Memandang Dunia
Dari Abdullah ra., dari Nabi saw, beliau bersabda, “Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia seperti seorang pengembara,” beliau bersabda, “di bawah lindungan pohon pada hari yang panas, kemudian ia pergi pada sore hari dan meninggalkannya.”
(HR. Imam Ahmad, dalam kitab Az-Zuhd)
Dalam memandang dunia, manusia berbeda-beda sikapnya. Tergantung pula kepada pemahaman dan kapasitas keilmu-arifan yang dimilikinya.
Ada manusia yang menganggap dunia ini adalah kesenangan dan satu-satunya kehidupan dalam dirinya. Sehingga dia melakukan apa saja yang menyenangkan bagi dirinya, karena tak mungkin lagi dia mendapatkan “dunia” yang sama ataupun lain setelah dia mati. Kesenangan dan kesuksesan di dunia saja yang diharapkan dan dilakukannya.
Ada manusia yang menganggap dunia adalah tempat bersenang-senang sebelum memasuki alam kubur. Dia yakin bahwa akhirat ada, namun yang dilakukannya adalah menunda pertaubatan dan amal-amal kebaikannya seolah-olah dia sendirilah tuhan, yang menentukan hidup-matinya. Maka, yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan nafsunya sebanyak mungkin.
Dan Sang Manusia Sempurna, telah memilih untuk tidak mau berurusan dengan dunia. Dunia hanyalah bagian dari anak tangga, untuk mempersiapkan pijakan kaki sekuat mungkin agar tidak terjatuh saat mendaki anak tangga hingga anak tangga yang terakhir. Dunia hanyalah tempat berteduh, untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan kembali bekal yang akan dibawa untuk sampai ke tujuan akhir dari seluruh perjalanan hidupnya.
Ada di posisi manakah kita?
8 Jumadil Akhir 1429
Dunia Dakwah yang Belum Tersentuh
Adalah sebuah hal yang menakjubkan sekaligus menantang ketika kita ternyata tiba-tiba menghadapi, dan berada dalam sebuah dunia baru, dunia yang sebelumnya tak pernah kita bicarakan dalam diskusi-diskusi halaqoh, tak pernah kita lihat dalam acara-acara televisi, dan tak pernah kita dengar dalam ceramah-ceramah maupun siaran di radio.
Maksud saya tentang hal yang menantang adalah tentu saja bagaimana kita harus belajar cepat beradaptasi dengan, kalaupun pernah kita bicarakan, diskusikan, dan lihat, kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kultur dimana kita dibesarkan. Tantangan kedua adalah bagaimana kita, dengan proses adaptasi yang menuntut waktu secepat-cepatnya agar bisa segera sesuai dan diterima masyarakat sekitar kita, kita harus menyebarkan nilai-nilai kebaikan sekaligus memelihara nilai-nilai kebaikan itu, minimal dalam diri kita sendiri. Lebih menantang lagi, jika dalam proses-proses itu, yaitu – dalam istilah saya – adaptasi, propagasi, dan maintenance kebaikan, kita berada dalam segala keterbatasan. Akses komunikasi, transportasi, dan bahkan akses tarbiyah yang sangat terbatas sekaligus tuntutan-tuntutan agar kita tetap bisa hidup terus menghimpit kita ditengah-tengah kewajiban kita untuk terus menebarkan nilai-nilai kebaikan sebanyak mungkin, bahkan jika mampu, membinanya dan mentarbiyahnya menjadi bagian dari generasi yang kita harapkan.
Sebuah, atau beberapa buah objek dakwah telah mananti kita, dalam suatu lingkungan yang benar-benar baru, belum pernah tersentuh oleh dakwah, kecuali hanya pada tempat tinggalnya. Itupun belum tentu ada. Sedangkan tempat kerjanya, di lingkungan yang tak pasti dan terus menerus berpindah-pindah, menuntut kita untuk terus bisa bertahan hidup, beradaptasi, memetakan, merencanakan, dan kemudian mengejawantahkannya menjadi amal nyata sebagai wujud nyata partisipasi kita dalam berdakwah. Berdakwah di dunia yang belum tersentuh. Berdakwah di dunia yang berpindah-pindah. Berdakwah di dunia dengan penghuni yang berganti-ganti.
Siapkah kita?
* Sebagai refleksi atas ketergagapanku ketika memasuki dunia lapangan pengeboran minyak *
Prabumulih, 3 Mei 2008
Berkata Baik Atau Diam
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhori dan Muslim)
Hadits di atas tampaknya sederhana, mudah diamalkan.
Dan memang demikianlah adanya. Hadits diatas sangatlah sederhana, dan mudah diamalkan. Berkata-kata yang baik, atau memilih diam, adalah mudah bagi semua orang. Begitupun dengan memuliakan tetangga dan memuliakan tamu, adalah perkara yang sederhana, yang seharusnya bias dilakukan oleh semua muslim.
Amalan-amalan tersebut hanya sulit dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai komitmen terhadap agamanya, tidak mempunyai komitmen terhadap sunnah Rasulullah saw.
Setelah mengetahui isi hadits tersebut maka kewajiban selanjutnya adalah mengamalkan dan mendakwahkan isi hadits tersebut, dengan penuh keikhlasan dan keimanan.
***
Aku terkejut, bahwa ternyata aku sendiri hampir saja melupakan hadits itu.
Berada di lingkungan dengan orang-orang yang berperangai cenderung keras dan (cenderung) jauh dari nilai agama, tentu diperlukan kehati-hatian dalam berdakwah. Namun kehati-hatian telah kuterjemahkan menjadi kelambanan, dan tak ada nilai substantif dari apa-apa yang kukatakan. Perkataan yang baik menjadi perkataan yang hambar dan tanpa makna. Dan akhirnya aku hanya menjadi aku untuk diriku sendiri, tanpa ada nilai-nilai kebaikan yang mampu kusebarkan ke orang-orang di sekitarku.
Ingatanku justru digedor-gedor secara tak sengaja oleh seorang mantan santri. Benar-benar mantan santri! Kini dia sudah menjadi orang yang, menurut dia sendiri, adalah orang yang salah pergaulan, hingga menjadikan status santrinya menjadi ”mantan”.
Di radio handy talky, pada suatu siang di saat rekan-rekan kami bercanda tak bermutu, maka secara tiba-tiba si mantan santri itu, mengucapkan dengan fasih bunyi hadits ke lima belas Arba’in An-Nawawiyyah itu. Aku kaget alang-kepalang. Dia masih begitu lancar melafalkan hadits itu. Aku coba-coba sendiri untuk melafalkankan dalam hatiku, apakah aku masih menghafalnya dengan baik. Ternyata perlu waktu lama untuk kembali memperbaiki ingatanku akan hadits ini. Hadits yang sederhana namun kaya makna.
Dan di sini, aku sendiri belum mampu menjaga kebaikan-kebaikan yang ada pada diriku. Tarbiyah Dzatiyah, dan Ri’ayah Ma’nawiyah masih perlu digembleng habis-habisan di dunia yang terasing ini. Maka belum pula mampu aku mengatakan kebaikan kepada mereka. Kalaupun ada, hanya sedikit sekali. Belum mampu aku mengajak dengan lisanku untuk mengamalkan kebaikan, apa lagi menghindari kemaksiatan yang sering mereka lakukan secara terang-terangan. Yang ada hanyalah perkataan hambar tak bermakna, dan amal-amal individu yang aku sendiri tetap berharap semoga ada pancaran kebaikan darinya. Pancaran kebaikan yang terus menyinari hati-hati orang-orang di sekitarku. Semoga.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, karuniakanlah kesabaran kepada kami dan ilhamkanlah taubat kepada kami
Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.
Siak, Riau, Juni 2008
100 Tahun Kebangkitan Nasional di Tengah Penjajahan Internasional
Di tengah hiruk-pikuk 100 tahun kebangkitan nasional, dan kenaikan harga BBM, aku mendengar dan membaca di media massa, semuanya meneriakkan bahwa negeri ini belum sebenar-benarnya merdeka, belum sebenar-benarnya bangkit, dan negeri ini dengan sebenar-benarnya masih terjajah oleh neo kapitalisme, neo liberalisme, neo impeialisme
Bukan lagi bentuk penjajahan fisik dan teritorial sekarang, yang dilakukan oleh para penjajah itu, namun penjajahan ekonomi, penjajahan politik, penjajahan ideologi, penjajahan kebudayaan, dan penjajahan nilai-nilai.
Negeri ini hancur di dalam sebuah ruang negara dengan tata nilai ekonomi yang terjajah, sehingga terus menerus berada di dalam jurang-jurang kemiskinan yang dalam, yang di atas dan di bawahnya tersimpan kekayaan alam yang melimpah. Namun, semua diberikannya secara cuma-cuma kepada para penjajah yang mengaku sahabat baik, yang dengannya tertipulah kita.
Negeri ini hancur dalam sistem tata politik yang mementingkan isi perut gendut masing-masing, sehingga terus menerus berusaha untuk memelihara kebodohan dan kemiskinan pada rakyatnya, agar mudah bagi penjajah, yang merupakan kawan sejati politikus busuk itu, untuk lebih leluasa menancapkan kukunya pada darah dan daging kita, menusuk dalam hingga menembus tulang dan sumsum, sehingga jika dicabut hanya menambah rasa sakit yang luar biasa.
Negeri ini hancur dalam pola kebudayaan yang secara terang-terangan menjiplak mentah-mentah dari nilai-nilai buruk yang dibawa penjajah. Nilai-nilai yang menyenangkan nafsu, dan juga syahwat. Bukannya budaya disiplin, melek teknologi, tekun, gemar membaca, pembelajar, dan rajin yang ditiru, namun budaya materialistik, individualis yang mengarah pada egois, hedonis, dan sekular. Keramah-tamahan menjadi kekerasan, religiusitas menjadi sekular, kejujuran menjadi korupsi.
Semuanya mengatakan dengan kompak, kita belum merdeka!
Namun di saat yang sama, banyak orang yang mengatakan bahwa negeri ini belum merdeka itu, justru beramai-ramai menyodorkan kepala mereka sendiri kepada penjajah-penjajah itu. Dengan setia mereka mengalungkan lehernya kepada penjajah, menyerahkan diri sepenuhnya, sambil berkerja dan memperbudak diri dengan iming-iming upah besar, untuk mengeruk, menguras, dan membabat habis semua kekayaan negeri ini, untuk diserahkan secara cuma-cuma kepada penjajah.
Jika demikian adanya, terus menerus berlangsung, dan tak ada upaya melepaskan diri dari penjajah, dalam semua sisi kehidupan, maka selamanya kita akan meneriakkan bahwa kita belum merdeka!
Selatan Jakarta, Mei-Juni 2008
Untuk Pemuda dan Mahasiswa
“Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap keangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.” (Hasan Al-Banna)
Sejarah telah membuktikan, bahwa tonggak peubahan dan kebangkitan ada di tangan para pemuda. Hal ini berlaku untuk segala macam perubahan, termasuk di dalamnya adalah dakwah dan kebangkitan Islam. Dari sisi manapun, pemuda merupakan asset penting dalam sebuah perubahan.
Tentunya, untuk sebuah perubahan menuju kepada kebangkitan, di samping mensyaratkan adanya pemuda, juga perlu adanya syarat-syarat pendukung, agar perubahan itu berjalan menuju ke arah positif, ke arah perbaikan dan bukan sebaliknya, ke arah kehancuran.
Di antara syarat syarat yang diperlukan agar pemuda menjadi agen perubahan adalah adanya rasa keimanan yang kuat, keikhlasan dalam berjuang di jalannya, bersemangat dalam merealisasikannya, kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya.
Akan tetapi satu hal penting yang menjadi asas fundamental dalam persyaratan itu semua adalah pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap dakwah dan Islam. Tanpa adanya pemahaman yang sempurna, maka, seorang pemuda hanya akan menjadi agen perubahan yang tidak seimbang di sana-sini, jalannya timpang, dan perubahan yang terjadi adalah perubahan yang tidak utuh dan parsial.
Pemahaman yang harus diketahui oleh setiap pemuda yang mendedikasikan dirinya sebagai agen perubahan dan kebangkitan Islam adalah pemahaman dan keyakinan akan fikrah yang benar. Fikrah itu adalah Islam yag hanif, sempurna, dan tanpa cacat, dan bersih tidak terkotori oleh ideologi-ideologi lainnya. Selain itu, perlu pemahaman akan tujuan dan tahapan-tahapan dakwah Islam, berikut sarana-sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Tujuan-tujuan tersebut harus diketahui sejara jelas, mulai dari perbaikan individu menjadi individu muslim yang benar-benar muslim dari berbagai sisi, baik itu akidahnya, pemikirannya, ibadahnya, dan akhlaknya, hingga tujuan yang paling besar yang harus dipahami dengan baik yaitu berkibarnya panji Islam memenuhi jagad raya, serta mendakwahkannya kepada seluruh alam.
Pemahaman berikutnya, adalah peahaman yang benar bahwa perubahan yang harus dilakukan haruslah menyeluruh. Tahapan dan sarana yang ada juga harus menyeluruh dan seimbang, tidak boleh berat sebelah. Adalah salah, jika hanya membatasi pada permasalahan ibadah saja, adalah salah pula, ketika menganggap perubahan hanya bisa dilakukan pada aspek ideologi saja, di mana hanya menyerukan pada satu ideologi buatan manusia, seperti nasionalisme sempit, rasialisme, dan pembedaan status sosial.
Setelah memahami secara utuh danmenyeluruh dari karakter-karakter berikut tujuan dan sarana darifikrah Islam yang hanif tersebut, maka amal pertama yang harus dilakukan adalah menyampaikan kepada manusia tentang risalah Islam ini secara utuh dan sempurna pula, tanpa menambahi dan menguranginya. Disamping itu dalam tataran praktis, perubahan perubahan harus mulai digerakkan, untuk menegakkan nilai-nilai Islam pada berbagai sektor dan dimensi yang ada dalam masyarakat secara bertahap dan berkesinambungan. Sektor politik, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya harus dapat terayomi dengan nilainilai Islam.
Setiap orang yang berjuang, pasti membutuhkan perbekalan. Begitu pula setiap orang yang akan berjuang dalam perubahan menuju kebangkitan Islam. Perbekalan tersebut adalah keimanan yang tulus, dalam dan kuat. Disamping itu, yang juga menjadi perbekalan utama adalah jihad, kesungguhan, dan pengorbanan.
Hal itulah yang menjadi dasar-dasar utama yang harus diketahui oleh pemuda, sebagai agen perubahan dan kebangkitan, agar dapat melakukan kerja yang sempurna untuk mewujudkan kebangkitan dan perubahan menuju ke
arah kebaikan.
Wallahu A’lam.
Diringkas dari buku Majmu’atur Rasail karya Hasan Al-Banna
Bab Kepada Para Pemuda dan Secara Khusus Kepada Para Mahasiswa
Oleh Hifni M. Ariyadi
23 Ramadhan 1428
-
Arsip
- Agustus 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (2)
- Agustus 2008 (2)
- Juni 2008 (5)
- Mei 2008 (1)
- April 2008 (1)
- Januari 2008 (1)
- Desember 2007 (7)
- September 2007 (3)
- Agustus 2007 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
