Buntu
“Menulislah apa yang ingin kau tulis!” Begitulah kata-kata yang banyak muncul dari para lisan penulis-penulis ampuh, ketika ditanya tentang jurus sakti untuk bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang hebat, berbobot, dan disukai pembaca—atau minimal layak baca
Namun, bagi sebagian orang, yang sudah benar-benar (merasa) dirinya tak mampu menulis, ketika diminta, atau mencoba untuk menuliskan apa yang ingin ditulisnya, tentu akhirnya bergumam kesal, “Akupun tak tahu apa yang ingin aku tulis.”
Kebuntuan.
Pikirannya menemui jalan buntu.
Benar-benar tak mampu lagi menghasilkan sebutir ide, apalagi selembar tulisan. Tidak ada inspirasi. Memandang ke depan, yang ditemui adalah jalan buntu. Ke kiri jalan buntu. Ke kanan jalan buntu. Menunduk, tak ada lubang inspirasi di bawah sana. Menengadah, yang dilihatnya adalah atap gelap. Sedangkan begitu menoleh ke belakang, ternyata kemudian diketahui bahwa dirinya bukan hanya sedang menemui jalan buntu, namun juga sedang tersesat. Tak tahu jalan untuk kembali ke posisi semula.
Proses kreatifnya terhenti.
***
Kebuntuan pikiran bukan tidak disengaja. Seringkali, kebuntuan justru dimunculkan oleh diri kita sendiri. Dalam proses kreatif yang kita sedang ingin berada di dalamnya, kita justru banyak membatasi diri. Tentu saja, yang saya maksud adalah pembatasan-pembatasan yang tak masuk akal, atau pembatasan-pembatasan yang sebenarnya tak perlu. Pembatasan yang tak perlu inilah yang kemudian, baik secara disadari atau tidak, justru membuat jalan buntu yang kemudian kita berjalan ke arahnya. Menuju jalan buntu.
Jika sudah mulai berjalan ke arah jalan buntu itu, dalam pembatasan-pembatasan tak bermanfaat itu, maka kemudian secara tiba-tiba kita munculkan sendiri tembok-tembok penghalang yang besar di hadapan kita. Juga di kiri-kanan kita. Atap di atas kita muncukan. Berbalik ke belakang, kita pun sudah menutup jalan untuk kembali. Sehingga belum juga kita menjalani proses kreatif itu, kita terhenti. Terhenti di dalam batas yang kita buat sendiri.
Kemudian yang terjadi adalah kebuntuan.
Buntu.
Tak ada apapun atau siapapun. Kecuali diri kita sendiri yang terkepung dalam benteng-benteng kokoh batasan yang gelap dan pengap. Meronta-ronta dan berteriak-teriak minta tolong. Menggedor-gedor dinding. Hingga kehabisan energi.
Dan akhirnya mati sendiri.
Di tengah kebuntuan, 17 Maret 2008
-
Arsip
- Agustus 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (2)
- Agustus 2008 (2)
- Juni 2008 (5)
- Mei 2008 (1)
- April 2008 (1)
- Januari 2008 (1)
- Desember 2007 (7)
- September 2007 (3)
- Agustus 2007 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS