kembali menghadang. Karena semuanya telah kembali seperti semula. Seperti tatanan pada umumnya. Di sekeliling kita menjadi sekular, tak ada nuansa islam lagi. Acara-acara televisi kembali campur aduk. Tak ada lagi lipat ganda pahala, dan setan-setan dilepaskan kembali. Kemaksiatan menebar kembali di mana-mana.

Mempertahankan selalu lebih sulit daripada mendapatkan. Dan, bertahan dalam kondisi “tidak nyaman” selalu lebih sulit daripada meningkatkan namun dalam kondisi “nyaman”. Dan pada gilirannya, setelah Ramadhan, kita ditantang, untuk mempertahankan kualitas keimanan, ketaqwaan kita, yang telah kita rengkuh sedemikian nikmatnya pada bulan Ramadhan. Namun, kali ini lebih berat, yaitu mempertahankan kualitas ubudiyyah kita dalam keadaan fitri, keadaan yang biasanya, dalam keadaan yang penuh godaan dan cobaan di sekeliling kita, setelah kita mendapatkannya dalam kondisi yang “mudah” di bulan Ramadhan.

Sanggupkah kita?

Cilandak, 7 Syawal 1429

Hifni M. Ariyadi

Oktober 12, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah | | No Comments Yet

Memandang Dunia

Dari Abdullah ra., dari Nabi saw, beliau bersabda, “Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia seperti seorang pengembara,” beliau bersabda, “di bawah lindungan pohon pada hari yang panas, kemudian ia pergi pada sore hari dan meninggalkannya.”

(HR. Imam Ahmad, dalam kitab Az-Zuhd)

Dalam memandang dunia, manusia berbeda-beda sikapnya. Tergantung pula kepada pemahaman dan kapasitas keilmu-arifan yang dimilikinya.

Ada manusia yang menganggap dunia ini adalah kesenangan dan satu-satunya kehidupan dalam dirinya. Sehingga dia melakukan apa saja yang menyenangkan bagi dirinya, karena tak mungkin lagi dia mendapatkan “dunia” yang sama ataupun lain setelah dia mati. Kesenangan dan kesuksesan di dunia saja yang diharapkan dan dilakukannya.

Ada manusia yang menganggap dunia adalah tempat bersenang-senang sebelum memasuki alam kubur. Dia yakin bahwa akhirat ada, namun yang dilakukannya adalah menunda pertaubatan dan amal-amal kebaikannya seolah-olah dia sendirilah tuhan, yang menentukan hidup-matinya. Maka, yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan nafsunya sebanyak mungkin.

Dan Sang Manusia Sempurna, telah memilih untuk tidak mau berurusan dengan dunia. Dunia hanyalah bagian dari anak tangga, untuk mempersiapkan pijakan kaki sekuat mungkin agar tidak terjatuh saat mendaki anak tangga hingga anak tangga yang terakhir. Dunia hanyalah tempat berteduh, untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan kembali bekal yang akan dibawa untuk sampai ke tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidupnya.

Ada di posisi manakah kita?

8 Jumadil Akhir 1429

Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Muhasabah | | No Comments Yet

Dunia Dakwah yang Belum Tersentuh

Adalah sebuah hal yang menakjubkan sekaligus menantang ketika kita ternyata tiba-tiba menghadapi, dan berada dalam sebuah dunia baru, dunia yang sebelumnya tak pernah kita bicarakan dalam diskusi-diskusi halaqoh, tak pernah kita lihat dalam acara-acara televisi, dan tak pernah kita dengar dalam ceramah-ceramah maupun siaran di radio.

Maksud saya tentang hal yang menantang adalah tentu saja bagaimana kita harus belajar cepat beradaptasi dengan, kalaupun pernah kita bicarakan, diskusikan, dan lihat, kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kultur dimana kita dibesarkan. Tantangan kedua adalah bagaimana kita, dengan proses adaptasi yang menuntut waktu secepat-cepatnya agar bisa segera sesuai dan diterima masyarakat sekitar kita, kita harus menyebarkan nilai-nilai kebaikan sekaligus memelihara nilai-nilai kebaikan itu, minimal dalam diri kita sendiri. Lebih menantang lagi, jika dalam proses-proses itu, yaitu – dalam istilah saya – adaptasi, propagasi, dan maintenance kebaikan, kita berada dalam segala keterbatasan. Akses komunikasi, transportasi, dan bahkan akses tarbiyah yang sangat terbatas sekaligus tuntutan-tuntutan agar kita tetap bisa hidup terus menghimpit kita ditengah-tengah kewajiban kita untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan sebanyak mungkin, bahkan jika mampu, membinanya dan mentarbiyahnya menjadi bagian dari generasi yang kita harapkan.

Sebuah, atau beberapa buah objek dakwah telah mananti kita, dalam suatu lingkungan yang benar-benar baru, belum pernah tersentuh oleh dakwah, kecuali hanya pada tempat tinggalnya. Itupun belum tentu ada. Sedangkan tempat kerjanya, di lingkungan yang tak pasti dan terus menerus berpindah-pindah, menuntut kita untuk terus bisa bertahan hidup, beradaptasi, memetakan, merencanakan, dan kemudian mengejawantahkannya menjadi amal nyata sebagai wujud nyata partisipasi kita dalam berdakwah. Berdakwah di dunia yang belum tersentuh. Berdakwah di dunia yang berpindah-pindah. Berdakwah di dunia dengan penghuni yang berganti-ganti.

Siapkah kita?

* Sebagai refleksi atas ketergagapanku ketika memasuki dunia lapangan pengeboran minyak *

Prabumulih, 3 Mei 2008


Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Muhasabah | | No Comments Yet

Berkata Baik Atau Diam

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas tampaknya sederhana, mudah diamalkan.

Dan memang demikianlah adanya. Hadits diatas sangatlah sederhana, dan mudah diamalkan. Berkata-kata yang baik, atau memilih diam, adalah mudah bagi semua orang. Begitupun dengan memuliakan tetangga dan memuliakan tamu, adalah perkara yang sederhana, yang seharusnya bias dilakukan oleh semua muslim.

Amalan-amalan tersebut hanya sulit dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai komitmen terhadap agamanya, tidak mempunyai komitmen terhadap sunnah Rasulullah saw.

Setelah mengetahui isi hadits tersebut maka kewajiban selanjutnya adalah mengamalkan dan mendakwahkan isi hadits tersebut, dengan penuh keikhlasan dan keimanan.

***

Aku terkejut, bahwa ternyata aku sendiri hampir saja melupakan hadits itu.

Berada di lingkungan dengan orang-orang yang berperangai cenderung keras dan (cenderung) jauh dari nilai agama, tentu diperlukan kehati-hatian dalam berdakwah. Namun kehati-hatian telah kuterjemahkan menjadi kelambanan, dan tak ada nilai substantif dari apa-apa yang kukatakan. Perkataan yang baik menjadi perkataan yang hambar dan tanpa makna. Dan akhirnya aku hanya menjadi aku untuk diriku sendiri, tanpa ada nilai-nilai kebaikan yang mampu kusebarkan ke orang-orang di sekitarku.

Ingatanku justru digedor-gedor secara tak sengaja oleh seorang mantan santri. Benar-benar mantan santri! Kini dia sudah menjadi orang yang, menurut dia sendiri, adalah orang yang salah pergaulan, hingga menjadikan status santrinya menjadi ”mantan”.

Di radio handy talky, pada suatu siang di saat rekan-rekan kami bercanda tak bermutu, maka secara tiba-tiba si mantan santri itu, mengucapkan dengan fasih bunyi hadits ke lima belas Arba’in An-Nawawiyyah itu. Aku kaget alang-kepalang. Dia masih begitu lancar melafalkan hadits itu. Aku coba-coba sendiri untuk melafalkankan dalam hatiku, apakah aku masih menghafalnya dengan baik. Ternyata perlu waktu lama untuk kembali memperbaiki ingatanku akan hadits ini. Hadits yang sederhana namun kaya makna.

Dan di sini, aku sendiri belum mampu menjaga kebaikan-kebaikan yang ada pada diriku. Tarbiyah Dzatiyah, dan Ri’ayah Ma’nawiyah masih perlu digembleng habis-habisan di dunia yang terasing ini. Maka belum pula mampu aku mengatakan kebaikan kepada mereka. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali. Belum mampu aku mengajak dengan lisanku untuk mengamalkan kebaikan, apa lagi menghindari kemaksiatan yang sering mereka lakukan secara terang-terangan. Yang ada hanyalah perkataan hambar tak bermakna, dan amal-amal individu yang aku sendiri tetap berharap semoga ada pancaran kebaikan darinya. Pancaran kebaikan yang terus menyinari hati-hati orang-orang di sekitarku. Semoga.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, karuniakanlah kesabaran kepada kami dan ilhamkanlah taubat kepada kami

Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.

Siak, Riau, Juni 2008


Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah | | No Comments Yet

100 Tahun Kebangkitan Nasional di Tengah Penjajahan Internasional

Di tengah hiruk-pikuk 100 tahun kebangkitan nasional, dan kenaikan harga BBM, aku mendengar dan membaca di media massa, semuanya meneriakkan bahwa negeri ini belum sebenar-benarnya merdeka, belum sebenar-benarnya bangkit, dan negeri ini dengan sebenar-benarnya masih terjajah oleh neo kapitalisme, neo liberalisme, neo impeialisme

Bukan lagi bentuk penjajahan fisik dan teritorial sekarang, yang dilakukan oleh para penjajah itu, namun penjajahan ekonomi, penjajahan politik, penjajahan ideologi, penjajahan kebudayaan, dan penjajahan nilai-nilai.

Negeri ini hancur di dalam sebuah ruang negara dengan tata nilai ekonomi yang terjajah, sehingga terus menerus berada di dalam jurang-jurang kemiskinan yang dalam, yang di atas dan di bawahnya tersimpan kekayaan alam yang melimpah. Namun, semua diberikannya secara cuma-cuma kepada para penjajah yang mengaku sahabat baik, yang dengannya tertipulah kita.

Negeri ini hancur dalam sistem tata politik yang mementingkan isi perut gendut masing-masing, sehingga terus menerus berusaha untuk memelihara kebodohan dan kemiskinan pada rakyatnya, agar mudah bagi penjajah, yang merupakan kawan sejati politikus busuk itu, untuk lebih leluasa menancapkan kukunya pada darah dan daging kita, menusuk dalam hingga menembus tulang dan sumsum, sehingga jika dicabut hanya menambah rasa sakit yang luar biasa.

Negeri ini hancur dalam pola kebudayaan yang secara terang-terangan menjiplak mentah-mentah dari nilai-nilai buruk yang dibawa penjajah. Nilai-nilai yang menyenangkan nafsu, dan juga syahwat. Bukannya budaya disiplin, melek teknologi, tekun, gemar membaca, pembelajar, dan rajin yang ditiru, namun budaya materialistik, individualis yang mengarah pada egois, hedonis, dan sekular. Keramah-tamahan menjadi kekerasan, religiusitas menjadi sekular, kejujuran menjadi korupsi.

Semuanya mengatakan dengan kompak, kita belum merdeka!

Namun di saat yang sama, banyak orang yang mengatakan bahwa negeri ini belum merdeka itu, justru beramai-ramai menyodorkan kepala mereka sendiri kepada penjajah-penjajah itu. Dengan setia mereka mengalungkan lehernya kepada penjajah, menyerahkan diri sepenuhnya, sambil berkerja dan memperbudak diri dengan iming-iming upah besar, untuk mengeruk, menguras, dan membabat habis semua kekayaan negeri ini, untuk diserahkan secara cuma-cuma kepada penjajah.

Jika demikian adanya, terus menerus berlangsung, dan tak ada upaya melepaskan diri dari penjajah, dalam semua sisi kehidupan, maka selamanya kita akan meneriakkan bahwa kita belum merdeka!

Selatan Jakarta, Mei-Juni 2008

Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Muhasabah | | No Comments Yet

Mereka Tak Tahu Kondisi

Mereka Tak Tahu Kondisi

(Sedikit Refleksi Tahun Baru Masehi 2008)

“Mereka tak tahu kondisi. Membuat kembang api di saat-saat seperti ini.”

(Mr. Satan dalam komik Dragon Ball 41)

Mr. Satan. Salah seorang tokoh dalam komik Dragon Ball karya Akira Toriyama. Ungkapan Mr. Satan dalam komik tersebut senantiasa tengiang dalam benak saya dalam tahun baru Masehi ini. Mr. Satan adalah sosok yang berwatak sok pahlawan, agak sombong, narsis, dan suka mengaku yang terhebat. Tokoh inilah yang memberikan nuansa humor yang menggelitik. Namun demikian, Mr. Satan masih memiliki nilai-nilai kemanusiaan dalam usahanya menciptakan perdamaian di muka bumi. Maka Son Gohan, salah satu tokoh utama dalam komik ini, mengatakan pada Videl, anak Mr. Satan, “Sesungguhnya ayahmu adalah pahlawan sejati.”

***

Indonesia. Tahun 2007 kemarin, diawali dengan musibah dan diakhiri pula dengan musibah. Beruntun musibah menimpa negeri ini sepanjang tahun 2007. Sepanjang tahun.

Namun sepanjang tahun itu pula, tak kunjung ada perubahan kepada yang lebih baik. Belum ada kesadaran dengan sesungguhnya untuk menuju perbaikan. Belum ada kesadaran dengan sesungguhnya bahwa Allah telah menimpakan musibah, entah itu sebagai ujian, ataupun adzab bagi manusia Indonesia. Yang timbul justru kesombongan yang semakin menjadi-jadi, hedonisme yang tak terkendali, dan perilaku jahiliyah yang terus meluas.

Sepanjang tahun 2007, musibah menjadi komoditas ekonomi untuk menghasilkan uang bagi segelintir orang, musibah menjadi objek wisata bagi sebagian orang, yang entah hanya karena ingin tahu, atau menikmati kesenangan di atas penderitaan orang lain. Maka musibah menjadi dipelihara agar terus ada, agar tetap menjadi komoditas ekonomi dan objek wisata gratis yang tidak bernurani.

Agama semakin jauh dari manusia. Manusia semakin menjauhkan diri dari Tuhannya. Tak ada sedikitpun rasa bersalah dan keinginan untuk bertaubat, kecuali hanya sedikit sekali. Syariat agama diinjak-injak. Susah untuk membedakan siapa yang iman siapa yang kafir. Banyak yang mengaku beragama namun perilakunya seperti tak beragama. Banyak yang mengakui adanya Tuhan, namun Tuhan tak pernah disebutnya, bahkan tak pernah ada di dalam hatinya. Banyak yang mengaku manusia namun perilakunya seperti binatang. Dan yang banyak itu, tetap saja bebal, tak peduli dengan kemarahan Tuhan.

Guru-guru ngaji, para ustadz, sepanjang tahun hanya menjadi hiasan hidup belaka. Hanya menjadi komoditas ekonomi. Hanya menjadi sarana mencari pembenaran, bukan kebenaran. Hanya laku di bulan Ramadhan, itupun memilih yang camera-face saja. Tak lebih. Maka manusia lebih suka melihat daging, bukan nasihat. Lebih suka melihat kulit, bukan substansi. Maka pula, penngajian-pengajian itu menjadi tak bermanfaat. Setelah keluar dari pengajian, kembali mereka menggunjing, membuka aurat lebar-lebar, dan mengumbar syahwat sepuasnya. Tuhan ditinggalkan lagi. Semakin jauh.

Manusia menjadi semakin bebal. Semakin bebal.

Dan ditengah musibah yang menimpa manusia Indonesia, banyak yang mengawalai Tahun Baru Masehi 2008 dengan berpesta pora, mengumbar aurat, mengumbar syahwat, pesta kembang api, konser dangdut, dan berderet kemaksiatan lain.

Mari segera bertaubat, mari tutupi keburukan-keburukan dengan kebaikan-kebaikan. Mari segera melakukan perbaikan-perbaikan. Agar Allah berkenan mengangkat derajat kita, mengangkat nasib bangsa kita segera, di tahun 2008 yang menantang!

Ya Allah, karuniakanlah kesabaran kepada kami dan ilhamkanlah taubat kepada kami

Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.

Yogya, 7 Januari 2008

Januari 8, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Muhasabah | | No Comments Yet

Fenomena Aktivis Dakwah Masa Kini: Sebuah Otokritik

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi hangat dengan teman-teman yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah. tapi saya salut luar biasa karena ini aktivis dakwah sangat kritis melihat beberapa fenomena dikalangan aktivis dakwah yang mulai meluntur nilai-nilai keislaman yang ada dalam dirinya. Atau mungkin juga jamaahnya. Mungkin nggak syakhsiyah daiyah lebih dulu terbentuk daripada syakhsiyyah islamiyyah? Lalu bagaimanakah dampaknya jika ini terjadi?

 

Adab-adab syuro…

Yang ini saya amati beberapa bulan yang lalu bersama seorang teman saya, yang juga mengaku aktivis dakwah. Fenomena unik di kalangan aktivis dakwah. Terjadi di seputar Masjid Kampus UGM. Kalau yang sudah pernah ke Masjid Kampus UGM, akan lebih mudah membayangkan narasi saya. Yang belum pernah, Insya Allah juga bisa membayangkan kira-kira kejadiannya bagaimana.

Sore hari. Dua orang akhwat berjilbab gede, dan dua orang ikhwan duduk berhadapan, melingkar di bawah pohon palem yang ada di halaman sayap utara masjid kampus. Mungkin sedang syuro. Saya dengan teman saya ini, melihat fenomena ini cuma cengengesan. Yang jelas kami yakin bahwa mereka belum menikah. Pasalnya, kalau sudah menikah, pasti posisinya gak berhadapan melingkar. boleh jadi duduk samping kiri-kanan, dan seterusnya. Ini pakai jarak lumayan jauh pada awalnya. Kira-kira 1-1,5 meter lah. Karena saya saya ada keperluan dengan Dimas, saya selesaikan dulu urusan saya. Setelah urusan selesai, entah kenapa, saya liat empat orang tadi. Masya Alloh…! Tambah parah! Posisi duduk ikhwan akhwat semakin kacau. Jaraknya semakin dekat. Lagian itu ikhwan, posisinya bikin kami semakin ngakak. Duduk bersila, memandang si akhwat, dengan siku menempel di paha kaki dan ujung tangan menyangga dagu. Bisa bayangin ga? Basa jawanya songgo wang. Gile bener….

Melihat fenomena ini, dasar aktivis dakwah kurang aktif alias kurang gawean, kami mencoba keliling Masjid ini untuk mencari gejala-gejala aneh macam beginian. Baru sampai pintu utama di sisi timur, ada fenomena lagi. Satu ikhwan, satu akhwat, jadi cuma dua orang. Pas. Duduk menghadap ke timur, dengan jarak kira-kira 1-1,5 meter juga. Asumsi kami, ini sejoli juga belum nikah. Kalau sudah menikah, pasti duduknya lebih dekat, dans seterusnya. Entah yang disyurokan apa….

Kemudian ke selatan. Di sini agak lumayan. masih pakai tiang sebagai pembatasnya. Terus balik ke utara. Ealah, empat orang tadi belum selesai juga!

Lalu kami pulang.

Ini baru fenomena yang saya lihat di suatu sore pada suatu hari di suatu tempat. Ketika saya ceritakan kepada beberapa senior saya, mereka membenarkan. Bahwa ada banyak kasus semacam cerita di atas, yang terjadi di kalangan aktivis dakwah.

 

Suaranya, bikin gemes….

Ini ungkapan teman saya, sebut saja Fulan. Dia juga mengaku dan diakui sebagai aktivis dakwah. Begini cerita dari dia.

Dalam beberapa syuro yang dia temui, dia mengaku sering menemui akhwat gaul. Heran dia. Gaulnya itu, terutama dia tangkap dari gaya bicaranya. Katanya sih, gaya bicaranya di akhwat-akhwatin. Nggak kalah juga, lawan bicaranya, si ikhwan. Si ikhwan ini, meskipun teman-teman di sekelilingnya melabeli dia sebagai ikhwan, tapi gaya ngomongnya… akhwat banget gitu loh! Payah deh….

Ini fenomena saya setujui keberadaannya. Saya juga sering melihat dan mendengar, dalam beberapa komunikasi ikhwan-akhwat, gaya ngomongnya sama. Yang akhwat di akhwat-akhwatin, yang ikhwan juga di akhwat-akhwatin. Setelah saya informasikan ke beberapa senior saya, mereka juga membenarkan.

 

Pada kasus-kasus di atas, Si Fulan memboleh jadikan, bahwa fenomena ini terjadi karena faktor lingkungan yang lebih mendominasi. Boleh jadi, lingkungan sekitar akhwat memang orangnya gaul-gaul. Demikian juga lingkungan si ikhwan. Dan mereka ini tak pernah kembali atau berada pada lingkungan yang sesuai. Namun ini masih boleh jadi.

Boleh jadi juga, ini ikhwan akhwat terlalu sering bertemu, atas nama syuro, kemudian bahasannya ngelantur. Nggak ada tilawah AlQuran plus tadabburnya, nggak ada taushiyah juga. Banyak guyon, nggarapi lawan jenis, dan seterusnya. Dan dua kalimat terakhir ini memang sering terjadi.

Saya sepakat. Kurang ada mekanisme kontrol dari masing-masing individu. Juga dari atasan-atasan para aktivis itu. Kerja dan adab dalam dakwah semakin permisif, dan frekuensinya semakin sering. Payahnya, tidak diimbangi dengan frekunsi pelaksanaan amal-amal ruhiyah yang tinggi pula. Dalihnya selalu saja ada. “Ini kan cuma koordinasi ikhwan-akhwat, bukankah koordinasi harus ada?” Begitu katanya. ”Ini kan cuma guyonan biasa, kita masih tahu batasan kok.” Apa iya? Bagaimanapun juga penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian. Ada lagi yang lebih ngaco, ”Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Masya Allah. Ngomong begitu kepada ustadznya. Gimana, coba?

Sepertinya tidak hanya terjadi di Jogja. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, majalah Tatsqif dari Jakarta juga mengangkat tema ini. Judulnya ATM. Aktivis Tapi Mesra. Yang dibahas lebih dalam. Sampai pada fenomena SMS yang serem-serem itu. Itu baru SMS, belum perkara telepon langsung, atau ketemu langsung.

 

Sempat juga saya diskusi dengan beberapa aktivis yang lain, dan ustadz, berkaitan melunturnya nilai-nilai keislaman dalam diri aktivis dengan adanya fenomena aneh ini. Jumlah aktivis semakin banyak, namun kualitasnya dipertanyakan. Ustadz-ustadzpun turut prihatin atas fenomena ini. Sudah berkali-kali diberi taujih dan taushiyah, e… malah dijawabnya ”Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Bukankah yang haram itu telah jelas, dan yang halal juga telah jelas? Dan diataranya ada syubhat, yang siapa menjauhkan diri dari syubhat, dia telah menjaga agama dan harga dirinya?

Pak Ustadz memberikan titik tolak permasalahannya. Tidak ada semangat untuk kembali ke tarbiyyah. Kalau diminta datang syuro, rajin betul. Apalagi Aksi. Giliran diminta datang kajian, dalihnya Afwan, ada syuro penting. Terlalu lelah. Ada agenda penting. Giliran ada mabit, sama juga alasannya. Giliran ada rihlah, apalagi pakai ikhwan akhwat, semangat lagi. Kan bisa curi-curi pandang. Kalau masih nggak cukup, bisa langsung ketemu ikhwan akhwat, di alam bebas, pake materi koordinasi, nge-fix-kan acara, dan seterusnya. Sekali lagi, penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian.

Pak Ustadz kemudian memberikan solusi sederhana. Kembali ke Tarbiyyah.

Sederhana, bukan?

Jogja, Akhir November 2006

Agustus 29, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Muhasabah | | & Komentar