:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Banjir Jawa Tengah—Jawa Timur

Banjir Jawa Tengah—Jawa Timur

 

Dalam sejarah hidup saya, kawasan Ngawi, Madiun, dan Purwodadi tak pernah mengenal yang namanya musibah banjir. Apalagi Banjir bandang hingga menjebol jembatan. Yang ‘terbiasa’ dengan banjir justru wilayah Bojonegoro, Lamongan, Gresik. Itupun hanya sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, di mana daerahnya sangat rendah, dan konturnya ‘nyaris’ datar, sehingga air mengalir sangat ‘susah’ dan  pelan, selain karena jenis tanah yang liat, sehingga sulit ditembus air.

***

Dulu, sebelum tahun 2000,  kawasan Bojonegoro yang sering banjir, adalah daerah Kalitidu, kemudian Kota Bojonegoro, itupun hanya sebelah utara (tepatnya daerah pasar kota, yang dilalui bengawan solo), kemudian Lamongan di sebagian persawahan Babat, Kalitengah, kemudian sebagian kecil Gresik sebelum aliran Bengawan Solo berakhir di Ujung Pangkah.

Solusi untuk menanggulangi banjir di kawasan DAS Bengawan solo sangatlah sederhana. Cukup membuat tanggul dari tanah—warga menyebutnya tangkis— di kedua sisi sungai, kira-kira setinggi atap rumah lebih. Selesai perkara. Tak pernah banjir melanda penduduk. Kalaupun air meluap, itu karena tanggul bolong di sana-sini (seperti di sebagian Babat), atau memang tidak ada tanggul—umumnya di kawasan persawahan. Jika musim hujan, maka air sungai mampu mencapai hampir puncak tanggul—Sebuah pemandangan menarik ketika kita berdiri di puncak tanggul. Sedang jika musim kemarau, benar-benar “tak seberapa airmu”. Lebar sungai menjadi tinggal kurang dari separuhnya, dan di tepinya, jadi lahan persawahan bagi penduduk.

***

Banjir yang melanda kawasan Ngawi, Madiun, dan Purwodadi kali ini tidak mengagetkan saya. Banjir kini bergeser ke kawasan yang lebih tinggi. Tak pernah lagi terdengar berita pesisir utara Jawa Timur dilanda banjir. Terakhir banjir dan longsor melanda Madiun, Magetan, Ngawi, Wonogiri, Grobogan, Purodadi. Di Madiun, arus Kali Madiun mampu menjebol jembatan. Padahal Kali Madiun tidak segede dan sepanjang Bengawan Solo.

***

Sebelum tahun dua ribu, sebelum era reformasi, daerah Ngawi, Madiun, Magetan, Bojonegoro selatan (Pegunungan Kendeng), adalah kawasan hutan. Begitu pula Pegunungan Kapur Utara (Purwodadi, Blora, sampai Tuban). Pemerintah menjadikan kawasan ini sebagai semacam paru-paru bagi Jawa—idealnya sampai sekarang.

Kawasan hutan terbentang luas di wilayah perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur. Kalau Anda melakukan perjalanan dari Jogja ke Surabaya via Sragen – Ngawi, maka hutan dapat dijumpai mulai masuk perbatasan Sragen – Ngawi, Mantingan terus hingga menjelang masuk Kota Ngawi. Ke selatan menuju Madiun, lalu ke timur menuju Caruban, hutan lagi, hingga Nganjuk. Kalau dari Kota Ngawi terus ke timur, akan dijumpai Pertigaan Pos Pemeriksaan  Hasil Hutan. Lurus ke timur sampai ke Caruban, sedang belok kiri sampai Ngraho, kemudian Padangan. Menuju Ngraho, begitu keluar dari Kota dan kabupaten Ngawi, kanan-kiri-depan-belakang adalah bukit-bukit berhutan lebat milik Perhutani. Jarak pandang terbatas, saking lebatnya hutan. Mirip di Gunung Kidul. Pemandangan ini terus saja eksotik hingga masuk Padangan.

Tapi itu dulu….

Setelah era reformasi, selepas tahun 2000 lain lagi kondisinya.

Terakhir, saya melewati kawasan tersebut pada awal Syawal 1428. Mengerikan. Selepas Sragen, tak ada lagi hutan. Benar-benar nyaris gundul. Hanya ada beberapa kawasan yang masih ada pohonnya. Dilihat dari posturnya, masih muda. Namun kondisi kawasan ini belum seberapa. Begitu Ngawi ke belok utara, arah Ngraho dan Padangan, pemandangannya lebih mengerikan lagi. Sejauh mata memandang, hanya ada perbukitan gundul. Benar-benar gundul. Mirip gurun, bukan pasir, tapi tanah. Saya berkata dalam hati ketika melewati kawasan ini. “Pasti banjir, pasti longsor….” Dan ternyata benar.

Sebenarnya, bukan tanpa solusi atas gundulnya hutan di kawasan ini. Di sekitar Monumen Gubernur Suryo, Mantingan, dapat ditemui lokasi pembibitan untuk reboisasi hutan di kawasan ini. Namun ternyata banjir dan longsor lebih dulu menghantam sebelum bibit itu layak tanam.

Lantas, apa penyebab banjir dan longsor itu?

Kalau ada yang memprediksi karena pengaruh global warming sehingga iklim berubah dan mempengaruhi intensitas hujan, kok saya sedikit sangsi. Sepengetahuan saya—Wallahu a’lam—intensitas hujan seperti akhir-akhir ini adalah wajar untuk kawasan tropis seperti negeri ini, di bulan Desember. Hujan deras sepanjang siang dan malam di bulan Desember adalah wajar. Tak heran jika orang-orang Jawa sejak dulu membuat kerata basa untuk Desember adalah gedhe-gedhene sumber dan Januari adalah hujan sehari-hari.

Untuk lokal di kawasan perbatasan Jawa Tengah—Jawa timur itu, saya cenderung memperkirakan, ya, karena hutan gundul itu…

***

Dulu, di era Orde Baru, yang bisa membabat hutan hanyalah yang punya HPH, Hak Pengusahaan Hutan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses hutan. Kalau Anda bukan kroni-kroni  Orde Baru, jangan harap mampu mengakses hutan. Kekuasaan adalah mutlak milik Orde Baru. Terpusat.

Sekarang, siapapun dapat mengakses hutan. Illegal logging bisa dilakukan oleh siapapun, tak perlu akses apapun, tanpa system dan prasyarat apapun. Tak perlu dengan koordinasi terpusat dengan penguasa. Semua bisa jadi penguasa dan berkuasa. Bahkan yang mengaku reformis-pun juga bisa. Kalau tertangkap dan diadili, bisa secara ajaib kemudian bebas dan divonis tak bersalah.

Namun, tak menjadi penting ketika kita hanya mengutuki para penjahat hutan dan lingkungan itu. Biarkan saja mereka. Karena kini, yang tak bersalah apapun atas nasib hutan itu, justru digalak-galakkan untuk menanam satu-sepuluh-seratus-seribu-sejuta pohon. Demi lingkungan, katanya. Memang ada benarnya. Tapi mungkin, juga demi memaafkan para penjahat hutan yang tak kita ketahui nasibnya dan tak bertanggung jawab itu—dan kitalah yang bertanggung jawab. Untuk kasus ini, kita harus bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan kita pelakunya. Dan berbahagialah, karena kita ternyata ‘dianggap’ makhluk bertanggung jawab.

Save Our Earth!

 

 

17.12.1428

Hifni M. Ariyadi

kiaisuper.wordpress.com

***Setelah selesai menulis ini, Jogja TV memberitakan beberapa wilayah di Jogja banjir!***

About these ads

Desember 28, 2007 - Posted by | Lingkungan, Teknologi

10 Komentar »

  1. bener sekali mas…
    saya sebagai orang bojonegoro lagi kebanjiran nie…
    TOLONGGGGGGG

    Komentar oleh tagara | Desember 29, 2007 | Balas

  2. gara2 banjir saya gak bisa balik ke madiun…
    [saya lagi di solo]

    Komentar oleh ndarualqaz | Desember 29, 2007 | Balas

  3. ironic tragedy of our life

    Komentar oleh dsatmoko | Desember 30, 2007 | Balas

  4. Penyebabnya adalah badan air yang sudah tidak mampu menampung air yang sedemikian banyak (hujan terus menerus). Ketidak mampuan menampung ini didukung oleh rusaknya keseimbangan alam akibat rusaknya daerah resapan baik dihulu maupun dihilir. Hutan yang dapat membantu menahan air sudah digunduli, di kota orang ogah becek2kan tapi gak mau bikin sumur resapan, ironisnya semua ditutupi semen, aspal, dll. Kapan air mau masuk ke tanah? Air semua dilarikan ke kali/sungai yang sedikit demi sedikit bawa material trus mengendap di sungai/kali/waduk/muara, dll. Ya sudah, kalo tidak ada yang ngatur mosok bisa kembali ke asal. Orang pemerintahan yang gelarnya hebat2 (beli kali ya?) ndak bisa apa2, orang parpol apa lagi, bisanya ngrecoki saja asal perut sendiri bisa terisi, para ahli jadi bingung sendiri. Padahal Gub DKI pernah berkata:”serahkan pada ahlinya”. Yang dirahkan juga apa ya???

    Komentar oleh Joy | Desember 31, 2007 | Balas

  5. aku juga g bisa balek k malang kok,sampe sekarang masih d jogja ni
    gara2 banjir…jir…jir…

    Komentar oleh vien | Januari 2, 2008 | Balas

  6. Sampai dengan tahun 90 an kondisi hutan di beberapa wilayah jawa timur dan jawa tengah memang masih cukup menjanjikan dalam memberikan jaminan tidak akan terjadi bencana banjir seperti yang saat ini terjadi akibat luapan sungai bengawan solo yang sebenarnya sudah disetting memiliki kemampuan dalam menampung besarnya limpahan air hujan yang biasa dan sudah umum dari dulu, yakni sesuai kapasitas tertinggi curah hujan yang selalu terjadi setiap tahunnya.
    tahun 90 an saat saya sering melakukan perjalanan liburan sekolah ke arah sragen, di mana sebagian besar keluarga saya berdomisili disana, saya selalu membayangkan ngerinya bila harus berada di dalam hutan di wilayah nganjuk, caruban hingga ngawi dan berakhir di sebagian wilayah sragen. sering saya bertanya dalam diri saya, apakah didalam sana (di dalam hutan) itu masih banyak hewan-hewan buas seperti yang selama ini telah terdoktrin dalam pikiran saya. mengapa? sebab saat itu, hutan disepanjang jalur tersebut cukup lebat dan gelap, saat saya naik bus antar kota jurusan Surabaya -Jogja, ketika saya melewati daerah tersebut, mata saya ini bahkan tak mampu menembus dalam hutan sampai dengan jarak pandang kira-kira 50 meter kearah dalam hutan, tapi pertanyaan itu saat ini telah terjawab, ternyata hutan yang ada disepanjang jalur nganjuk hingga sragen itu tidak ada hewan buasnya seperti yang saya bayangkan selama ini. dan jarak pandang saya pun telah bertambah hingga ratusan meter dalam menembus isi hutan, bukan karena saya memiliki kemampuan supranatural tapi karena hutan yang dulu lebat dan gelap, saat ini telah berubah menjadi lapangan luas yang warnanya bukan hijau tapi hitam kecoklatan. dan saya tidak perlu lagi merasa ngeri serta takut apabila saya melakukan perjalanan ke arah jogja melewati wilayah nganjuk sampai sragen. namun justeru saat ini yang saya takuti adalah apabila semua hutan benar-benar disulap jadi lapangan luas, karena tidak menutup kemungkinan suatu saat kelak saya akan melewati daerah itu bukan lagi naik bus antar kota antar propinsi lagi, tetapi saya akan mengayuh dayung dan duduk diatas sampan kecil untuk sampai di daerah sragen kota tempat kakek dan nenek saya yang saat ini telah beristirahat untuk berpikir soal keduniawian.

    Komentar oleh herry | Januari 2, 2008 | Balas

  7. Iya. Banjirnya ngeri bgt…….SetauQ, niy yg terbesar dh……

    Komentar oleh window | Januari 13, 2008 | Balas

  8. saya mau tanya, apakah saudara tahu tepatnya didaerah yang dekat solo,yang perkiraan sangat kritis daerah hutannnya?karena saya butuh banget info tersebut…..

    Komentar oleh cecep | Mei 13, 2008 | Balas

  9. setahu saya, yang paling kritis daerah lereng gunung Lawu, ini dapat dilihat pada jalur pendakian gunung Lawu via Cemoro Sewu.

    Komentar oleh kiaisuper | Mei 19, 2008 | Balas

  10. melasi

    Komentar oleh ariie | Maret 27, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: