:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Tantangan di Kehadiran Idul Fitri

Kehadiran Idul Fitri adalah buah kemenangan umat islam atas perjuangan selama bulan Ramadhan. Di antara makna idul fitri adalah kembali kepada fitrah, yakni fitrah kehidupan manusia umumnya dan biasanya.

Selama bulan Ramadhan, kita menjalani kehidupan yang tidak biasanya, karena selama satu bulan penuh, kita berpuasa. Berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang biasanya kita amalkan secara rutin pada siang hari, seperti sarapan pagi, makan siang, dan yang lainnya. Juga berpuasa dari aktivitas-aktivitas yang boleh kita amalkan pada siang hari, seperti berhubungan dengan istri, dan seterusnya. Dan kita menjalankan aktivitas-aktivitas yang tidak biasa kita jalani, seperti makan sahur pada sebelum fajar.

Maka, idul fitri adalah kembalinya ritme kehidupan kita seperti biasanya, seperti manusia pada umumnya. Pola makan, dan juga aktivitas-aktivitas harian kita, kembali seperti semula.

Dalam Idul Fitri pula kembali kita dibukakan pintu-pintu untuk menguji kualitas keimanan dan ketaqwaan kita. Sejauh mana kita mampu mempertahankan – atau bahkan peningkatan lagi – kualitas ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah, atas peningkatan kualitas ubudiyyah yang kita jalankan selama bulan Ramadhan, akan terlihat setelah datangnya Idul Fitri dan berakhirnya Ramadhan.

Sudah menjadi hal yang lumrah, khususnya dinegeri kita, juga di negeri mayoritas muslim, bahwa selama bulan Ramadhan, semua yang ada di sekitar kita, dan juga kita sendiri mengkondisikan sehingga selama bulan puasa itu, semua ibadah dijadikan mudah untuk di amalkan, dan kemaksiatan dijadikan sulit untuk diamalkan, bahkan untuk didekati. Kajian-kajian keislaman, peluang infak dan sedekah, tilawah, shalat sunnah, begitu mudah ditemui dan begitu mudah diamalkan. Tempat-tempat hiburan ditutup, acara-acara televise berubah menjadi “tampak” islami, sehingga kita, bahkan tak sempat memikirkan dan melihat kemaksiatan.

Begitu pula, Allah telah memberikan kepada ummat yang diwajibkan berpuasa, dengan kemudahan-kemudahan untuk melakukan amal kebaikan dan kesulitan untuk melakukan kemaksiatan. Amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, dan setan-setan dibelenggu oleh Allah.

Begitulah, Allah telah memberikan pelajaran, pelatihan, sekaligus perjuangan yang sesungguhnya dalam bulan Ramadhan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman—yang mendapatkan kewajiban berpuasa—menjadi orang-orang yang bertakwa.

Dan kemudian, setelah Ramadhan usai, dan Idul Fitri datang, tantangan yang sesungguhnya kembali menghadang. Karena semuanya telah kembali seperti semula. Seperti tatanan pada umumnya. Di sekeliling kita menjadi sekular, tak ada nuansa islam lagi. Acara-acara televisi kembali campur aduk. Tak ada lagi lipat ganda pahala, dan setan-setan dilepaskan kembali. Kemaksiatan menebar kembali di mana-mana.

Mempertahankan selalu lebih sulit daripada mendapatkan. Dan, bertahan dalam kondisi “tidak nyaman” selalu lebih sulit daripada meningkatkan namun dalam kondisi “nyaman”. Dan pada gilirannya, setelah Ramadhan, kita ditantang, untuk mempertahankan kualitas keimanan, ketaqwaan kita, yang telah kita rengkuh sedemikian nikmatnya pada bulan Ramadhan. Namun, kali ini lebih berat, yaitu mempertahankan kualitas ubudiyyah kita dalam keadaan fitri, keadaan yang biasanya, dalam keadaan yang penuh godaan dan cobaan di sekeliling kita, setelah kita mendapatkannya dalam kondisi yang “mudah” di bulan Ramadhan.

Sanggupkah kita?

Cilandak, 7 Syawal 1429

Hifni M. Ariyadi

Oktober 12, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah | | No Comments Yet

Memandang Dunia

Dari Abdullah ra., dari Nabi saw, beliau bersabda, “Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia seperti seorang pengembara,” beliau bersabda, “di bawah lindungan pohon pada hari yang panas, kemudian ia pergi pada sore hari dan meninggalkannya.”

(HR. Imam Ahmad, dalam kitab Az-Zuhd)

Dalam memandang dunia, manusia berbeda-beda sikapnya. Tergantung pula kepada pemahaman dan kapasitas keilmu-arifan yang dimilikinya.

Ada manusia yang menganggap dunia ini adalah kesenangan dan satu-satunya kehidupan dalam dirinya. Sehingga dia melakukan apa saja yang menyenangkan bagi dirinya, karena tak mungkin lagi dia mendapatkan “dunia” yang sama ataupun lain setelah dia mati. Kesenangan dan kesuksesan di dunia saja yang diharapkan dan dilakukannya.

Ada manusia yang menganggap dunia adalah tempat bersenang-senang sebelum memasuki alam kubur. Dia yakin bahwa akhirat ada, namun yang dilakukannya adalah menunda pertaubatan dan amal-amal kebaikannya seolah-olah dia sendirilah tuhan, yang menentukan hidup-matinya. Maka, yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan nafsunya sebanyak mungkin.

Dan Sang Manusia Sempurna, telah memilih untuk tidak mau berurusan dengan dunia. Dunia hanyalah bagian dari anak tangga, untuk mempersiapkan pijakan kaki sekuat mungkin agar tidak terjatuh saat mendaki anak tangga hingga anak tangga yang terakhir. Dunia hanyalah tempat berteduh, untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan kembali bekal yang akan dibawa untuk sampai ke tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidupnya.

Ada di posisi manakah kita?

8 Jumadil Akhir 1429

Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Muhasabah | | No Comments Yet

Dunia Dakwah yang Belum Tersentuh

Adalah sebuah hal yang menakjubkan sekaligus menantang ketika kita ternyata tiba-tiba menghadapi, dan berada dalam sebuah dunia baru, dunia yang sebelumnya tak pernah kita bicarakan dalam diskusi-diskusi halaqoh, tak pernah kita lihat dalam acara-acara televisi, dan tak pernah kita dengar dalam ceramah-ceramah maupun siaran di radio.

Maksud saya tentang hal yang menantang adalah tentu saja bagaimana kita harus belajar cepat beradaptasi dengan, kalaupun pernah kita bicarakan, diskusikan, dan lihat, kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kultur dimana kita dibesarkan. Tantangan kedua adalah bagaimana kita, dengan proses adaptasi yang menuntut waktu secepat-cepatnya agar bisa segera sesuai dan diterima masyarakat sekitar kita, kita harus menyebarkan nilai-nilai kebaikan sekaligus memelihara nilai-nilai kebaikan itu, minimal dalam diri kita sendiri. Lebih menantang lagi, jika dalam proses-proses itu, yaitu – dalam istilah saya – adaptasi, propagasi, dan maintenance kebaikan, kita berada dalam segala keterbatasan. Akses komunikasi, transportasi, dan bahkan akses tarbiyah yang sangat terbatas sekaligus tuntutan-tuntutan agar kita tetap bisa hidup terus menghimpit kita ditengah-tengah kewajiban kita untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan sebanyak mungkin, bahkan jika mampu, membinanya dan mentarbiyahnya menjadi bagian dari generasi yang kita harapkan.

Sebuah, atau beberapa buah objek dakwah telah mananti kita, dalam suatu lingkungan yang benar-benar baru, belum pernah tersentuh oleh dakwah, kecuali hanya pada tempat tinggalnya. Itupun belum tentu ada. Sedangkan tempat kerjanya, di lingkungan yang tak pasti dan terus menerus berpindah-pindah, menuntut kita untuk terus bisa bertahan hidup, beradaptasi, memetakan, merencanakan, dan kemudian mengejawantahkannya menjadi amal nyata sebagai wujud nyata partisipasi kita dalam berdakwah. Berdakwah di dunia yang belum tersentuh. Berdakwah di dunia yang berpindah-pindah. Berdakwah di dunia dengan penghuni yang berganti-ganti.

Siapkah kita?

* Sebagai refleksi atas ketergagapanku ketika memasuki dunia lapangan pengeboran minyak *

Prabumulih, 3 Mei 2008


Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Muhasabah | | No Comments Yet

Berkata Baik Atau Diam

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas tampaknya sederhana, mudah diamalkan.

Dan memang demikianlah adanya. Hadits diatas sangatlah sederhana, dan mudah diamalkan. Berkata-kata yang baik, atau memilih diam, adalah mudah bagi semua orang. Begitupun dengan memuliakan tetangga dan memuliakan tamu, adalah perkara yang sederhana, yang seharusnya bias dilakukan oleh semua muslim.

Amalan-amalan tersebut hanya sulit dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai komitmen terhadap agamanya, tidak mempunyai komitmen terhadap sunnah Rasulullah saw.

Setelah mengetahui isi hadits tersebut maka kewajiban selanjutnya adalah mengamalkan dan mendakwahkan isi hadits tersebut, dengan penuh keikhlasan dan keimanan.

***

Aku terkejut, bahwa ternyata aku sendiri hampir saja melupakan hadits itu.

Berada di lingkungan dengan orang-orang yang berperangai cenderung keras dan (cenderung) jauh dari nilai agama, tentu diperlukan kehati-hatian dalam berdakwah. Namun kehati-hatian telah kuterjemahkan menjadi kelambanan, dan tak ada nilai substantif dari apa-apa yang kukatakan. Perkataan yang baik menjadi perkataan yang hambar dan tanpa makna. Dan akhirnya aku hanya menjadi aku untuk diriku sendiri, tanpa ada nilai-nilai kebaikan yang mampu kusebarkan ke orang-orang di sekitarku.

Ingatanku justru digedor-gedor secara tak sengaja oleh seorang mantan santri. Benar-benar mantan santri! Kini dia sudah menjadi orang yang, menurut dia sendiri, adalah orang yang salah pergaulan, hingga menjadikan status santrinya menjadi ”mantan”.

Di radio handy talky, pada suatu siang di saat rekan-rekan kami bercanda tak bermutu, maka secara tiba-tiba si mantan santri itu, mengucapkan dengan fasih bunyi hadits ke lima belas Arba’in An-Nawawiyyah itu. Aku kaget alang-kepalang. Dia masih begitu lancar melafalkan hadits itu. Aku coba-coba sendiri untuk melafalkankan dalam hatiku, apakah aku masih menghafalnya dengan baik. Ternyata perlu waktu lama untuk kembali memperbaiki ingatanku akan hadits ini. Hadits yang sederhana namun kaya makna.

Dan di sini, aku sendiri belum mampu menjaga kebaikan-kebaikan yang ada pada diriku. Tarbiyah Dzatiyah, dan Ri’ayah Ma’nawiyah masih perlu digembleng habis-habisan di dunia yang terasing ini. Maka belum pula mampu aku mengatakan kebaikan kepada mereka. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali. Belum mampu aku mengajak dengan lisanku untuk mengamalkan kebaikan, apa lagi menghindari kemaksiatan yang sering mereka lakukan secara terang-terangan. Yang ada hanyalah perkataan hambar tak bermakna, dan amal-amal individu yang aku sendiri tetap berharap semoga ada pancaran kebaikan darinya. Pancaran kebaikan yang terus menyinari hati-hati orang-orang di sekitarku. Semoga.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, karuniakanlah kesabaran kepada kami dan ilhamkanlah taubat kepada kami

Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.

Siak, Riau, Juni 2008


Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam, Muhasabah | | No Comments Yet

Untuk Pemuda dan Mahasiswa

Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap keangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.” (Hasan Al-Banna)

Sejarah telah membuktikan, bahwa tonggak peubahan dan kebangkitan ada di tangan para pemuda. Hal ini berlaku untuk segala macam perubahan, termasuk di dalamnya adalah dakwah dan kebangkitan Islam. Dari sisi manapun, pemuda merupakan asset penting dalam sebuah perubahan.

Tentunya, untuk sebuah perubahan menuju kepada kebangkitan, di samping mensyaratkan adanya pemuda, juga perlu adanya syarat-syarat pendukung, agar perubahan itu berjalan menuju ke arah positif, ke arah perbaikan dan bukan sebaliknya, ke arah kehancuran.

Di antara syarat syarat yang diperlukan agar pemuda menjadi agen perubahan adalah adanya rasa keimanan yang kuat, keikhlasan dalam berjuang di jalannya, bersemangat dalam merealisasikannya, kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya.

Akan tetapi satu hal penting yang menjadi asas fundamental dalam persyaratan itu semua adalah pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap dakwah dan Islam. Tanpa adanya pemahaman yang sempurna, maka, seorang pemuda hanya akan menjadi agen perubahan yang tidak seimbang di sana-sini, jalannya timpang, dan perubahan yang terjadi adalah perubahan yang tidak utuh dan parsial.

Pemahaman yang harus diketahui oleh setiap pemuda yang mendedikasikan dirinya sebagai agen perubahan dan kebangkitan Islam adalah pemahaman dan keyakinan akan fikrah yang benar. Fikrah itu adalah Islam yag hanif, sempurna, dan tanpa cacat, dan bersih tidak terkotori oleh ideologi-ideologi lainnya. Selain itu, perlu pemahaman akan tujuan dan tahapan-tahapan dakwah Islam, berikut sarana-sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Tujuan-tujuan tersebut harus diketahui sejara jelas, mulai dari perbaikan individu menjadi individu muslim yang benar-benar muslim dari berbagai sisi, baik itu akidahnya, pemikirannya, ibadahnya, dan akhlaknya, hingga tujuan yang paling besar yang harus dipahami dengan baik yaitu berkibarnya panji Islam memenuhi jagad raya, serta mendakwahkannya kepada seluruh alam.

Pemahaman berikutnya, adalah peahaman yang benar bahwa perubahan yang harus dilakukan haruslah menyeluruh. Tahapan dan sarana yang ada juga harus menyeluruh dan seimbang, tidak boleh berat sebelah. Adalah salah, jika hanya membatasi pada permasalahan ibadah saja, adalah salah pula, ketika menganggap perubahan hanya bisa dilakukan pada aspek ideologi saja, di mana hanya menyerukan pada satu ideologi buatan manusia, seperti nasionalisme sempit, rasialisme, dan pembedaan status sosial.

Setelah memahami secara utuh danmenyeluruh dari karakter-karakter berikut tujuan dan sarana darifikrah Islam yang hanif tersebut, maka amal pertama yang harus dilakukan adalah menyampaikan kepada manusia tentang risalah Islam ini secara utuh dan sempurna pula, tanpa menambahi dan menguranginya. Disamping itu dalam tataran praktis, perubahan perubahan harus mulai digerakkan, untuk menegakkan nilai-nilai Islam pada berbagai sektor dan dimensi yang ada dalam masyarakat secara bertahap dan berkesinambungan. Sektor politik, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya harus dapat terayomi dengan nilainilai Islam.

Setiap orang yang berjuang, pasti membutuhkan perbekalan. Begitu pula setiap orang yang akan berjuang dalam perubahan menuju kebangkitan Islam. Perbekalan tersebut adalah keimanan yang tulus, dalam dan kuat. Disamping itu, yang juga menjadi perbekalan utama adalah jihad, kesungguhan, dan pengorbanan.

Hal itulah yang menjadi dasar-dasar utama yang harus diketahui oleh pemuda, sebagai agen perubahan dan kebangkitan, agar dapat melakukan kerja yang sempurna untuk mewujudkan kebangkitan dan perubahan menuju ke


arah kebaikan.

Wallahu A’lam.

Diringkas dari buku Majmu’atur Rasail karya Hasan Al-Banna

Bab Kepada Para Pemuda dan Secara Khusus Kepada Para Mahasiswa

Oleh Hifni M. Ariyadi

23 Ramadhan 1428

Juni 20, 2008 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Kajian Islam | | No Comments Yet

Pentas Budaya Kita (d/h Fenomena Aktivis Dakwah Masa Kini: Sebuah Otokritik)

          Dalam setahun terakhir ini, setidaknya ada tiga pementasan budaya yang benar-benar membuat saya terkagum-kagum. ‘Ajib jiddan, adalah predikat yang pantas disandang oleh tiga pementasan budaya tersebut. Dan pementasan yang semuanya diselenggarakan di Yogya ini semakin mengukuhkan keadaan bahwa Yogya adalah gudangnya seni dan budaya. Saya sungguh bangga ditakdirkan oleh Allah swt lahir dan dibesarkan di Yogya.

          Yang pertama, adalah pementasan monolog oleh Whani Darmawan yang bertajuk Metanietzsche: Boneka Sang Pertapa. Dipentaskan pada rangkaian acara Parade Puisi Putra Bangsa, 19 Agustus 2006 di Monumen SO 1 Maret 1949. Secara umum, parade puisi ini sungguh menakjubkan. Namun, penampilan Whani yang berisikan kritik tajam tentang potret buram kondisi keberagamaan di Indonesia ini, mampu membuat saya kagum dan angkat topi setelah pertunjukan hebat ini usai. Bahkan, penampilan para penyair kebanggaan saya di pentas itu – Emha Ainun Nadjib,  Taufiq Ismail, dan tak lupa WS. Rendra – menjadi seolah luput dari perhatian saya.

          Yang kedua, tentu saja lebih hebat dari pementasan Whani, adalah pentas teater Kiai Kanjeng pada refleksi setahun gempa Yogya, Sabtu 26 Mei 2007 di pelataran JEC. Karena saya datang terlambat, saya tidak tahu apa judul teater tersebut. Pementasan ini menggambarkan kesalahkaprahan masyarakat di negeri ini dalam melihat dan memaknai musibah gempa yang terjadi setahun sebelumnya. Juga, secara tajam mengkritik birokrat yang justru bahagia di atas penderitaan orang lain. Berebut proyek, tentu saja. Pasca gempa bagi sebagian kalangan birokrat adalah semacam bancakan yang ramai-ramai diperebutkan untuk mengenyangkan perut gendut mereka dan menumpulkan akal dan hati mereka. Yang membuat lebih menarik, tentu saja iringan musik khas komposisi orkestra Kiai Kanjeng. Pementasan ini ditutup dengan sedikit pemaknaan dan  muhasabah oleh Emha Ainun Nadjib dan lengkingan permainan biola Idris Sardi yang menggetarkan, yang juga diiringi musik khas komposisi orkestra Kiai Kanjeng.

          Yang ketiga, pastinya adalah best of the best dari pementasan budaya yang pernah saya lihat dalam setahun terakhir. Pementasan ini diselenggarakan Sabtu, 11 Agustus 2007 di lingkungan Fakultas MIPA UGM, bertajuk “Muktamar”. Dilihat dari judulnya saja, penampilan ini sudah terasa menggetarkan. Yang membuat saya kagum, di samping pementasannya yang digarap dengan apik, pementasan ini di mainkan oleh anak-anak muda. Semuanya lebih muda dari saya. Tidak ada pakar teater, budayawan, atau penyair di sini. Tak ada iring-iringan musik orkhestra. Namun penampilannya jauh mengungguli Whani Darmawan, Taufiq Ismail, dan WS. Rendra. Bahkan Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng sekalipun. Bakat seni mereka sungguh luar biasa.

          Pentas budaya ini sebenarnya, lebih mirip lenong dalam khasanah budaya Betawi. Pemain dan penonton dapat berperan aktif dalam pentas ini. Penonton dapat menjadi pemain, berkomentar, mengkritisi, dan pulang. Semua boleh datang, namun, tidak semua diundang. Pemainnya, tak kepalang tanggung. Ikhwan dan akhwat. Islam sekali kedengarannya. Setiap mendengar kata itu, saya selalu teringat pesan ustadz saya. Setidaknya ada sepuluh karakter yang membedakan antara kata benda ikhwan dan akhwat dengan cowok dan cewek. Berturut-turut saya menghafalkannya, mulai dari akidahnya selamat, ibadahnya benar, akhlaknya kokoh, hingga yang kesepuluh, memberikan manfaat bagi orang lain.

          Namun, ingat! Ini adalah pentas budaya. Ini adalah teater. Ini sandiwara. Sesuai namanya, sandiwara berasal dari sandhi yang bermakna simbol atau tanda dan warah yang berarti pengajaran dan pendidikan. Jadi kita harus benar-benar cerdas untuk mampu menerjemahkan dan mengambil pelajaran dari simbol-simbol yang tersembunyi. Jangan diambil makna zhahir-nya. Kalau hanya mengambil makna zhahir-nya, bisa-bisa Anda tersesat. Mirip dengan bagaimana kita menyikapi simbol-simbol dalam novel The Da Vinci Code.

          Sayang sekali, saya datang terlambat daam pentas ini. Saya tidak tahu bagaimana kejadian saat layar digulung, dan babak pertama dimulai. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada babak awal. Saat saya tanyakan kepada orang yang tidak lebih terlambat dari saya, ada tilawah? Tidak tahu. Ada taujih atau taushiyah? Tidak ada.

          Mendadak saya jadi ingat. Ini teater! Ini adalah pentas budaya! Wajar saja. Budaya bukan agama. Dan agama bukan budaya. Kalaupun pentas ini diawali dengan tilawah, hampir dipastikan tidak ada hati yang bergetar. Yang bergetar adalah suara si pembaca berikut mushaf yang dipegangnya, karena demam panggung di hadapan penonton dan pemain lain. Bukan tergetar karena yang lain.

          Ini adalah pentas budaya. Maka jangan harap menemukan taujih ataupun taushiyah di dalamnya. Karena taujih dan taushiyah adalah agama, bukan budaya. Tawashaw, saling menasihati,  seperti yang dinasihatkan Allah swt dalam Kitab Suci tidak berlaku di sini. Yang ada di sini –meminjam istilah plesetan dari para santri di pesantren– adalah TawaShow. Tawashaw dalam bahasa Arab bermakna saling menasihati. Sedangkan TawaShow dalam bahasa campuran Indonesia-Inggris bermakna pertunjukan tawa. Dan ternyata benar, pentas ini mampu membuat saya tertawa. Menertawakan diri sendiri. Juga menertawakan diri kita. Simak saja beberapa kisahnya.

          Saat babak ketiga dimulai, seorang pemain akhwat buru-buru naik ke atas panggung dan setelah mengucap salam –tanpa shalawat– lalu berucap layaknya penyanyi dari ibukota “Oke…Langsung saja…Tidak usah banyak cing-cong…!” Saya sontak tertawa. Menertawakan diri. Ada akhwat bilang “cing-cong!” Jarang sekali saya mendengarnya dari seorang yang menyandang gelar akhwat. Akhwat, gitu loh…Please, dech…Oyeaaah! Tapi saya segera sadar diri, bahwa, sekali lagi, ini adalah pentas budaya. Budaya kita , termasuk aktivis-aktivis itu, ternyata telah bergeser pada budaya bicara “Cing-cong”, “Kasian, dech lu!”, “Please, dech!”, “Cape, dech!” dan sederet kalimat-kalimat serupa. Sebuah budaya, yang menurut saya, bercitarasa rendah, kalau memang tidak bisa dikatakan tidak bercitarasa sama sekali.

          TawaShow bertajuk “Muktamar” terus berlanjut. Masuklah pada babak pembahasan tata bahasa dan diksi yang terdapat pada Kitab Hukum Organisasi. Pembahasan menjadi menarik pada saat menyentuh frasa “Waktu Berdiri”. Maksudnya, waktu berdiri Organisasi yang sedang punya hajat itu. Semua penonton dan pemain, ikhwan dan akhwat, mengungkapkan usul diksi terbaik untuk merubah frasa itu, selayaknya pakar ilmu Nahwu dan Sharaf dari Arab sedang berdialog dengan orang Arab Aamiyah. “Waktu Berdiri”, “Waktu Didirikan”, “Waktu Pendirian”, kata sambung “dan”, “atau”, “bertepatan dengan” menjadi bahan diskusi yang membuat urat-urat leher mereka keluar. Dan urat leher saya keluar karena menahan tawa. Inilah budaya kita, yang ternyata belumlah bergeser dari budaya debat kusir, membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar, tidak efisien, pongah, dan sok tahu.

          Setelah istirahat sejenak, budaya-budaya itu masih terus berlanjut. Beranjak pada babak berikutnya, adalah pemilihan Panglima Organisasi. Pada babak ini, yang semula saya prediksikan akan membuat penonton berkomentar “Sungguh sebuah muktamar yang menegangkan!”, “Sebuah penampilan karya seni yang menyentuh!” atau “Anda rugi telah melewatkan pementasan ini begitu saja!” ternyata melenceng. Pemilihan Panglima berlangsung mulus. Sama sekali tidak menegangkan dan menyentuh. Tentu saja ada adegan yang membuat kita tertawa. Karena, sekali lagi, ini adalah TawaShow. Tatkala disebut syarat calon Panglima harus “Ikhwan”, sontak beberapa penonton dari kalangan adam nyeletuk “Aku cowok, lho…! Bukan Ikhwan!” dengan bangganya dan, tentu saja dengan tertawa. Karena ini adalah TawaShow. Begitu bangganya mereka merendahkan martabat dirinya dari seorang Ikhwan menjadi seorang Cowok. Untung saja dari pihak hawa tidak ada yang nyeletuk “Aku cewek, lho…! Bukan Akhwat!” Kalau ini terjadi, hatiku bisa remuk dibuatnya. Budaya kita, termasuk aktivis-aktivis itu, telah bergeser lagi.

          Segera setelah Panglima dipilih, Sang Panglima maju ke panggung, menjadi pemain yang akan menampilkan pidato pertamanya setelah menjadi Panglima. Seperti seorang artis yang baru pertama kali muncul di televisi, Sang Panglima berpidato. Hanya salam untuk pemain dan penonton saja yang diungkapkan. Tak ada hamdalah, apalagi shalawat pada Nabi saw. Langsung ke pokok masalah, persis seperti artis yang sedang konferensi pers untuk mengklarifikasi gosip yang sedang beredar. Mungkin, ini hanya mungkin, Sang Panglima berpikiran bahwa Allah swt tidak turut campur dalam pemilihan ini, dan ini adalah murni kerja keras manusia, bukan Allah swt, apalagi Nabi saw. Mungkin, sekali lagi ini hanya mungkin, bagi Sang Panglima, Nabi saw adalah manusia biasa yang kebetulan diberi wahyu dan dimakshumkan oleh Allah swt. Itu saja. Ditambah lagi, Beliau tidak ada sangkut-pautnya dengan pentas ini.

          Bagi Anda yang tidak hadir, jangan harap bisa berperan seperti penonton. Karena hanya penonton dan pemain yang dapat berkomentar, mengkritisi, dan pulang. Jadi sekalipun Anda titip komentar, usul, dan kritik, dapat dipastikan tidak akan digubris. Karena Anda bukan penonton.

          Dan pentas budaya pun selesai. Layar terkembang lagi, menutup panggung. TawaShow telah usai. 

         Ini adalah pentas budaya. Ini adalah teater. Dan kita harus benar-benar cerdas untuk mampu menerjemahkan dan mengambil pelajaran dari simbol-simbol yang tersembunyi pada pentas budaya itu.

          Ikhwan dan akhwat. Islam sekali kedengarannya. Setiap mendengar kata itu, saya selalu teringat pesan ustadz saya. Setidaknya ada sepuluh karakter yang membedakan antara kata benda ikhwan dan akhwat dengan cowok dan cewek. Berturut-turut saya menghafalkannya, mulai dari akidahnya selamat, ibadahnya benar, akhlaknya kokoh, hingga yang kesepuluh, memberikan manfaat bagi orang lain. 

Condongcatur, 27-29 Rajab 1428

Hifni M. Ariyadi

September 5, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Lepas...! | | No Comments Yet

Fenomena Aktivis Dakwah Masa Kini: Sebuah Otokritik

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi hangat dengan teman-teman yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah. tapi saya salut luar biasa karena ini aktivis dakwah sangat kritis melihat beberapa fenomena dikalangan aktivis dakwah yang mulai meluntur nilai-nilai keislaman yang ada dalam dirinya. Atau mungkin juga jamaahnya. Mungkin nggak syakhsiyah daiyah lebih dulu terbentuk daripada syakhsiyyah islamiyyah? Lalu bagaimanakah dampaknya jika ini terjadi?

 

Adab-adab syuro…

Yang ini saya amati beberapa bulan yang lalu bersama seorang teman saya, yang juga mengaku aktivis dakwah. Fenomena unik di kalangan aktivis dakwah. Terjadi di seputar Masjid Kampus UGM. Kalau yang sudah pernah ke Masjid Kampus UGM, akan lebih mudah membayangkan narasi saya. Yang belum pernah, Insya Allah juga bisa membayangkan kira-kira kejadiannya bagaimana.

Sore hari. Dua orang akhwat berjilbab gede, dan dua orang ikhwan duduk berhadapan, melingkar di bawah pohon palem yang ada di halaman sayap utara masjid kampus. Mungkin sedang syuro. Saya dengan teman saya ini, melihat fenomena ini cuma cengengesan. Yang jelas kami yakin bahwa mereka belum menikah. Pasalnya, kalau sudah menikah, pasti posisinya gak berhadapan melingkar. boleh jadi duduk samping kiri-kanan, dan seterusnya. Ini pakai jarak lumayan jauh pada awalnya. Kira-kira 1-1,5 meter lah. Karena saya saya ada keperluan dengan Dimas, saya selesaikan dulu urusan saya. Setelah urusan selesai, entah kenapa, saya liat empat orang tadi. Masya Alloh…! Tambah parah! Posisi duduk ikhwan akhwat semakin kacau. Jaraknya semakin dekat. Lagian itu ikhwan, posisinya bikin kami semakin ngakak. Duduk bersila, memandang si akhwat, dengan siku menempel di paha kaki dan ujung tangan menyangga dagu. Bisa bayangin ga? Basa jawanya songgo wang. Gile bener….

Melihat fenomena ini, dasar aktivis dakwah kurang aktif alias kurang gawean, kami mencoba keliling Masjid ini untuk mencari gejala-gejala aneh macam beginian. Baru sampai pintu utama di sisi timur, ada fenomena lagi. Satu ikhwan, satu akhwat, jadi cuma dua orang. Pas. Duduk menghadap ke timur, dengan jarak kira-kira 1-1,5 meter juga. Asumsi kami, ini sejoli juga belum nikah. Kalau sudah menikah, pasti duduknya lebih dekat, dans seterusnya. Entah yang disyurokan apa….

Kemudian ke selatan. Di sini agak lumayan. masih pakai tiang sebagai pembatasnya. Terus balik ke utara. Ealah, empat orang tadi belum selesai juga!

Lalu kami pulang.

Ini baru fenomena yang saya lihat di suatu sore pada suatu hari di suatu tempat. Ketika saya ceritakan kepada beberapa senior saya, mereka membenarkan. Bahwa ada banyak kasus semacam cerita di atas, yang terjadi di kalangan aktivis dakwah.

 

Suaranya, bikin gemes….

Ini ungkapan teman saya, sebut saja Fulan. Dia juga mengaku dan diakui sebagai aktivis dakwah. Begini cerita dari dia.

Dalam beberapa syuro yang dia temui, dia mengaku sering menemui akhwat gaul. Heran dia. Gaulnya itu, terutama dia tangkap dari gaya bicaranya. Katanya sih, gaya bicaranya di akhwat-akhwatin. Nggak kalah juga, lawan bicaranya, si ikhwan. Si ikhwan ini, meskipun teman-teman di sekelilingnya melabeli dia sebagai ikhwan, tapi gaya ngomongnya… akhwat banget gitu loh! Payah deh….

Ini fenomena saya setujui keberadaannya. Saya juga sering melihat dan mendengar, dalam beberapa komunikasi ikhwan-akhwat, gaya ngomongnya sama. Yang akhwat di akhwat-akhwatin, yang ikhwan juga di akhwat-akhwatin. Setelah saya informasikan ke beberapa senior saya, mereka juga membenarkan.

 

Pada kasus-kasus di atas, Si Fulan memboleh jadikan, bahwa fenomena ini terjadi karena faktor lingkungan yang lebih mendominasi. Boleh jadi, lingkungan sekitar akhwat memang orangnya gaul-gaul. Demikian juga lingkungan si ikhwan. Dan mereka ini tak pernah kembali atau berada pada lingkungan yang sesuai. Namun ini masih boleh jadi.

Boleh jadi juga, ini ikhwan akhwat terlalu sering bertemu, atas nama syuro, kemudian bahasannya ngelantur. Nggak ada tilawah AlQuran plus tadabburnya, nggak ada taushiyah juga. Banyak guyon, nggarapi lawan jenis, dan seterusnya. Dan dua kalimat terakhir ini memang sering terjadi.

Saya sepakat. Kurang ada mekanisme kontrol dari masing-masing individu. Juga dari atasan-atasan para aktivis itu. Kerja dan adab dalam dakwah semakin permisif, dan frekuensinya semakin sering. Payahnya, tidak diimbangi dengan frekunsi pelaksanaan amal-amal ruhiyah yang tinggi pula. Dalihnya selalu saja ada. “Ini kan cuma koordinasi ikhwan-akhwat, bukankah koordinasi harus ada?” Begitu katanya. ”Ini kan cuma guyonan biasa, kita masih tahu batasan kok.” Apa iya? Bagaimanapun juga penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian. Ada lagi yang lebih ngaco, ”Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Masya Allah. Ngomong begitu kepada ustadznya. Gimana, coba?

Sepertinya tidak hanya terjadi di Jogja. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, majalah Tatsqif dari Jakarta juga mengangkat tema ini. Judulnya ATM. Aktivis Tapi Mesra. Yang dibahas lebih dalam. Sampai pada fenomena SMS yang serem-serem itu. Itu baru SMS, belum perkara telepon langsung, atau ketemu langsung.

 

Sempat juga saya diskusi dengan beberapa aktivis yang lain, dan ustadz, berkaitan melunturnya nilai-nilai keislaman dalam diri aktivis dengan adanya fenomena aneh ini. Jumlah aktivis semakin banyak, namun kualitasnya dipertanyakan. Ustadz-ustadzpun turut prihatin atas fenomena ini. Sudah berkali-kali diberi taujih dan taushiyah, e… malah dijawabnya ”Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Bukankah yang haram itu telah jelas, dan yang halal juga telah jelas? Dan diataranya ada syubhat, yang siapa menjauhkan diri dari syubhat, dia telah menjaga agama dan harga dirinya?

Pak Ustadz memberikan titik tolak permasalahannya. Tidak ada semangat untuk kembali ke tarbiyyah. Kalau diminta datang syuro, rajin betul. Apalagi Aksi. Giliran diminta datang kajian, dalihnya Afwan, ada syuro penting. Terlalu lelah. Ada agenda penting. Giliran ada mabit, sama juga alasannya. Giliran ada rihlah, apalagi pakai ikhwan akhwat, semangat lagi. Kan bisa curi-curi pandang. Kalau masih nggak cukup, bisa langsung ketemu ikhwan akhwat, di alam bebas, pake materi koordinasi, nge-fix-kan acara, dan seterusnya. Sekali lagi, penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian.

Pak Ustadz kemudian memberikan solusi sederhana. Kembali ke Tarbiyyah.

Sederhana, bukan?

Jogja, Akhir November 2006

Agustus 29, 2007 Ditulis oleh kiaisuper | Dakwah, Muhasabah | | & Komentar