:: Kiai Super ::

Suatu Proses Kreatif…

Ringkasan Hadits Arba’in An-Nawawiyyah (Hadits 7 – 13)

1. Hadits 7

Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad-Daari r.a., sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Sabda beliau: “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim.” (HR. Muslim)

Kata ‘nasihat’ merupakan kata yang singkat namun padat maknanya. Dalam bahasa Arab tidak ada sinonim yang pengertiannya setara dengan kata ini. Nasihat berarti ucapan yang ditujukan kepada seseorang agar orang yang dinasihati mendapatkan kebaikan.

Kalimat ‘agama adalah nasihat’ maksudnya adalah nasihat berfungsi sebagai tiang dan penopang-penopang agama, sebagaimana halnya sabda Nabi saw. “Haji adalah ‘Arafah” maksudnya wukuf di ‘Arafah adalah tiang dan bagian terpenting dari haji.

Khatabi dan ulama lainnya menafsirkan hadits ini:

Pertama, nasihat untuk Allah, maksudnya adalah beriman kepada Allah, menjauhi syirik dan ingkar kepada sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, menyucikan-Nya, dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhi diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci semata mata karena-Nya, berjihad di jalannya, bersyukur atas nikmat-Nya, ikhlas, dan berlemah lembut.

Kedua, nasihat untuk kitab-Nya, maksudnya adalah beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada rasul-Nya, membaca dan melafazkannnya dengan baik, menjaganya, dan mempelajari dan mengamalkan ilmunya, serta mendakwahkannya kepada manusia.

Ketiga, nasihat untuk rasul-Nya, maksudnya adalah membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati semua perintahnya dan larangannya, membela semasa hidup maupun sesudah matinya, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghidupkan sunnahnya, mengajak manusia kepada ajaran-ajaran beliau saw., dan meniru akhlak dan kesopanannya.

Keempat, nasihat untuk para pemimpin umat Islam, maksudnya adalah menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintahnya dan memperingatkan kesalahannya dengan lemah lembut, memberi tahu mereka jika lupa, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka, dan berjihad bersama mereka, mendoakannya agar mendapat kebaikan.

Kelima, nasihat untuk semua kaum muslimin, artinya memberikan bimbingan danbantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, beramar ma’ruf dan nahi munkar dengan sikap santun dan kasih sayang, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, dan melindungi harta dan kehormatan mereka.

2. Hadits 8

Dari Ibnu ‘Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat, dan mengeluarkan zakat. Barang siapa telah melaksanakannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dalam Islam, dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini telah digunakan sebagai hujjah oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. di masa kekhalifahannya untuk memerangi orang-orang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Sehingga Umar bin Khattab ra. mengikuti jejak Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.untuk memerangi kaum tersebut.

Kalimat ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia…’ menurut Khathabi dan ulama lainnya adalah memerangi kaum penyembah berhala, kaum musyrik Arab, dan orang yang tidak mau beriman, bukan golongan ahli kitabdan mereka yang mengakui keesaaan Allah. Sedangkan bukti keimanan atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad saw. adalah dengan melaksanakan shalat dan menunaikan zakat.

Kalimat ‘…dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta’ala.’ maksudnya adalah hal-hal yang mereka rahasiakan atau sembunyikan, terutama pada masalah niat, karena seseorang tidak dapat menilai niat orang lain, dan hanya Allah yang mengetahui isi hati dan niat seseorang.

3. Hadits 9

Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr r.a., ia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi, dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalimat ‘Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi’ menunjukkan adanya sifat mutlak untuk meninggalkan semua larangan, kecuali jika terdapat udzur di dalamnya, maka hal demikian tidak apa-apa. Seperti memakan bangkai dalam keadaan darurat dengan tidak berlebihan. dalam keadaan tidak darurat, semua larangan harus ditinggalkan tanpa kecuali, karena pada dasarnya meninggalkan larangan adalah hal yang tidak memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan yang banyak. Hal ini berbeda dengan melaksanakan perintah, dimana sebagian besar hal-hal yang disyariatkan dalam Islam memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan.

Kalimat ‘dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu.’ merupakan kalimat yang singkat namun padat makna dan menjadi prinsip penting dalam Islam. Pelaksanaan setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. hal ini karena setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan, sedangkan kemampuan masing-masing individu tidak sama. Sebagai contoh adalah shalat. Seseorang yang tidak mampu berdiri, boleh melakukan shalat dengan duduk sesuai dengan kemampuannya. Begitu pula dalam membayar zakat, jika seseorang tidak mampu membayar untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka hendaknya membayar sesuai dengan kemampuannya.

Kalimat ‘Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka.’ adalah sebuah larangan untuk terlalu banyak bertanya, yang jika diberikan jawabannya justru akan semakin mempersulit diri sendiri, sehingga sulit untuk menunaikan perintah, ibadah ataupun amanah dengan sempurna. hal ini telah tercatat dalam sejarah, ketika Bani Israil diperintahkan untuk menyembelih seekor lembu, namun mereka bnyak bertanya dengan pertanyaan yang akhirnya menyulitkan mereka.

4. Hadits 10

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw.: ‘Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah kami berikan kepadamu. Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu, menengadahkan kedua tangannyake langit seraya berdoa: ‘Wahai tuhan, Wahai Tuhan,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan makanan yang haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya?” (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran untuk membelanjakan sebagian harta (rezeki) yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya hendaknya harus terjamin kehalalannya tanpa tercampur dengan syubhat.

Hadits ini juga menjelaskan tentang adab-adab berdoa, dan syarat diterimanya amal. Orang yang berdoa hendaknya memperhatikan kehalalan harta yang didapat dan yang dibelanjakannya. Selain itu menengadahkan tangan saat berdoa merupakan salah satu dari adab berdoa. Doa dan amal tersebut, meskipun telah dilakukan dengan sebaik-baiknya, kemakbulannya tergantung pada harta, pakaian, makanan, dan minuman yang dikonsumsinya. Jika seseorang mengkonsumsi dari harta yang haram, maka doanya dan amal baiknya tidak dapat dikabulkan. Namun jika mengkonsumsi dari harta yang halal, niscaya doa dan amal baiknya akan dikabulkan oleh Allah.

5. Hadits 11

Dari Abu Muhammad, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah saw. dan kesayangan beliau telah berkata: “Aku telah menghafal (sabda) dari Rasulullah saw.: ‘Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa-apa yang tidak meragukan kamu.’” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i, berkata Tirmidzi: ini adalah hadits hasan shahih)

Hadits ini ringkas namun padat makna. Maksud hadits ini adalah perintah untuk meninggalkan segala sesuatu yang menjadikan kamu ragu-ragudan berganti kepada hal-hal yang tidak meragukan. Hal ini kembali kepada pengertian dari hadits keenam, yaitu meninggalkan perkara syubhat, yaitu pekara yang samar dan meragukan yang berada diantara batas halal dan haram.

6. Hadits 12

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw.: ‘Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.’” (HR. Tirmidzi, hadits hasan)

Salah satu ciri orang mukmin adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. hadits yang senada dengan hadits di atas adalah hadits yang berbunyi ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka dia akan berkata yang baik atau lebih baik diam’ Artinya, seorang yang beriman akan meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat, dan hanya berbicara dengan perkataan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula dalam amal-amalnya, seorang mukmin akan meninggalkan amal-amal yang tidak bermanfaat dan hanya melakukan amal-amal yang bermanfaat saja. Imam Al-Hasan ra. meriwayatkan, ia berkata: “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang yaitu apabila orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiatnya.”

7. Hadits 13

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., pelayan Rasulullah saw., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama berkata bahwa arti kata ‘tidak beriman’ ialah imannya tidak sempurna dan bukan berarti tidak memiliki iman sama sekali. Hal ini senada dengan makna hadits-hadits lain yang meggunakan redaksi ini.

Sedangkan maksud kalimat ‘mencintai milik saudaranya’ berarti mencintai hal-hal kebajikan atau hal-hal yang mubah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan melakukan amal amal yangbaik bagi dirinya namun baik pula dampaknya bagi orang lain.

Hadits ini secara umum menegaskan pentingnya hak persamaan atas umat manusia, dan menolak egoisme dan tinggi hati. Hadits ini, oleh sebagian ulama juga dimaknai bahwa seorang mukmin dengan mukmin yang lain adalah laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sesama muknin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Wallahu a’lam

About these ads

Agustus 19, 2007 - Posted by | Kajian Islam

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: