:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

SMS Silaturahim

Tentu saja semua sepakat bahwa silaturahim pastilah membutuhkan pengorbanan. Karena setiap amal membutuhkan pengorbanan.

Dan apapun pengorbanan untuk silaturahim itu, Insya Allah mendapatkan balasan dari Allah.

Dalam Idul Fitri, sudah lumrah di negeri kita untuk silaturahim, baik dengan saling saling mengunjungi ataupun saling berkirim kartu ucapan atau sekedar bertegur sapa lewat SMS.

Dan SMS yang berisi ucapan selamat idul fitri dan serangkaian kata – maupun doa – yang mengikuti di belakangnya adalah salah satu sarana silaturahim, ketika kita tak mampu atau, karena kesibukan kita, tak sempat untuk silaturahim kepada sekian banyak rekan-rekan dan sahabat-saudara kita.

Maka SMS tersebut bukanlah sekedar menghamburkan harta, tetapi adalah bagian dari tad-hiyyah (pengorbanan) dalam silaturahim. SMS tersebut adalah sarana silaturahim, dimana di era sekarang media silaturahim tak hanya dengan bertemu jasad semata dengan muwajjahah (bertatap muka), tetapi juga dengan pertemuan virtual melalui sarana-sarana teknologi, yang tidak mengharuskan adanya muwajjahah di dalamnya.

Jakarta, 7 Syawal 1429

Hifni M. Ariyadi

Oktober 12, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Lepas...! | | 1 Komentar

Cobalah Semuanya, Kecuali Mati!

Cobalah Semuanya, Kecuali Mati!

Baru pertama kali ini saya bergaul dengan orang-orang rig. Sederhananya, orang-orang rig adalah tenaga operator yang tugasnya mengoperasikan rig, seperangkat alat pemboran minyak. Benar-benar orang lapangan murni, yang sejak tamat bangku SMA, mereka kemudian merantau dan akhirnya bertarung untuk mempertahankan hidupnya dengan alat-alat berat, deru mesin-mesin, panas lumpur dan minyak, pipa-pipa bor, dan beratnya resiko – harta maupun jiwa – di lapangan minyak. Kadangkala di tengah hutan, pernah pula di tengah laut, di tengah perkebunan, berkeliling Nusantara, bahkan ada yang pernah menikmati hasil minyak di Brunai Darussalam. Tiga pekan, atau dua pekan sekali mereka pulang ke kampung, entah selama seminggu, dua, atau tiga minggu.

Maka, dengan orang-orang rig semacam itu, tiga dimensi dalam dirinya dapatlah dengan mudah diidentifikasi. Jasadnya hitam legam, gempal, dan kekar. Pikirannya dipenuhi oleh beragam pengalaman berdasar kenekatan, pembelajaran dari keterhimpitan, dengan perwatakan yang cenderung keras karena senantiasa terjepit dari segala arah, namun sangat bisa memahami karakter orang-orang dari berbagai penjuru negeri, kecuali para atasannya yang duduk di perkantoran Jakarta yang kadangkala merangkap sebagai mafia perminyakan. Sedangkan jiwanya, bermacam-macam. Ada yang rajin shalat, ada pula yang menyebut nama Tuhannya hanya ketika selesai makan. Itupun jarang. Dari penampilannya, tentu saja ala tenaga-tenaga kasar pada umumnya. Status ekonominya akan terlihat ba hwa mereka orang yang cukup berduit dari kerjanya menggali sumur minyak hanya ketika mereka mengeluarkan handphone-nya.

Dari beragam cerita pengalamannya selama hidupnya itulah saya kemudian menyadari, bahwa di hampir usia saya yang mendekati seperempat abad ini, belum banyak sisi-sisi dunia yang kuhampiri. Bukan hanya secara geografis saja, namun juga secara sosial, kultural, dan sejenisnya. Memang ada orang yang telah berkeliling berbagai penjuru bumi, namun dalam aktivitas bisnis saja, akademis saja, berdakwah dengan masyarakat muslim perkotaan atau pedesaan saja, atau hanya sekedar mencoba makanan daerah saja. Namun, menemukan orang orang yang pernah tidur di barak para pekerja kasar sekaligus duduk di perkantoran mewah dan menebarkan nilai-nilai kebaikan pada dua tempat tersebut sekaligus, sangatlah jarang.

Di sini, di tengah para tenaga kasar, di kota kecil yang kaya minyak namun tetap melarat ekonominya, saya menemukan nasihat sederhana, di suatu pagi ketika kami hendak mencari sarapan pagi. Dari seorang juru las handal, yang kukenal sebagai orang paling shalih di rig yang kutempati sekarang, bersama seorang operator crane yang pendiam namun murah senyum.

”Selagi kau masih hidup, cobalah semuanya, kecuali mati! Untuk mati, jangan pernah coba! Jangan pernah mencoba untuk mati!” Begitu nasihat sederhananya.

Mencoba. Kata itulah yang benar-benar menempati pikiranku cukup lama di pagi itu. Tentu saja, saya tak boleh menelan nasihat itu secara mentah tanpa pembatasan. Dan saya yakin, juru las handal itu bukan bermaksud menasihatkanku untuk mencoba apa saja tanpa batas.

Dari syarah nasihatnya yang dibeberkan, beliau hanya berharap, dari mencoba semua hal itu, saya menjadi mengerti seluk-beluk kehidupan orang-orang pekerja kasar, sehingga, jika saya menduduki posisi penting versi perusahaan, maka saya dapat memahami kondisi semua lapisan pekerja, dan kemudian bijak dalam pengambilan keputusan, sehingga keputusan itu membawa berkah bagi semuanya.

Maka, setelah nasihat dan syarah sederhana namun dalam itu, segera kutarik kesimpulan yang lebih umum versi tafsir saya. Bahwa saya harus mencoba semua hal, untuk memahami sasaran yang akan kutebarkan nilai-nilai kebaikan padanya, pada semua orang, dari berbagai-bagi jenis orang, dari berbagai strata sosial, pada semua wilayah yang akan kujumpai. Dengan demikian, kita tidak menjadi orang parsial, tak pula hidup monoton, yang hidup dengan menebarkan kebaikan pada ’satu jenis’ orang saja, atau hidup dengan satu warna saja. Maka, hidup yang demikian, menjadi apapun kita, yang dihasilkan hanyalah ketidakadilan. Karena dalam diri kita hanya ’satu versi pikiran’ dan satu warna yang kemudian tetaplah polos tak ada corak. Sangat tidak indah jadinya.

Cambai, Prabumulih, 5 Mei 2008

Mei 22, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Lepas...! | | No Comments Yet

Buntu

“Menulislah apa yang ingin kau tulis!” Begitulah kata-kata yang banyak muncul dari para lisan penulis-penulis ampuh, ketika ditanya tentang jurus sakti untuk bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang hebat, berbobot, dan disukai pembaca—atau minimal layak baca

Namun, bagi sebagian orang, yang sudah benar-benar (merasa) dirinya tak mampu menulis, ketika diminta, atau mencoba untuk menuliskan apa yang ingin ditulisnya, tentu akhirnya bergumam kesal, “Akupun tak tahu apa yang ingin aku tulis.”

Kebuntuan.

Pikirannya menemui jalan buntu.

Benar-benar tak mampu lagi menghasilkan sebutir ide, apalagi selembar tulisan. Tidak ada inspirasi. Memandang ke depan, yang ditemui adalah jalan buntu. Ke kiri jalan buntu. Ke kanan jalan buntu. Menunduk, tak ada lubang inspirasi di bawah sana. Menengadah, yang dilihatnya adalah atap gelap. Sedangkan begitu menoleh ke belakang, ternyata kemudian diketahui bahwa dirinya bukan hanya sedang menemui jalan buntu, namun juga sedang tersesat. Tak tahu jalan untuk kembali ke posisi semula.

Proses kreatifnya terhenti.

***

Kebuntuan pikiran bukan tidak disengaja. Seringkali, kebuntuan justru dimunculkan oleh diri kita sendiri. Dalam proses kreatif yang kita sedang ingin berada di dalamnya, kita justru banyak membatasi diri. Tentu saja, yang saya maksud adalah pembatasan-pembatasan yang tak masuk akal, atau pembatasan-pembatasan yang sebenarnya tak perlu. Pembatasan yang tak perlu inilah yang kemudian, baik secara disadari atau tidak, justru membuat jalan buntu yang kemudian kita berjalan ke arahnya. Menuju jalan buntu.

Jika sudah mulai berjalan ke arah jalan buntu itu, dalam pembatasan-pembatasan tak bermanfaat itu, maka kemudian secara tiba-tiba kita munculkan sendiri tembok-tembok penghalang yang besar di hadapan kita. Juga di kiri-kanan kita. Atap di atas kita muncukan. Berbalik ke belakang, kita pun sudah menutup jalan untuk kembali. Sehingga belum juga kita menjalani proses kreatif itu, kita terhenti. Terhenti di dalam batas yang kita buat sendiri.

Kemudian yang terjadi adalah kebuntuan.

Buntu.

Tak ada apapun atau siapapun. Kecuali diri kita sendiri yang terkepung dalam benteng-benteng kokoh batasan yang gelap dan pengap. Meronta-ronta dan berteriak-teriak minta tolong. Menggedor-gedor dinding. Hingga kehabisan energi.

Dan akhirnya mati sendiri.

Di tengah kebuntuan, 17 Maret 2008

April 24, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Lepas...! | | & Komentar

Menujumu

Aku ingin terbang menujumu

Menghadapmu. Menjumpaimu. Bermuwajjahah denganmu

Hingga aku pingsan

Oleh pesona keagunganmu

Karena selama ini

Belum sepenuh hati

Aku mencintaimu

Seperti keinginanmu.

 

1428

Desember 20, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Lepas...! | | No Comments Yet

Parkir

Ketika saya mau memarkir kendaraan saya di Jogja Book Fair 2003 bulan lalu, di sebelah saya ada seorang bule yang juga mau memarkir sepeda motor Tiger-nya. Ketika itu, si bule duluan yang dilayani dan diberi karcis. Saya tidak begitu memperhatikan ketika si Bule dan tukang parkir ngomong-ngomong pakai bahasa Inggris. Namun yang membuat saya terkejut adalah ketika si bule memberikan selembar uang sepuluh ribuan, dan si bule nggak mau mengambil kembaliannya, alias diberikan kepada tukang parkir. Berbeda dengan cerita anak-anak, si tukang parkir bukannya menerima uang kembalian yang diberikan padanya. Tapi beliau ini justru buru-buru mengambil kembalian, dan mengejar si bule di tempat parkir motornya. Dan memberikan uang kembaliannya. Rp. 9.500,00.

Saya dikacangi sebentar. Lalu dilayani oleh tukang parkir yang lain. Saya kasih uang receh 500-an. Dalam hati saya bilang, “Kembaliannya Ente ambil aja, deh!”

Melihat kisah itu, saya langsung teringat kisah Aa Gym ketika beliau di Madinah Al Munawwarah. Ketika itu, ada seorang syaikh (pak tua) penjual minyak wangi yang menolak diberi uang. Si Syaikh mengatakan dengan halus bahwa beliau bukan peminta-minta atau pengemis, tetapi beliau adalah penjual minyak wangi. Dan beliau hanya mau menerima uang dari hasil keringatnya berdagang minyak wangi.

Alhamdulillah, kisah serupa tersebut dapat saya temui juga di Jogja, tanpa perlu jauh jauh sampai Madinah Al Munawwarah.

Setidaknya, ada dua hal yang membanggakan dari perilaku tukang parkir tersebut.

Yang pertama adalah kemandirian dan etos kerja yang hebat. Beliau ini pantang menjadi peminta-minta (meskipun sebenarnya diberi), selama beliau masih mampu bekerja, tidak bangga dengan hasil pemberian orang lain tetapi bangga dengan hasil jerih payahnya sendiri. Beliau belajar untuk bisa mandiri dan berdikari, tanpa menggantungkan nasib pada orang lain, baik pemerintah atau penguasa, apalagi bule. Dan pula, ini dilakukan oleh tukang parkir, yang -saya yakin- tidak pernah merasakan duduk di bangku sebuah universitas ternama. Apalagi kuliah di situ. Kalau yang diberi uang itu kita, pasti kita langsung teriak “Yes! Lumayan. Bisa buat beli mie ayam, soto, plus buat fotokopi catatan kuliah”. Itu wajar. Karena kita masih sepenuhnya bergantung pada orang lain dan pihak lain. Sebuah perbedaan etos dan semangat kerja yang pincang pada tingkat pendidikan yang pincang pula.

Yang kedua adalah semangat untuk menjaga citra tukang parkir, dan masyarakat Jogja pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Si tukang parkir, orang yang dimarjinalkan, diremehkan, dan dikelasbawahkan, ternyata memiliki loyalitas dan telah melakukan usaha besar untuk mengubah opini dunia lewat si bule, bahwa Indonesia adalah pekerja keras, jujur, tidak korup, dan seterusnya. Efeknya kecil memang, bila dibandingkan dengan opini yang dibangun penggedhe negeri ini, bahwa negeri ini pemalas, korup, nggragas, nderemis, cluthak, melarat, tukang ngutang dan sejenisnya.

Alhamdulillah, ternyata kita masih punya masyarakat yang berjiwa besar. 500 perak hasil keringat sendiri adalah lebih berharga daripada 9500 rupiah pemberian orang lain. Dan itu dilakukan oleh tukang parkir, yang -saya yakin- tidak pernah merasakan duduk di bangku sebuah universitas ternama. Apalagi kuliah di situ. Sedang kita, mahasiswa, sang pelopor perubahan, yang penuh dengan idealisme membawa perubahan yang lebih baik pada semua aspek kehidupan, justru sedang membangun bersama masyarakat yang curang, pencontek, tidak jujur, hedonis, merusak, dan bergantung teman sebangku kita.

Dan semoga kalimat yang terakhir diatas tidak benar.

 

 

Jogja, 19 Ramadhan 1424 / 14 November 2003

 

September 19, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Lepas...! | | No Comments Yet

Pentas Budaya Kita (d/h Fenomena Aktivis Dakwah Masa Kini: Sebuah Otokritik)

          Dalam setahun terakhir ini, setidaknya ada tiga pementasan budaya yang benar-benar membuat saya terkagum-kagum. ‘Ajib jiddan, adalah predikat yang pantas disandang oleh tiga pementasan budaya tersebut. Dan pementasan yang semuanya diselenggarakan di Yogya ini semakin mengukuhkan keadaan bahwa Yogya adalah gudangnya seni dan budaya. Saya sungguh bangga ditakdirkan oleh Allah swt lahir dan dibesarkan di Yogya.

          Yang pertama, adalah pementasan monolog oleh Whani Darmawan yang bertajuk Metanietzsche: Boneka Sang Pertapa. Dipentaskan pada rangkaian acara Parade Puisi Putra Bangsa, 19 Agustus 2006 di Monumen SO 1 Maret 1949. Secara umum, parade puisi ini sungguh menakjubkan. Namun, penampilan Whani yang berisikan kritik tajam tentang potret buram kondisi keberagamaan di Indonesia ini, mampu membuat saya kagum dan angkat topi setelah pertunjukan hebat ini usai. Bahkan, penampilan para penyair kebanggaan saya di pentas itu – Emha Ainun Nadjib,  Taufiq Ismail, dan tak lupa WS. Rendra – menjadi seolah luput dari perhatian saya.

          Yang kedua, tentu saja lebih hebat dari pementasan Whani, adalah pentas teater Kiai Kanjeng pada refleksi setahun gempa Yogya, Sabtu 26 Mei 2007 di pelataran JEC. Karena saya datang terlambat, saya tidak tahu apa judul teater tersebut. Pementasan ini menggambarkan kesalahkaprahan masyarakat di negeri ini dalam melihat dan memaknai musibah gempa yang terjadi setahun sebelumnya. Juga, secara tajam mengkritik birokrat yang justru bahagia di atas penderitaan orang lain. Berebut proyek, tentu saja. Pasca gempa bagi sebagian kalangan birokrat adalah semacam bancakan yang ramai-ramai diperebutkan untuk mengenyangkan perut gendut mereka dan menumpulkan akal dan hati mereka. Yang membuat lebih menarik, tentu saja iringan musik khas komposisi orkestra Kiai Kanjeng. Pementasan ini ditutup dengan sedikit pemaknaan dan  muhasabah oleh Emha Ainun Nadjib dan lengkingan permainan biola Idris Sardi yang menggetarkan, yang juga diiringi musik khas komposisi orkestra Kiai Kanjeng.

          Yang ketiga, pastinya adalah best of the best dari pementasan budaya yang pernah saya lihat dalam setahun terakhir. Pementasan ini diselenggarakan Sabtu, 11 Agustus 2007 di lingkungan Fakultas MIPA UGM, bertajuk “Muktamar”. Dilihat dari judulnya saja, penampilan ini sudah terasa menggetarkan. Yang membuat saya kagum, di samping pementasannya yang digarap dengan apik, pementasan ini di mainkan oleh anak-anak muda. Semuanya lebih muda dari saya. Tidak ada pakar teater, budayawan, atau penyair di sini. Tak ada iring-iringan musik orkhestra. Namun penampilannya jauh mengungguli Whani Darmawan, Taufiq Ismail, dan WS. Rendra. Bahkan Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng sekalipun. Bakat seni mereka sungguh luar biasa.

          Pentas budaya ini sebenarnya, lebih mirip lenong dalam khasanah budaya Betawi. Pemain dan penonton dapat berperan aktif dalam pentas ini. Penonton dapat menjadi pemain, berkomentar, mengkritisi, dan pulang. Semua boleh datang, namun, tidak semua diundang. Pemainnya, tak kepalang tanggung. Ikhwan dan akhwat. Islam sekali kedengarannya. Setiap mendengar kata itu, saya selalu teringat pesan ustadz saya. Setidaknya ada sepuluh karakter yang membedakan antara kata benda ikhwan dan akhwat dengan cowok dan cewek. Berturut-turut saya menghafalkannya, mulai dari akidahnya selamat, ibadahnya benar, akhlaknya kokoh, hingga yang kesepuluh, memberikan manfaat bagi orang lain.

          Namun, ingat! Ini adalah pentas budaya. Ini adalah teater. Ini sandiwara. Sesuai namanya, sandiwara berasal dari sandhi yang bermakna simbol atau tanda dan warah yang berarti pengajaran dan pendidikan. Jadi kita harus benar-benar cerdas untuk mampu menerjemahkan dan mengambil pelajaran dari simbol-simbol yang tersembunyi. Jangan diambil makna zhahir-nya. Kalau hanya mengambil makna zhahir-nya, bisa-bisa Anda tersesat. Mirip dengan bagaimana kita menyikapi simbol-simbol dalam novel The Da Vinci Code.

          Sayang sekali, saya datang terlambat daam pentas ini. Saya tidak tahu bagaimana kejadian saat layar digulung, dan babak pertama dimulai. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada babak awal. Saat saya tanyakan kepada orang yang tidak lebih terlambat dari saya, ada tilawah? Tidak tahu. Ada taujih atau taushiyah? Tidak ada.

          Mendadak saya jadi ingat. Ini teater! Ini adalah pentas budaya! Wajar saja. Budaya bukan agama. Dan agama bukan budaya. Kalaupun pentas ini diawali dengan tilawah, hampir dipastikan tidak ada hati yang bergetar. Yang bergetar adalah suara si pembaca berikut mushaf yang dipegangnya, karena demam panggung di hadapan penonton dan pemain lain. Bukan tergetar karena yang lain.

          Ini adalah pentas budaya. Maka jangan harap menemukan taujih ataupun taushiyah di dalamnya. Karena taujih dan taushiyah adalah agama, bukan budaya. Tawashaw, saling menasihati,  seperti yang dinasihatkan Allah swt dalam Kitab Suci tidak berlaku di sini. Yang ada di sini –meminjam istilah plesetan dari para santri di pesantren– adalah TawaShow. Tawashaw dalam bahasa Arab bermakna saling menasihati. Sedangkan TawaShow dalam bahasa campuran Indonesia-Inggris bermakna pertunjukan tawa. Dan ternyata benar, pentas ini mampu membuat saya tertawa. Menertawakan diri sendiri. Juga menertawakan diri kita. Simak saja beberapa kisahnya.

          Saat babak ketiga dimulai, seorang pemain akhwat buru-buru naik ke atas panggung dan setelah mengucap salam –tanpa shalawat– lalu berucap layaknya penyanyi dari ibukota “Oke…Langsung saja…Tidak usah banyak cing-cong…!” Saya sontak tertawa. Menertawakan diri. Ada akhwat bilang “cing-cong!” Jarang sekali saya mendengarnya dari seorang yang menyandang gelar akhwat. Akhwat, gitu loh…Please, dech…Oyeaaah! Tapi saya segera sadar diri, bahwa, sekali lagi, ini adalah pentas budaya. Budaya kita , termasuk aktivis-aktivis itu, ternyata telah bergeser pada budaya bicara “Cing-cong”, “Kasian, dech lu!”, “Please, dech!”, “Cape, dech!” dan sederet kalimat-kalimat serupa. Sebuah budaya, yang menurut saya, bercitarasa rendah, kalau memang tidak bisa dikatakan tidak bercitarasa sama sekali.

          TawaShow bertajuk “Muktamar” terus berlanjut. Masuklah pada babak pembahasan tata bahasa dan diksi yang terdapat pada Kitab Hukum Organisasi. Pembahasan menjadi menarik pada saat menyentuh frasa “Waktu Berdiri”. Maksudnya, waktu berdiri Organisasi yang sedang punya hajat itu. Semua penonton dan pemain, ikhwan dan akhwat, mengungkapkan usul diksi terbaik untuk merubah frasa itu, selayaknya pakar ilmu Nahwu dan Sharaf dari Arab sedang berdialog dengan orang Arab Aamiyah. “Waktu Berdiri”, “Waktu Didirikan”, “Waktu Pendirian”, kata sambung “dan”, “atau”, “bertepatan dengan” menjadi bahan diskusi yang membuat urat-urat leher mereka keluar. Dan urat leher saya keluar karena menahan tawa. Inilah budaya kita, yang ternyata belumlah bergeser dari budaya debat kusir, membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar, tidak efisien, pongah, dan sok tahu.

          Setelah istirahat sejenak, budaya-budaya itu masih terus berlanjut. Beranjak pada babak berikutnya, adalah pemilihan Panglima Organisasi. Pada babak ini, yang semula saya prediksikan akan membuat penonton berkomentar “Sungguh sebuah muktamar yang menegangkan!”, “Sebuah penampilan karya seni yang menyentuh!” atau “Anda rugi telah melewatkan pementasan ini begitu saja!” ternyata melenceng. Pemilihan Panglima berlangsung mulus. Sama sekali tidak menegangkan dan menyentuh. Tentu saja ada adegan yang membuat kita tertawa. Karena, sekali lagi, ini adalah TawaShow. Tatkala disebut syarat calon Panglima harus “Ikhwan”, sontak beberapa penonton dari kalangan adam nyeletuk “Aku cowok, lho…! Bukan Ikhwan!” dengan bangganya dan, tentu saja dengan tertawa. Karena ini adalah TawaShow. Begitu bangganya mereka merendahkan martabat dirinya dari seorang Ikhwan menjadi seorang Cowok. Untung saja dari pihak hawa tidak ada yang nyeletuk “Aku cewek, lho…! Bukan Akhwat!” Kalau ini terjadi, hatiku bisa remuk dibuatnya. Budaya kita, termasuk aktivis-aktivis itu, telah bergeser lagi.

          Segera setelah Panglima dipilih, Sang Panglima maju ke panggung, menjadi pemain yang akan menampilkan pidato pertamanya setelah menjadi Panglima. Seperti seorang artis yang baru pertama kali muncul di televisi, Sang Panglima berpidato. Hanya salam untuk pemain dan penonton saja yang diungkapkan. Tak ada hamdalah, apalagi shalawat pada Nabi saw. Langsung ke pokok masalah, persis seperti artis yang sedang konferensi pers untuk mengklarifikasi gosip yang sedang beredar. Mungkin, ini hanya mungkin, Sang Panglima berpikiran bahwa Allah swt tidak turut campur dalam pemilihan ini, dan ini adalah murni kerja keras manusia, bukan Allah swt, apalagi Nabi saw. Mungkin, sekali lagi ini hanya mungkin, bagi Sang Panglima, Nabi saw adalah manusia biasa yang kebetulan diberi wahyu dan dimakshumkan oleh Allah swt. Itu saja. Ditambah lagi, Beliau tidak ada sangkut-pautnya dengan pentas ini.

          Bagi Anda yang tidak hadir, jangan harap bisa berperan seperti penonton. Karena hanya penonton dan pemain yang dapat berkomentar, mengkritisi, dan pulang. Jadi sekalipun Anda titip komentar, usul, dan kritik, dapat dipastikan tidak akan digubris. Karena Anda bukan penonton.

          Dan pentas budaya pun selesai. Layar terkembang lagi, menutup panggung. TawaShow telah usai. 

         Ini adalah pentas budaya. Ini adalah teater. Dan kita harus benar-benar cerdas untuk mampu menerjemahkan dan mengambil pelajaran dari simbol-simbol yang tersembunyi pada pentas budaya itu.

          Ikhwan dan akhwat. Islam sekali kedengarannya. Setiap mendengar kata itu, saya selalu teringat pesan ustadz saya. Setidaknya ada sepuluh karakter yang membedakan antara kata benda ikhwan dan akhwat dengan cowok dan cewek. Berturut-turut saya menghafalkannya, mulai dari akidahnya selamat, ibadahnya benar, akhlaknya kokoh, hingga yang kesepuluh, memberikan manfaat bagi orang lain. 

Condongcatur, 27-29 Rajab 1428

Hifni M. Ariyadi

September 5, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Lepas...! | | No Comments Yet

Sandal Jepit, Sepatu, Masjid, dan Kampus

      Suatu ketika, saya mendatangi sebuah kampus. Tapi niat saya tidak ke kampus tersebut, tapi ke masjid yang ada di dalam kampus tersebut, untuk menemui teman saya. Saya sendiri, saya akui juga agak ‘gila’. Ke kampus pakai sandal jepit. Dari karet lagi! Sampai digerbang kampus, Pak Satpam dan salah seorang pegawai kampus memanggil saya dari posnya. Saya diinterogasi.

      “Mau ke mana, Mas?” Tanya Pak Satpam.

      “Mau ke masjid, Pak. Mau ketemu sama teman saya!” Jawab saya.

      “Kalau mau masuk tempat ini, nggak boleh pakai sandal! Harus pakai sepatu!” Jelas Pak Satpam beserta pegawai kampus yang saling menambahkan dan mengiyakan. Saya jadi heran.

      “Pak, saya cuma mau ke masjid di dalam, ketemu sama teman saya. Sebentar.” Saya juga jadi menjelaskan keperluan saya.

      Pegawai tersebut jadi agak berang, lalu mengatakan

      “Pokoknya nggak boleh! Ketemu di luar saja! Sudah sana, ditunggu di luar saja!”

      Pegawai itu juga sempat menasihati saya

      “Siapa yang hendak menjaga nama baik dan kehormatan kampus ini, kalau bukan saya dan Anda.”

      Saya juga mau ikut-ikutan berang. tapi sudahlah, dari pada marah-marah di siang bolong yang panas membakar kulit, lebih baik saya keluar. Tidak jadi masuk, dan cuma berucap

      “Makasih, Pak!” Lalu saya keluar.

      Saya menunggu teman saya di luar kampus. Nongkrong di sebuah warung. Heran saya masih belum hilang. Baru kali ini saya dilarang ke masjid gara-gara tidak pakai sepatu. Saya sudah berusaha berpikir positif tentang peristiwa tadi. Tapi tetap saja hasilnya negatif. Mungkin dua bapak tadi berusaha menjunjung tinggi martabat kampusnya. Siapa yang rela harga diri kampusnya diinjak-injak? Saya sendiri tidak rela martabat kampus saya runyam. Tapi, yang bikin saya heran, kenapa martabat kampus harus dijunjung pakai sepatu? Dan saya juga tidak bermaksud menginjak-injak harga diri kampus tersebut dengan sandal jepit karet saya. Karena saya yakin, sandal jepit karet saya tidak akan mampu menurunkan martabat kampus tersebut sedikitpun. Saya jadi berkesimpulan, mungkin Pak Satpam, pegawai kampus tadi, dan orang-orang yang sependapat dengan beliau, cara berpikirnya memang sudah serba terbalik. Beliau berpikiran bahwa sandal jepit karet mampu mengalahkan harga diri sebuah kampus. Atau memang sandal jepit mampu menginjak-injak harga diri kampus karena (bisa jadi) selama ini jati diri kampus dibangun hanya dengan sepatu. Atau mungkin lagi, harga diri kampus tersebut memang sudah (semakin) hancur, dan pihak kampus sudah kehabisan akal untuk membangunnya kembali, sehingga terpaksa membangunnya kembali melalui sepatu, dan kemudian menganggap bahwa sandal jepit karet dapat menghancurkan harga diri kampus serta menjadikan sandal jepit sebagai sebab hancurnya harga diri kampus. Saya jadi semakin heran….

      Akhirnya saya menemukan jalan tengah. Mungkin norma sosial kita memang tidak mengizinkan sandal jepit (karet) hidup di wilayah-wilayah formal. Kampus, kantor, sekolah, dan sebagainya. Dianggap tidak sopan. Tidak etis dan tidak estetis.

      Pikiran saya saya kembali ke masalah semula. Masih juga heran, mengapa dilarang ke masjid gara-gara tidak pakai sepatu. Karena niat saya, seperti sudah saya katakan kepada dua bapak tersebut, adalah ke masjid, ketemu teman saya. Sejauh pemahaman saya, tidak ada dalil yang mewajibkan orang yang hendak ke masjid untuk pakai sepatu. Memang, kalau dalam urusan shalat, shalat pakai sepatu hukumnya boleh. Tetapi, shalat pakai sandal di masjid pun juga boleh. Karena, menurut saya, masjid adalah tempat yang egaliter. Tidak ada perbedaan status sosial, status ekonomi, kesukuan dan warna kulit. Orang miskin yang shalat tanpa alas kaki, maupun orang seperti saya yang hendak ke masjid dengan sandal jepit, semuanya dipersilakan masuk, duduk bersama, menempelkan jidat ke lantai bersama, meski harus berdampingan dengan pejabat yang pakai sepatu boot yang paling gedhe sekalipun. Jidat menempel di lantai, sejajar dengan kaki. Semua adalah sama di hadapan Allah SWT, kecuali ketaqwaannya. Moralitas dan harga diri masjid tidak ditentukan oleh sepatu maupun sandal jepit. Tidak pula oleh biaya yang besar untuk membangunnya. Tetapi ditentukan oleh semangat persaudaraan dan bagaimana fungsi masjid yang sesungguhnya itu diejawantahkan. Sebuah masjid tidak akan menjadi tenar hanya gara-gara semua jamaahnya pakai sepatu, pakaian jas atau safari, dan berjerat dasi. Begitu pula sebuah masjid tidak akan menjadi tidak tenar hanya gara-gara jamaahnya miskin-miskin. Kecuali kalau miskin ilmu, miskin akhlaq, miskin aqidah, plus miskin ibadah. Norma sosial yang berlaku di masjid adalah norma yang berbasis akhlaq. Tidak perlu sepatu ataupun sandal. Semangat bersaudara dijunjung tinggi. Tawashaw bil haq, tawashaw bish shabr, tawashaw bil marhamah adalah sedikit diantara basis moralitas yang dibangun di masjid. Makmum harus taat pada imam, namun imam juga harus bersedia di koreksi oleh makmum, dan makmum harus pula bersedia diluruskan oleh imam.

      Sejauh pemahaman dan pengetahuan saya, dalam peraturan-peraturan kitab fikih klasik maupun kitab hukum dan konstitusi modern, tidak ada yang mewajibkan ke masjid mesti pakai sepatu, kecuali, ya, dua bapak tersebut. Namun, yang membuat kedua bapak tersebut sedikit beruntung adalah karena saat itu saya sudah shalat Dhuhur. Saya tidak tahu apa yang dikatakan kedua bapak itu kalau ketika itu saya belum shalat Dhuhur, kemudian saya katakan

      “Pak, saya cuma mau ke masjid di dalam, mau shalat Dhuhur. Saya belum shalat Dhuhur.”

      Kalau kemudian saya diizinkan untuk shalat di masjid dalam kampus itu, berarti kedua bapak tersebut faham dan mengerti hakikat sandal jepit, sepatu, masjid, dan kampus. Beliau berdua bisa menempatkan sandal jepit, sepatu, masjid, dan kampus secara proporsional. Aturan kampus berarti juga telah dibuat secara proporsional dan realistis. Dan saya yakin kampus tersebut harga dirinya memang tinggi, karena sandal jepit karet saya (memang) tidak mampu menurunkan martabat kampus tersebut sedikitpun. Kalaupun terpaksanya harga diri kampus itu rendah, pasti yang menjadi penyebabnya bukan karena pijakan-pijakan sandal jepit. Sandal jepit terlalu kerdil dan tak cukup kuat untuk mampu merobohkan harga diri kampus segedhe itu yang sudah dibangun dengan biaya mahal, seleksi ketat orang-orang pandai yang hendak studi di kampus tersebut, dan prestasi membanggakan yang telah ditorehkan kampus tersebut.

      Namun, kalau kemudian beliau berdua berkata seperti ucapan pada kejadian saya di atas,

      “Pokoknya nggak boleh masuk! Shalat di masjid lainnya saja! Sudah sana, keluar saja!”

       Saya benar-benar tidak mampu untuk berkomentar.

 

(Hifni Mukhtar Ariyadi)

Condongcatur, 2 Shafar 1426

 

Agustus 26, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Lepas...! | | 1 Komentar