:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Tantangan di Kehadiran Idul Fitri

Kehadiran Idul Fitri adalah buah kemenangan umat islam atas perjuangan selama bulan Ramadhan. Di antara makna idul fitri adalah kembali kepada fitrah, yakni fitrah kehidupan manusia umumnya dan biasanya.

Selama bulan Ramadhan, kita menjalani kehidupan yang tidak biasanya, karena selama satu bulan penuh, kita berpuasa. Berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang biasanya kita amalkan secara rutin pada siang hari, seperti sarapan pagi, makan siang, dan yang lainnya. Juga berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang boleh kita amalkan pada siang hari, seperti berhubungan dengan istri, dan seterusnya. Dan kita menjalankan aktivitas-aktivitas yang tidak biasa kita jalani, seperti makan sahur pada sebelum fajar.

Maka, idul fitri adalah kembalinya ritme kehidupan kita seperti biasanya, seperti manusia pada umumnya. Pola makan, dan juga aktivitas-aktivitas harian kita, kembali seperti semula.

Dalam Idul Fitri pula kembali kita dibukakan pintu-pintu untuk menguji kualitas keimanan dan ketaqwaan kita. Sejauh mana kita mampu mempertahankan – atau bahkan peningkatan lagi – kualitas ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah, atas peningkatan kualitas ubudiyyah yang kita jalankan selama bulan Ramadhan, akan terlihat setelah datangnya Idul Fitri dan berakhirnya Ramadhan.

Sudah menjadi hal yang lumrah, khususnya dinegeri kita, juga di negeri mayoritas muslim, bahwa selama bulan Ramadhan, semua yang ada di sekitar kita, dan juga kita sendiri mengkondisikan sehingga selama bulan puasa itu, semua ibadah dijadikan mudah untuk di amalkan, dan kemaksiatan dijadikan sulit untuk diamalkan, bahkan untuk didekati. Kajian-kajian keislaman, peluang infak dan sedekah, tilawah, shalat sunnah, begitu mudah ditemui dan begitu mudah diamalkan. Tempat-tempat hiburan ditutup, acara-acara televise berubah menjadi “tampak” islami, sehingga kita, bahkan tak sempat memikirkan dan melihat kemaksiatan.

Begitu pula, Allah telah memberikan kepada ummat yang diwajibkan berpuasa, dengan kemudahan-kemudahan untuk melakukan amal kebaikan dan kesulitan untuk melakukan kemaksiatan. Amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, dan setan-setan dibelenggu oleh Allah.

Begitulah, Allah telah memberikan pelajaran, pelatihan, sekaligus perjuangan yang sesungguhnya dalam bulan Ramadhan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman—yang mendapatkan kewajiban berpuasa—menjadi orang-orang yang bertakwa.

Dan kemudian, setelah Ramadhan usai, dan Idul Fitri datang, tantangan yang sesungguhnya kembali menghadang. Karena semuanya telah kembali seperti semula. Seperti tatanan pada umumnya. Di sekeliling kita menjadi sekular, tak ada nuansa islam lagi. Acara-acara televisi kembali campur aduk. Tak ada lagi lipat ganda pahala, dan setan-setan dilepaskan kembali. Kemaksiatan menebar kembali di mana-mana.

Mempertahankan selalu lebih sulit daripada mendapatkan. Dan, bertahan dalam kondisi “tidak nyaman” selalu lebih sulit daripada meningkatkan namun dalam kondisi “nyaman”. Dan pada gilirannya, setelah Ramadhan, kita ditantang, untuk mempertahankan kualitas keimanan, ketaqwaan kita, yang telah kita rengkuh sedemikian nikmatnya pada bulan Ramadhan. Namun, kali ini lebih berat, yaitu mempertahankan kualitas ubudiyyah kita dalam keadaan fitri, keadaan yang biasanya, dalam keadaan yang penuh godaan dan cobaan di sekeliling kita, setelah kita mendapatkannya dalam kondisi yang “mudah” di bulan Ramadhan.

Sanggupkah kita?

Cilandak, 7 Syawal 1429

Hifni M. Ariyadi

Oktober 12, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah | | No Comments Yet

Berkata Baik Atau Diam

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas tampaknya sederhana, mudah diamalkan.

Dan memang demikianlah adanya. Hadits diatas sangatlah sederhana, dan mudah diamalkan. Berkata-kata yang baik, atau memilih diam, adalah mudah bagi semua orang. Begitupun dengan memuliakan tetangga dan memuliakan tamu, adalah perkara yang sederhana, yang seharusnya bias dilakukan oleh semua muslim.

Amalan-amalan tersebut hanya sulit dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai komitmen terhadap agamanya, tidak mempunyai komitmen terhadap sunnah Rasulullah saw.

Setelah mengetahui isi hadits tersebut maka kewajiban selanjutnya adalah mengamalkan dan mendakwahkan isi hadits tersebut, dengan penuh keikhlasan dan keimanan.

***

Aku terkejut, bahwa ternyata aku sendiri hampir saja melupakan hadits itu.

Berada di lingkungan dengan orang-orang yang berperangai cenderung keras dan (cenderung) jauh dari nilai agama, tentu diperlukan kehati-hatian dalam berdakwah. Namun kehati-hatian telah kuterjemahkan menjadi kelambanan, dan tak ada nilai substantif dari apa-apa yang kukatakan. Perkataan yang baik menjadi perkataan yang hambar dan tanpa makna. Dan akhirnya aku hanya menjadi aku untuk diriku sendiri, tanpa ada nilai-nilai kebaikan yang mampu kusebarkan ke orang-orang di sekitarku.

Ingatanku justru digedor-gedor secara tak sengaja oleh seorang mantan santri. Benar-benar mantan santri! Kini dia sudah menjadi orang yang, menurut dia sendiri, adalah orang yang salah pergaulan, hingga menjadikan status santrinya menjadi ”mantan”.

Di radio handy talky, pada suatu siang di saat rekan-rekan kami bercanda tak bermutu, maka secara tiba-tiba si mantan santri itu, mengucapkan dengan fasih bunyi hadits ke lima belas Arba’in An-Nawawiyyah itu. Aku kaget alang-kepalang. Dia masih begitu lancar melafalkan hadits itu. Aku coba-coba sendiri untuk melafalkankan dalam hatiku, apakah aku masih menghafalnya dengan baik. Ternyata perlu waktu lama untuk kembali memperbaiki ingatanku akan hadits ini. Hadits yang sederhana namun kaya makna.

Dan di sini, aku sendiri belum mampu menjaga kebaikan-kebaikan yang ada pada diriku. Tarbiyah Dzatiyah, dan Ri’ayah Ma’nawiyah masih perlu digembleng habis-habisan di dunia yang terasing ini. Maka belum pula mampu aku mengatakan kebaikan kepada mereka. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali. Belum mampu aku mengajak dengan lisanku untuk mengamalkan kebaikan, apa lagi menghindari kemaksiatan yang sering mereka lakukan secara terang-terangan. Yang ada hanyalah perkataan hambar tak bermakna, dan amal-amal individu yang aku sendiri tetap berharap semoga ada pancaran kebaikan darinya. Pancaran kebaikan yang terus menyinari hati-hati orang-orang di sekitarku. Semoga.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, karuniakanlah kesabaran kepada kami dan ilhamkanlah taubat kepada kami

Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.

Siak, Riau, Juni 2008


Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah | | No Comments Yet

Untuk Pemuda dan Mahasiswa

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap keangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.” (Hasan Al-Banna)

Sejarah telah membuktikan, bahwa tonggak peubahan dan kebangkitan ada di tangan para pemuda. Hal ini berlaku untuk segala macam perubahan, termasuk di dalamnya adalah dakwah dan kebangkitan Islam. Dari sisi manapun, pemuda merupakan asset penting dalam sebuah perubahan.

Tentunya, untuk sebuah perubahan menuju kepada kebangkitan, di samping mensyaratkan adanya pemuda, juga perlu adanya syarat-syarat pendukung, agar perubahan itu berjalan menuju ke arah positif, ke arah perbaikan dan bukan sebaliknya, ke arah kehancuran.

Di antara syarat syarat yang diperlukan agar pemuda menjadi agen perubahan adalah adanya rasa keimanan yang kuat, keikhlasan dalam berjuang di jalannya, bersemangat dalam merealisasikannya, kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya.

Akan tetapi satu hal penting yang menjadi asas fundamental dalam persyaratan itu semua adalah pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap dakwah dan Islam. Tanpa adanya pemahaman yang sempurna, maka, seorang pemuda hanya akan menjadi agen perubahan yang tidak seimbang di sana-sini, jalannya timpang, dan perubahan yang terjadi adalah perubahan yang tidak utuh dan parsial.

Pemahaman yang harus diketahui oleh setiap pemuda yang mendedikasikan dirinya sebagai agen perubahan dan kebangkitan Islam adalah pemahaman dan keyakinan akan fikrah yang benar. Fikrah itu adalah Islam yag hanif, sempurna, dan tanpa cacat, dan bersih tidak terkotori oleh ideologi-ideologi lainnya. Selain itu, perlu pemahaman akan tujuan dan tahapan-tahapan dakwah Islam, berikut sarana-sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Tujuan-tujuan tersebut harus diketahui sejara jelas, mulai dari perbaikan individu menjadi individu muslim yang benar-benar muslim dari berbagai sisi, baik itu akidahnya, pemikirannya, ibadahnya, dan akhlaknya, hingga tujuan yang paling besar yang harus dipahami dengan baik yaitu berkibarnya panji Islam memenuhi jagad raya, serta mendakwahkannya kepada seluruh alam.

Pemahaman berikutnya, adalah peahaman yang benar bahwa perubahan yang harus dilakukan haruslah menyeluruh. Tahapan dan sarana yang ada juga harus menyeluruh dan seimbang, tidak boleh berat sebelah. Adalah salah, jika hanya membatasi pada permasalahan ibadah saja, adalah salah pula, ketika menganggap perubahan hanya bisa dilakukan pada aspek ideologi saja, di mana hanya menyerukan pada satu ideologi buatan manusia, seperti nasionalisme sempit, rasialisme, dan pembedaan status sosial.

Setelah memahami secara utuh danmenyeluruh dari karakter-karakter berikut tujuan dan sarana darifikrah Islam yang hanif tersebut, maka amal pertama yang harus dilakukan adalah menyampaikan kepada manusia tentang risalah Islam ini secara utuh dan sempurna pula, tanpa menambahi dan menguranginya. Disamping itu dalam tataran praktis, perubahan perubahan harus mulai digerakkan, untuk menegakkan nilai-nilai Islam pada berbagai sektor dan dimensi yang ada dalam masyarakat secara bertahap dan berkesinambungan. Sektor politik, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya harus dapat terayomi dengan nilainilai Islam.

Setiap orang yang berjuang, pasti membutuhkan perbekalan. Begitu pula setiap orang yang akan berjuang dalam perubahan menuju kebangkitan Islam. Perbekalan tersebut adalah keimanan yang tulus, dalam dan kuat. Disamping itu, yang juga menjadi perbekalan utama adalah jihad, kesungguhan, dan pengorbanan.

Hal itulah yang menjadi dasar-dasar utama yang harus diketahui oleh pemuda, sebagai agen perubahan dan kebangkitan, agar dapat melakukan kerja yang sempurna untuk mewujudkan kebangkitan dan perubahan menuju ke


arah kebaikan.

Wallahu A’lam.

Diringkas dari buku Majmu’atur Rasail karya Hasan Al-Banna

Bab Kepada Para Pemuda dan Secara Khusus Kepada Para Mahasiswa

Oleh Hifni M. Ariyadi

23 Ramadhan 1428

Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam | | No Comments Yet

Al-Quran Sebagai Kitab Ilmu Pengetahuan

Allah SWT berfirman

“ Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan Qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1 – 5)

Ayat-ayat ini merupakan ayat-ayat Al-Quran yang pertama kali diturunkan, yang merupakan permulaan rahmat dan nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Salah satu kenikmatan tersebut adalah ilmu, yang dengan adanya ilmu tersebut, manusia dimuliakan dan dihormati. Ilmu pengetahuan merupakan keistimewaan Adam atas para malaikat, di mana Allah mengajarkan nama-nama benda yang nama-nama tersebut tidak diketahui oleh malaikat. Dalam ayat ini Allah menyatakan megajarkan ilmu kepada manusia melalui perantaraan Qalam.

Ilmu pengetahuan yang dimaksudkan adalah ilmu-ilmu eksak, seperti ilmu fisika, biologi, kimia, ilmu falak, kedokteran, maupun ilmu-ilmu sosisal, seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, sastra, dan lain-lain. Termasuk pula di dalamnya adalah ilmu-ilmu agama, seperti aqidah, ibadah, akhlaq, muamalah, fiqh dan lain-lain.

Al-Quran tidak hanya menyebutkan secara eksplisit semua ilmu pengetahuan tersebut. Namun Al-Quran memerintahkan kepada manusia untuk menuntut ilmu. Dalam hal ini Al-Quran telah menyebutkan dalam banyak ayat, tentang urgensi ilmu pengetahuan, kedudukan orang yang beriman dan berilmu, etika menuntut dan menyampaikan ilmu, etika dalam majelis ilmu, keburukan dan akibat orang-orang yang tidak mau menuntut ilmu, dan lain-lain.

Urgensi Ilmu Pengetahuan dan Kedudukan Orang Berilmu

Allah SWT berfirman

“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah:269)

Allah telah menyebutkan bahwa orang yang telah diberi ilmu (al-hikmah) adalah orang yang mendapat anugerah yang banyak, mengingat pentingnya ilmu tersebut bagi manusia.

Ilmu pengetahuan yang bermanfaat akan semakin mempertebal keimanan seseorang dan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7)

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa’:162)

Allah secara tegas menyatakan akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu. Dua syarat tersebut, yakni beriman dan berilmu, harus dipenuhi dalam diri seseorang untuk meraih derajat yang tinggi. Dan ilmu akan melebihkan seseorang dari hamba-hamba yang beriman lainnya.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)

“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman.” (QS. An-Naml:1 5)

Ayat-ayat Ilmu Pengetahuan dalam Al-Quran

Salah satu fungsi al-Quran adalah sebagai kitab ilmu pengetahuan. Namun demikian, Al-Quran bukanlah kitab ilmiah/kitab sains murni seperti kitab-kitab sains selama ini. Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi kebahagiaan dunia dan akhirat, termasuk pula di dalam nya adalah petunjuk tersirat dan tersurat tentang berbagai ilmu pengetahuan.Hakikat ilmu-ilmu pengetahuan yang disebut dalam Al-Quran disebutkan secara singkat namun padat makna, sehingga untuk mengungkap makna yang terkandung di dalamnya, perlu dilakukan kajian yang sangat mendalam, karena keterbatasan ilmu manusia dan luasnya ilmu Allah SWT. Adapun seringkali ditemukan beberapa kasus yang seolah-olah bertentangan antara hasil temuan manusia dengan Al-Quran, pada hakikatnya kesalahan itu terletak pada metodologi tafsir maupun keterbatasan akal manusia saja. Sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini dalam ilmu biologi, yang selama lebih dari satu abad mayoritas umat manusia mempercayai adanya teori evolusi, teori asal mula kehidupan yang terjadi secara bertahap dan secara kebetulan, serta menafikkan adanya penciptaan. Akan tetapi, teori-teori yang salah ini akhirnya dapat dipatahkan oleh cendekiawan muslim, Harun Yahya, dengan sangat telak. Asal mula kehidupan tetap dengan adanya penciptaan dan kehendak Tuhan. Hal ini telah ditulis Harun Yahya dalam banyak karyanya. Dalam hal ini, Al-Quran selalu bersesuaian dengan ilmu pengetahuan, namun akal manusia belum menguasai ilmu-ilmu tersebut.

Diantara ayat-ayat Al-Quran yang mengandung isyarat ilmiah dan ilmu pengetahuan antara lain

1. Tentang Penciptaan

QS. Al-Qiyamah: 36 – 39, QS. An-Najm: 45 – 46, QS. Al-Waqi’ah: 58 – 59

2. Tentang Asal Mula Alam Semesta

QS. Al-Anbiya’:30, QS. Az-Dzariyaat:53

3. Tentang Gerakan Awan

QS. An-Nuur: 43

4. Tentang Ilmu Geologi

QS. An-Naml: 88

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang ilmu pengetahuan, seperti tentang pengobatan dengan madu, tentang fotosintesis tumbuhan, ilmu kelautan, tentang kalender syamsiyah dan qomariyah, dan lain-lain.

Kesimpulan

Al-Quran bukanlah kitab sains murni, namun demikian Al-Quran tetap berfungsi sebagai kitab ilmu pengetahuan. Al-Quran mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa menuntut ilmu, mengamalkannya, serta menularkannya kepada orang lain. Barangsiapa telah menunaikan hal tersebut, maka orang tersebut telah mendapatkan kebaikan yang banyak. Adapun beberapa ayat dalam Al-Quran yang mengisyaratkan tentang hal-hal ilmiah di alam semesta, hal tersebut merupakan mukjizat bayani bagi Al-Quran serta untuk menambah keimanan bagi orang yang beriman.

Maraji’:

1. Dr. Yusuf Al-Qaradhawy, Fatwa-fatwa Kontemporer 3, Pustaka Al-Kautsar

2. Harun Yahya, Keruntuhan Teori Evolusi, E-Book

3. Ibnu Katsir, Tafsir Juz ‘Amma, Pustaka ‘Azzam

4. M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Mizan

Agustus 26, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Kajian Islam | | & Komentar

Ringkasan Hadits Arba’in An-Nawawiyyah (Hadits 7 – 13)

1. Hadits 7

Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad-Daari r.a., sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Sabda beliau: “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim.” (HR. Muslim)

Kata ‘nasihat’ merupakan kata yang singkat namun padat maknanya. Dalam bahasa Arab tidak ada sinonim yang pengertiannya setara dengan kata ini. Nasihat berarti ucapan yang ditujukan kepada seseorang agar orang yang dinasihati mendapatkan kebaikan.

Kalimat ‘agama adalah nasihat’ maksudnya adalah nasihat berfungsi sebagai tiang dan penopang-penopang agama, sebagaimana halnya sabda Nabi saw. “Haji adalah ‘Arafah” maksudnya wukuf di ‘Arafah adalah tiang dan bagian terpenting dari haji.

Khatabi dan ulama lainnya menafsirkan hadits ini:

Pertama, nasihat untuk Allah, maksudnya adalah beriman kepada Allah, menjauhi syirik dan ingkar kepada sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, menyucikan-Nya, dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhi diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci semata mata karena-Nya, berjihad di jalannya, bersyukur atas nikmat-Nya, ikhlas, dan berlemah lembut.

Kedua, nasihat untuk kitab-Nya, maksudnya adalah beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada rasul-Nya, membaca dan melafazkannnya dengan baik, menjaganya, dan mempelajari dan mengamalkan ilmunya, serta mendakwahkannya kepada manusia.

Ketiga, nasihat untuk rasul-Nya, maksudnya adalah membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati semua perintahnya dan larangannya, membela semasa hidup maupun sesudah matinya, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghidupkan sunnahnya, mengajak manusia kepada ajaran-ajaran beliau saw., dan meniru akhlak dan kesopanannya.

Keempat, nasihat untuk para pemimpin umat Islam, maksudnya adalah menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintahnya dan memperingatkan kesalahannya dengan lemah lembut, memberi tahu mereka jika lupa, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka, dan berjihad bersama mereka, mendoakannya agar mendapat kebaikan.

Kelima, nasihat untuk semua kaum muslimin, artinya memberikan bimbingan danbantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, beramar ma’ruf dan nahi munkar dengan sikap santun dan kasih sayang, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, dan melindungi harta dan kehormatan mereka.

2. Hadits 8

Dari Ibnu ‘Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat, dan mengeluarkan zakat. Barang siapa telah melaksanakannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dalam Islam, dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini telah digunakan sebagai hujjah oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. di masa kekhalifahannya untuk memerangi orang-orang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Sehingga Umar bin Khattab ra. mengikuti jejak Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.untuk memerangi kaum tersebut.

Kalimat ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia…’ menurut Khathabi dan ulama lainnya adalah memerangi kaum penyembah berhala, kaum musyrik Arab, dan orang yang tidak mau beriman, bukan golongan ahli kitabdan mereka yang mengakui keesaaan Allah. Sedangkan bukti keimanan atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad saw. adalah dengan melaksanakan shalat dan menunaikan zakat.

Kalimat ‘…dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta’ala.’ maksudnya adalah hal-hal yang mereka rahasiakan atau sembunyikan, terutama pada masalah niat, karena seseorang tidak dapat menilai niat orang lain, dan hanya Allah yang mengetahui isi hati dan niat seseorang.

3. Hadits 9

Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr r.a., ia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi, dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat ‘Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi’ menunjukkan adanya sifat mutlak untuk meninggalkan semua larangan, kecuali jika terdapat udzur di dalamnya, maka hal demikian tidak apa-apa. Seperti memakan bangkai dalam keadaan darurat dengan tidak berlebihan. dalam keadaan tidak darurat, semua larangan harus ditinggalkan tanpa kecuali, karena pada dasarnya meninggalkan larangan adalah hal yang tidak memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan yang banyak. Hal ini berbeda dengan melaksanakan perintah, dimana sebagian besar hal-hal yang disyariatkan dalam Islam memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan.

Kalimat ‘dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu.’ merupakan kalimat yang singkat namun padat makna dan menjadi prinsip penting dalam Islam. Pelaksanaan setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. hal ini karena setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan, sedangkan kemampuan masing-masing individu tidak sama. Sebagai contoh adalah shalat. Seseorang yang tidak mampu berdiri, boleh melakukan shalat dengan duduk sesuai dengan kemampuannya. Begitu pula dalam membayar zakat, jika seseorang tidak mampu membayar untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka hendaknya membayar sesuai dengan kemampuannya.

Kalimat ‘Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka.’ adalah sebuah larangan untuk terlalu banyak bertanya, yang jika diberikan jawabannya justru akan semakin mempersulit diri sendiri, sehingga sulit untuk menunaikan perintah, ibadah ataupun amanah dengan sempurna. hal ini telah tercatat dalam sejarah, ketika Bani Israil diperintahkan untuk menyembelih seekor lembu, namun mereka bnyak bertanya dengan pertanyaan yang akhirnya menyulitkan mereka.

4. Hadits 10

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw.: ‘Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah kami berikan kepadamu. Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu, menengadahkan kedua tangannyake langit seraya berdoa: ‘Wahai tuhan, Wahai Tuhan,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan makanan yang haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya?” (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran untuk membelanjakan sebagian harta (rezeki) yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya hendaknya harus terjamin kehalalannya tanpa tercampur dengan syubhat.

Hadits ini juga menjelaskan tentang adab-adab berdoa, dan syarat diterimanya amal. Orang yang berdoa hendaknya memperhatikan kehalalan harta yang didapat dan yang dibelanjakannya. Selain itu menengadahkan tangan saat berdoa merupakan salah satu dari adab berdoa. Doa dan amal tersebut, meskipun telah dilakukan dengan sebaik-baiknya, kemakbulannya tergantung pada harta, pakaian, makanan, dan minuman yang dikonsumsinya. Jika seseorang mengkonsumsi dari harta yang haram, maka doanya dan amal baiknya tidak dapat dikabulkan. Namun jika mengkonsumsi dari harta yang halal, niscaya doa dan amal baiknya akan dikabulkan oleh Allah.

5. Hadits 11

Dari Abu Muhammad, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah saw. dan kesayangan beliau telah berkata: “Aku telah menghafal (sabda) dari Rasulullah saw.: ‘Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa-apa yang tidak meragukan kamu.’” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i, berkata Tirmidzi: ini adalah hadits hasan shahih)

Hadits ini ringkas namun padat makna. Maksud hadits ini adalah perintah untuk meninggalkan segala sesuatu yang menjadikan kamu ragu-ragudan berganti kepada hal-hal yang tidak meragukan. Hal ini kembali kepada pengertian dari hadits keenam, yaitu meninggalkan perkara syubhat, yaitu pekara yang samar dan meragukan yang berada diantara batas halal dan haram.

6. Hadits 12

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw.: ‘Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.’” (HR. Tirmidzi, hadits hasan)

Salah satu ciri orang mukmin adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. hadits yang senada dengan hadits di atas adalah hadits yang berbunyi ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka dia akan berkata yang baik atau lebih baik diam’ Artinya, seorang yang beriman akan meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat, dan hanya berbicara dengan perkataan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula dalam amal-amalnya, seorang mukmin akan meninggalkan amal-amal yang tidak bermanfaat dan hanya melakukan amal-amal yang bermanfaat saja. Imam Al-Hasan ra. meriwayatkan, ia berkata: “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang yaitu apabila orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiatnya.”

7. Hadits 13

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., pelayan Rasulullah saw., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama berkata bahwa arti kata ‘tidak beriman’ ialah imannya tidak sempurna dan bukan berarti tidak memiliki iman sama sekali. Hal ini senada dengan makna hadits-hadits lain yang meggunakan redaksi ini.

Sedangkan maksud kalimat ‘mencintai milik saudaranya’ berarti mencintai hal-hal kebajikan atau hal-hal yang mubah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan melakukan amal amal yangbaik bagi dirinya namun baik pula dampaknya bagi orang lain.

Hadits ini secara umum menegaskan pentingnya hak persamaan atas umat manusia, dan menolak egoisme dan tinggi hati. Hadits ini, oleh sebagian ulama juga dimaknai bahwa seorang mukmin dengan mukmin yang lain adalah laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sesama muknin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Wallahu a’lam

Agustus 19, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Kajian Islam | | No Comments Yet