Tadzkirah Aceh
Engkau menggugat kepada
Pemilik segala sesuatu
Yang –tentu saja– berhak mutlak untuk melakukan apapun
terhadap segala sesuatu.
Termasuk kepadamu.
Begini katamu –dengan berteriak lantang:
“Kenapa Engkau mengingatkan kami dengan Tsunami!”
Engkau tak jadi korban
engkau tak mati
engkau tak hilang termakan ombak
dan engkau sekarang masih bisa tertawa
dan sekarangpun engkau tertawa
Dan aku heran
mengapa engkau protes
kepada Pemilik Aceh
kepada Pemilik Tsunami
Pemilik orang-orang Aceh
Pemilik engkau dan aku
Pemilik segala sesuatu
Yang – tentu saja– berhak mutlak untuk melakukan apapun
terhadap segala sesuatu.
Termasuk kepadamu.
Yang aku lebih heran lagi
engkau baru sadar
setelah Tsunami datang.
dan engkau menyangka bahwa
Tuhan langsung mengingatkan kita
dengan Tsunami.
Bukankah Tuhan telah mengingatkan kita berkali-kali
namun kita saja yang terlalu bebal dan –bahkan– menganggap Tuhan
tidak ada?
Jogja, 2005–2007
Fenomena Aktivis Dakwah Masa Kini: Sebuah Otokritik
Beberapa waktu yang lalu saya sempat berdiskusi hangat dengan teman-teman yang menamakan dirinya sebagai aktivis dakwah. tapi saya salut luar biasa karena ini aktivis dakwah sangat kritis melihat beberapa fenomena dikalangan aktivis dakwah yang mulai meluntur nilai-nilai keislaman yang ada dalam dirinya. Atau mungkin juga jamaahnya. Mungkin nggak syakhsiyah daiyah lebih dulu terbentuk daripada syakhsiyyah islamiyyah? Lalu bagaimanakah dampaknya jika ini terjadi?
Adab-adab syuro…
Yang ini saya amati beberapa bulan yang lalu bersama seorang teman saya, yang juga mengaku aktivis dakwah. Fenomena unik di kalangan aktivis dakwah. Terjadi di seputar Masjid Kampus UGM. Kalau yang sudah pernah ke Masjid Kampus UGM, akan lebih mudah membayangkan narasi saya. Yang belum pernah, Insya Allah juga bisa membayangkan kira-kira kejadiannya bagaimana.
Sore hari. Dua orang akhwat berjilbab gede, dan dua orang ikhwan duduk berhadapan, melingkar di bawah pohon palem yang ada di halaman sayap utara masjid kampus. Mungkin sedang syuro. Saya dengan teman saya ini, melihat fenomena ini cuma cengengesan. Yang jelas kami yakin bahwa mereka belum menikah. Pasalnya, kalau sudah menikah, pasti posisinya gak berhadapan melingkar. boleh jadi duduk samping kiri-kanan, dan seterusnya. Ini pakai jarak lumayan jauh pada awalnya. Kira-kira 1-1,5 meter lah. Karena saya saya ada keperluan dengan Dimas, saya selesaikan dulu urusan saya. Setelah urusan selesai, entah kenapa, saya liat empat orang tadi. Masya Alloh…! Tambah parah! Posisi duduk ikhwan akhwat semakin kacau. Jaraknya semakin dekat. Lagian itu ikhwan, posisinya bikin kami semakin ngakak. Duduk bersila, memandang si akhwat, dengan siku menempel di paha kaki dan ujung tangan menyangga dagu. Bisa bayangin ga? Basa jawanya songgo wang. Gile bener….
Melihat fenomena ini, dasar aktivis dakwah kurang aktif alias kurang gawean, kami mencoba keliling Masjid ini untuk mencari gejala-gejala aneh macam beginian. Baru sampai pintu utama di sisi timur, ada fenomena lagi. Satu ikhwan, satu akhwat, jadi cuma dua orang. Pas. Duduk menghadap ke timur, dengan jarak kira-kira 1-1,5 meter juga. Asumsi kami, ini sejoli juga belum nikah. Kalau sudah menikah, pasti duduknya lebih dekat, dans seterusnya. Entah yang disyurokan apa….
Kemudian ke selatan. Di sini agak lumayan. masih pakai tiang sebagai pembatasnya. Terus balik ke utara. Ealah, empat orang tadi belum selesai juga!
Lalu kami pulang.
Ini baru fenomena yang saya lihat di suatu sore pada suatu hari di suatu tempat. Ketika saya ceritakan kepada beberapa senior saya, mereka membenarkan. Bahwa ada banyak kasus semacam cerita di atas, yang terjadi di kalangan aktivis dakwah.
Suaranya, bikin gemes….
Ini ungkapan teman saya, sebut saja Fulan. Dia juga mengaku dan diakui sebagai aktivis dakwah. Begini cerita dari dia.
Dalam beberapa syuro yang dia temui, dia mengaku sering menemui akhwat gaul. Heran dia. Gaulnya itu, terutama dia tangkap dari gaya bicaranya. Katanya sih, gaya bicaranya di akhwat-akhwatin. Nggak kalah juga, lawan bicaranya, si ikhwan. Si ikhwan ini, meskipun teman-teman di sekelilingnya melabeli dia sebagai ikhwan, tapi gaya ngomongnya… akhwat banget gitu loh! Payah deh….
Ini fenomena saya setujui keberadaannya. Saya juga sering melihat dan mendengar, dalam beberapa komunikasi ikhwan-akhwat, gaya ngomongnya sama. Yang akhwat di akhwat-akhwatin, yang ikhwan juga di akhwat-akhwatin. Setelah saya informasikan ke beberapa senior saya, mereka juga membenarkan.
Pada kasus-kasus di atas, Si Fulan memboleh jadikan, bahwa fenomena ini terjadi karena faktor lingkungan yang lebih mendominasi. Boleh jadi, lingkungan sekitar akhwat memang orangnya gaul-gaul. Demikian juga lingkungan si ikhwan. Dan mereka ini tak pernah kembali atau berada pada lingkungan yang sesuai. Namun ini masih boleh jadi.
Boleh jadi juga, ini ikhwan akhwat terlalu sering bertemu, atas nama syuro, kemudian bahasannya ngelantur. Nggak ada tilawah AlQuran plus tadabburnya, nggak ada taushiyah juga. Banyak guyon, nggarapi lawan jenis, dan seterusnya. Dan dua kalimat terakhir ini memang sering terjadi.
Saya sepakat. Kurang ada mekanisme kontrol dari masing-masing individu. Juga dari atasan-atasan para aktivis itu. Kerja dan adab dalam dakwah semakin permisif, dan frekuensinya semakin sering. Payahnya, tidak diimbangi dengan frekunsi pelaksanaan amal-amal ruhiyah yang tinggi pula. Dalihnya selalu saja ada. “Ini kan cuma koordinasi ikhwan-akhwat, bukankah koordinasi harus ada?” Begitu katanya. ”Ini kan cuma guyonan biasa, kita masih tahu batasan kok.” Apa iya? Bagaimanapun juga penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian. Ada lagi yang lebih ngaco, ”Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Masya Allah. Ngomong begitu kepada ustadznya. Gimana, coba?
Sepertinya tidak hanya terjadi di Jogja. Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, majalah Tatsqif dari Jakarta juga mengangkat tema ini. Judulnya ATM. Aktivis Tapi Mesra. Yang dibahas lebih dalam. Sampai pada fenomena SMS yang serem-serem itu. Itu baru SMS, belum perkara telepon langsung, atau ketemu langsung.
Sempat juga saya diskusi dengan beberapa aktivis yang lain, dan ustadz, berkaitan melunturnya nilai-nilai keislaman dalam diri aktivis dengan adanya fenomena aneh ini. Jumlah aktivis semakin banyak, namun kualitasnya dipertanyakan. Ustadz-ustadzpun turut prihatin atas fenomena ini. Sudah berkali-kali diberi taujih dan taushiyah, e… malah dijawabnya ”Sekarang kan mihwarnya sudah lain, Ustadz! Jadi boleh dong!” Bukankah yang haram itu telah jelas, dan yang halal juga telah jelas? Dan diataranya ada syubhat, yang siapa menjauhkan diri dari syubhat, dia telah menjaga agama dan harga dirinya?
Pak Ustadz memberikan titik tolak permasalahannya. Tidak ada semangat untuk kembali ke tarbiyyah. Kalau diminta datang syuro, rajin betul. Apalagi Aksi. Giliran diminta datang kajian, dalihnya Afwan, ada syuro penting. Terlalu lelah. Ada agenda penting. Giliran ada mabit, sama juga alasannya. Giliran ada rihlah, apalagi pakai ikhwan akhwat, semangat lagi. Kan bisa curi-curi pandang. Kalau masih nggak cukup, bisa langsung ketemu ikhwan akhwat, di alam bebas, pake materi koordinasi, nge-fix-kan acara, dan seterusnya. Sekali lagi, penyakit-penyakit hati muncul dari hal-hal kecil kayak beginian.
Pak Ustadz kemudian memberikan solusi sederhana. Kembali ke Tarbiyyah.
Sederhana, bukan?
Jogja, Akhir November 2006
Memaknai Musibah
Ada pertanyaan menarik yang diajukan oleh sebagian orang berkaitan sengan musibah gempa bumi melanda Jogja dan sekitarnya. Apakah musibah ini sebagai azab, peringatan, cobaan, ujian, ataukah yang lain? Berkenaan dengan hal ini, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Dari Ummul Mu’minin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Rasulullah Saw bersabda: “Sekelompok pasukan hendak menyerang Ka’bah, ketika itu mereka berada di sebuah tanah lapang, maka mereka dbinasakan sejak bagian depan hingga paling belakang.” Kata Aisyah:”Lalu aku bertanya,’Wahai Rasulullah, mengapa mereka dibinasakan sejak barisan paling depan jingga paling belakang, sedang di antara mereka ada yang sedang berbelanja dan ada pula yang bukan dari golongan mereka?’”Rasulullah Saw menjawab: “Mereka dibinasakan sejak yang paling depan hingga paling belakang, kemudian mereka dibangkitkan menurut niat masing-masing.”
Sesungguhnya, hanya Allah Swt yang mengetahui untuk apa bencana ini terjadi, karena Dia-lah yang berkehendak. , Allah Swt menjadikan musibah sebagai azab bagi orang-orang yang ingkar, Allah Swt menjadikan musibah sebagai peringatan bagi orang-orang yang lalai, dan Allah Swt menjadikan musibah sebagai ujian dan cobaan bagi orang-orang yang beriman. Dan semua orang yang menjadi korban dalam musibah ini, maka Allah Swt akan membangkitkannya menurut niat masing-masing. Ada yang beriman dan shalih, ada yang kufur, ada yang lalai, dan adapula anak-anak yang belum dicatatkan amalnya. Lalu dimanakah posisi kita?
1. Musibah sebagai Azab dari Allah Swt
Boleh jadi Allah Swt hendak membersihkan bumiNya dari pelaku kemaksiatan, kesyirikan, dan kekufuran. ”Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (adzab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. Al Ankabut:4) Atau Allah ingin membersihkan bumiNya dari orang-orang yang jika dibiarkan hidup, maka mereka hanya akan menyesatkan hamba-hamba Allah, dan hanya melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak mau bersyukur.
”Dan Nuh berkata Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh: 26-27)
Kita memohon kepada Allah Swt dari AzabNya yang pedih.
2. Musibah sebagai Peringatan
Jikalau musibah ini adalah peringatan bagi kita, maka bersyukurlah! Karena Allah Swt masih mau mengingatkan kita. Segeralah bermuhasabah, sudahkah kita mengikhlaskan niat hanya kepada Allah Swt saja, dan bukan yang lain? Ataukan masih ada bibit-bibit riya’ dan sum;ah dalam diri kita? Sudahkah aqidah kita selamat dari segala bentuk penyembahan kepada selain Allah Swt? Sudahkah kita shahihkan segala bentuk ibadah kita dari segala macam bid’ah? Sudahkah kita murnikan akhlak kita dari ’ujub, takabbur, serta dari akhlak syaitan? Sudahkah kita shalih kan dan kuatkan akhlak kita dengan akhlak Rasulullah Saw?
Berbahagialah, karena kita masih diingatkan oleh Allah Swt dan masih diberi waktu untuk berbenah dan bertaubat. Maka segeralah mengingatNya, dan segeralah berbenah dan bertaubat Dan janganlah sekali-kali kita mengabaikan peringatan Allah Swt. Karena ketika kita melalaikan peringatan Allah, maka musibah itu akan menjadi azab bagi kita. ”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am:44)
3. Musibah sebagai Ujian
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabut:2)
Beruntunglah orang-orang yang beriman. Karena musibah ini adalah media ujian untuk kenaikan derajat baginya. Adapun orang-orang yang beriman, beramal shalih dan yang sabar menghadapi ujian ini, maka baginya adalah kedudukan tinggi di hadapan Allah Swt. Dan orang-orang yang beriman, ketika mendapatkan ujian dari Allah Swt, maka ia segera memohon ampunan kepada Allah, bersujud, dan bertaubat kepadaNya
”Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.” (QS. Shaad:24)
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beriman, yang sabar menghadapi ujian dan cobaan dariNya.
Ya Allah, karuniakanlah kesabaran kepada kami dan ilhamkanlah taubat kepada kami.
Ya Rabb kami, limpahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabatnya.
Jogja, Juni 2006
Sandal Jepit, Sepatu, Masjid, dan Kampus
Suatu ketika, saya mendatangi sebuah kampus. Tapi niat saya tidak ke kampus tersebut, tapi ke masjid yang ada di dalam kampus tersebut, untuk menemui teman saya. Saya sendiri, saya akui juga agak ‘gila’. Ke kampus pakai sandal jepit. Dari karet lagi! Sampai digerbang kampus, Pak Satpam dan salah seorang pegawai kampus memanggil saya dari posnya. Saya diinterogasi.
“Mau ke mana, Mas?” Tanya Pak Satpam.
“Mau ke masjid, Pak. Mau ketemu sama teman saya!” Jawab saya.
“Kalau mau masuk tempat ini, nggak boleh pakai sandal! Harus pakai sepatu!” Jelas Pak Satpam beserta pegawai kampus yang saling menambahkan dan mengiyakan. Saya jadi heran.
“Pak, saya cuma mau ke masjid di dalam, ketemu sama teman saya. Sebentar.” Saya juga jadi menjelaskan keperluan saya.
Pegawai tersebut jadi agak berang, lalu mengatakan
“Pokoknya nggak boleh! Ketemu di luar saja! Sudah sana, ditunggu di luar saja!”
Pegawai itu juga sempat menasihati saya
“Siapa yang hendak menjaga nama baik dan kehormatan kampus ini, kalau bukan saya dan Anda.”
Saya juga mau ikut-ikutan berang. tapi sudahlah, dari pada marah-marah di siang bolong yang panas membakar kulit, lebih baik saya keluar. Tidak jadi masuk, dan cuma berucap
“Makasih, Pak!” Lalu saya keluar.
Saya menunggu teman saya di luar kampus. Nongkrong di sebuah warung. Heran saya masih belum hilang. Baru kali ini saya dilarang ke masjid gara-gara tidak pakai sepatu. Saya sudah berusaha berpikir positif tentang peristiwa tadi. Tapi tetap saja hasilnya negatif. Mungkin dua bapak tadi berusaha menjunjung tinggi martabat kampusnya. Siapa yang rela harga diri kampusnya diinjak-injak? Saya sendiri tidak rela martabat kampus saya runyam. Tapi, yang bikin saya heran, kenapa martabat kampus harus dijunjung pakai sepatu? Dan saya juga tidak bermaksud menginjak-injak harga diri kampus tersebut dengan sandal jepit karet saya. Karena saya yakin, sandal jepit karet saya tidak akan mampu menurunkan martabat kampus tersebut sedikitpun. Saya jadi berkesimpulan, mungkin Pak Satpam, pegawai kampus tadi, dan orang-orang yang sependapat dengan beliau, cara berpikirnya memang sudah serba terbalik. Beliau berpikiran bahwa sandal jepit karet mampu mengalahkan harga diri sebuah kampus. Atau memang sandal jepit mampu menginjak-injak harga diri kampus karena (bisa jadi) selama ini jati diri kampus dibangun hanya dengan sepatu. Atau mungkin lagi, harga diri kampus tersebut memang sudah (semakin) hancur, dan pihak kampus sudah kehabisan akal untuk membangunnya kembali, sehingga terpaksa membangunnya kembali melalui sepatu, dan kemudian menganggap bahwa sandal jepit karet dapat menghancurkan harga diri kampus serta menjadikan sandal jepit sebagai sebab hancurnya harga diri kampus. Saya jadi semakin heran….
Akhirnya saya menemukan jalan tengah. Mungkin norma sosial kita memang tidak mengizinkan sandal jepit (karet) hidup di wilayah-wilayah formal. Kampus, kantor, sekolah, dan sebagainya. Dianggap tidak sopan. Tidak etis dan tidak estetis.
Pikiran saya saya kembali ke masalah semula. Masih juga heran, mengapa dilarang ke masjid gara-gara tidak pakai sepatu. Karena niat saya, seperti sudah saya katakan kepada dua bapak tersebut, adalah ke masjid, ketemu teman saya. Sejauh pemahaman saya, tidak ada dalil yang mewajibkan orang yang hendak ke masjid untuk pakai sepatu. Memang, kalau dalam urusan shalat, shalat pakai sepatu hukumnya boleh. Tetapi, shalat pakai sandal di masjid pun juga boleh. Karena, menurut saya, masjid adalah tempat yang egaliter. Tidak ada perbedaan status sosial, status ekonomi, kesukuan dan warna kulit. Orang miskin yang shalat tanpa alas kaki, maupun orang seperti saya yang hendak ke masjid dengan sandal jepit, semuanya dipersilakan masuk, duduk bersama, menempelkan jidat ke lantai bersama, meski harus berdampingan dengan pejabat yang pakai sepatu boot yang paling gedhe sekalipun. Jidat menempel di lantai, sejajar dengan kaki. Semua adalah sama di hadapan Allah SWT, kecuali ketaqwaannya. Moralitas dan harga diri masjid tidak ditentukan oleh sepatu maupun sandal jepit. Tidak pula oleh biaya yang besar untuk membangunnya. Tetapi ditentukan oleh semangat persaudaraan dan bagaimana fungsi masjid yang sesungguhnya itu diejawantahkan. Sebuah masjid tidak akan menjadi tenar hanya gara-gara semua jamaahnya pakai sepatu, pakaian jas atau safari, dan berjerat dasi. Begitu pula sebuah masjid tidak akan menjadi tidak tenar hanya gara-gara jamaahnya miskin-miskin. Kecuali kalau miskin ilmu, miskin akhlaq, miskin aqidah, plus miskin ibadah. Norma sosial yang berlaku di masjid adalah norma yang berbasis akhlaq. Tidak perlu sepatu ataupun sandal. Semangat bersaudara dijunjung tinggi. Tawashaw bil haq, tawashaw bish shabr, tawashaw bil marhamah adalah sedikit diantara basis moralitas yang dibangun di masjid. Makmum harus taat pada imam, namun imam juga harus bersedia di koreksi oleh makmum, dan makmum harus pula bersedia diluruskan oleh imam.
Sejauh pemahaman dan pengetahuan saya, dalam peraturan-peraturan kitab fikih klasik maupun kitab hukum dan konstitusi modern, tidak ada yang mewajibkan ke masjid mesti pakai sepatu, kecuali, ya, dua bapak tersebut. Namun, yang membuat kedua bapak tersebut sedikit beruntung adalah karena saat itu saya sudah shalat Dhuhur. Saya tidak tahu apa yang dikatakan kedua bapak itu kalau ketika itu saya belum shalat Dhuhur, kemudian saya katakan
“Pak, saya cuma mau ke masjid di dalam, mau shalat Dhuhur. Saya belum shalat Dhuhur.”
Kalau kemudian saya diizinkan untuk shalat di masjid dalam kampus itu, berarti kedua bapak tersebut faham dan mengerti hakikat sandal jepit, sepatu, masjid, dan kampus. Beliau berdua bisa menempatkan sandal jepit, sepatu, masjid, dan kampus secara proporsional. Aturan kampus berarti juga telah dibuat secara proporsional dan realistis. Dan saya yakin kampus tersebut harga dirinya memang tinggi, karena sandal jepit karet saya (memang) tidak mampu menurunkan martabat kampus tersebut sedikitpun. Kalaupun terpaksanya harga diri kampus itu rendah, pasti yang menjadi penyebabnya bukan karena pijakan-pijakan sandal jepit. Sandal jepit terlalu kerdil dan tak cukup kuat untuk mampu merobohkan harga diri kampus segedhe itu yang sudah dibangun dengan biaya mahal, seleksi ketat orang-orang pandai yang hendak studi di kampus tersebut, dan prestasi membanggakan yang telah ditorehkan kampus tersebut.
Namun, kalau kemudian beliau berdua berkata seperti ucapan pada kejadian saya di atas,
“Pokoknya nggak boleh masuk! Shalat di masjid lainnya saja! Sudah sana, keluar saja!”
Saya benar-benar tidak mampu untuk berkomentar.
(Hifni Mukhtar Ariyadi)
Condongcatur, 2 Shafar 1426
Al-Quran Sebagai Kitab Ilmu Pengetahuan
Allah SWT berfirman
“ Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan Qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1 – 5)
Ayat-ayat ini merupakan ayat-ayat Al-Quran yang pertama kali diturunkan, yang merupakan permulaan rahmat dan nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Salah satu kenikmatan tersebut adalah ilmu, yang dengan adanya ilmu tersebut, manusia dimuliakan dan dihormati. Ilmu pengetahuan merupakan keistimewaan Adam atas para malaikat, di mana Allah mengajarkan nama-nama benda yang nama-nama tersebut tidak diketahui oleh malaikat. Dalam ayat ini Allah menyatakan megajarkan ilmu kepada manusia melalui perantaraan Qalam.
Ilmu pengetahuan yang dimaksudkan adalah ilmu-ilmu eksak, seperti ilmu fisika, biologi, kimia, ilmu falak, kedokteran, maupun ilmu-ilmu sosisal, seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, sastra, dan lain-lain. Termasuk pula di dalamnya adalah ilmu-ilmu agama, seperti aqidah, ibadah, akhlaq, muamalah, fiqh dan lain-lain.
Al-Quran tidak hanya menyebutkan secara eksplisit semua ilmu pengetahuan tersebut. Namun Al-Quran memerintahkan kepada manusia untuk menuntut ilmu. Dalam hal ini Al-Quran telah menyebutkan dalam banyak ayat, tentang urgensi ilmu pengetahuan, kedudukan orang yang beriman dan berilmu, etika menuntut dan menyampaikan ilmu, etika dalam majelis ilmu, keburukan dan akibat orang-orang yang tidak mau menuntut ilmu, dan lain-lain.
Urgensi Ilmu Pengetahuan dan Kedudukan Orang Berilmu
Allah SWT berfirman
“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah:269)
Allah telah menyebutkan bahwa orang yang telah diberi ilmu (al-hikmah) adalah orang yang mendapat anugerah yang banyak, mengingat pentingnya ilmu tersebut bagi manusia.
Ilmu pengetahuan yang bermanfaat akan semakin mempertebal keimanan seseorang dan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT
“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7)
“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa’:162)
Allah secara tegas menyatakan akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu. Dua syarat tersebut, yakni beriman dan berilmu, harus dipenuhi dalam diri seseorang untuk meraih derajat yang tinggi. Dan ilmu akan melebihkan seseorang dari hamba-hamba yang beriman lainnya.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)
“Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman.” (QS. An-Naml:1 5)
Ayat-ayat Ilmu Pengetahuan dalam Al-Quran
Salah satu fungsi al-Quran adalah sebagai kitab ilmu pengetahuan. Namun demikian, Al-Quran bukanlah kitab ilmiah/kitab sains murni seperti kitab-kitab sains selama ini. Al-Quran adalah kitab petunjuk bagi kebahagiaan dunia dan akhirat, termasuk pula di dalam nya adalah petunjuk tersirat dan tersurat tentang berbagai ilmu pengetahuan.Hakikat ilmu-ilmu pengetahuan yang disebut dalam Al-Quran disebutkan secara singkat namun padat makna, sehingga untuk mengungkap makna yang terkandung di dalamnya, perlu dilakukan kajian yang sangat mendalam, karena keterbatasan ilmu manusia dan luasnya ilmu Allah SWT. Adapun seringkali ditemukan beberapa kasus yang seolah-olah bertentangan antara hasil temuan manusia dengan Al-Quran, pada hakikatnya kesalahan itu terletak pada metodologi tafsir maupun keterbatasan akal manusia saja. Sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini dalam ilmu biologi, yang selama lebih dari satu abad mayoritas umat manusia mempercayai adanya teori evolusi, teori asal mula kehidupan yang terjadi secara bertahap dan secara kebetulan, serta menafikkan adanya penciptaan. Akan tetapi, teori-teori yang salah ini akhirnya dapat dipatahkan oleh cendekiawan muslim, Harun Yahya, dengan sangat telak. Asal mula kehidupan tetap dengan adanya penciptaan dan kehendak Tuhan. Hal ini telah ditulis Harun Yahya dalam banyak karyanya. Dalam hal ini, Al-Quran selalu bersesuaian dengan ilmu pengetahuan, namun akal manusia belum menguasai ilmu-ilmu tersebut.
Diantara ayat-ayat Al-Quran yang mengandung isyarat ilmiah dan ilmu pengetahuan antara lain
1. Tentang Penciptaan
QS. Al-Qiyamah: 36 – 39, QS. An-Najm: 45 – 46, QS. Al-Waqi’ah: 58 – 59
2. Tentang Asal Mula Alam Semesta
QS. Al-Anbiya’:30, QS. Az-Dzariyaat:53
3. Tentang Gerakan Awan
QS. An-Nuur: 43
4. Tentang Ilmu Geologi
QS. An-Naml: 88
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang ilmu pengetahuan, seperti tentang pengobatan dengan madu, tentang fotosintesis tumbuhan, ilmu kelautan, tentang kalender syamsiyah dan qomariyah, dan lain-lain.
Kesimpulan
Al-Quran bukanlah kitab sains murni, namun demikian Al-Quran tetap berfungsi sebagai kitab ilmu pengetahuan. Al-Quran mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa menuntut ilmu, mengamalkannya, serta menularkannya kepada orang lain. Barangsiapa telah menunaikan hal tersebut, maka orang tersebut telah mendapatkan kebaikan yang banyak. Adapun beberapa ayat dalam Al-Quran yang mengisyaratkan tentang hal-hal ilmiah di alam semesta, hal tersebut merupakan mukjizat bayani bagi Al-Quran serta untuk menambah keimanan bagi orang yang beriman.
Maraji’:
1. Dr. Yusuf Al-Qaradhawy, Fatwa-fatwa Kontemporer 3, Pustaka Al-Kautsar
2. Harun Yahya, Keruntuhan Teori Evolusi, E-Book
3. Ibnu Katsir, Tafsir Juz ‘Amma, Pustaka ‘Azzam
4. M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Mizan
Ringkasan Hadits Arba’in An-Nawawiyyah (Hadits 7 – 13)
1. Hadits 7
Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad-Daari r.a., sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Sabda beliau: “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim.” (HR. Muslim)
Kata ‘nasihat’ merupakan kata yang singkat namun padat maknanya. Dalam bahasa Arab tidak ada sinonim yang pengertiannya setara dengan kata ini. Nasihat berarti ucapan yang ditujukan kepada seseorang agar orang yang dinasihati mendapatkan kebaikan.
Kalimat ‘agama adalah nasihat’ maksudnya adalah nasihat berfungsi sebagai tiang dan penopang-penopang agama, sebagaimana halnya sabda Nabi saw. “Haji adalah ‘Arafah” maksudnya wukuf di ‘Arafah adalah tiang dan bagian terpenting dari haji.
Khatabi dan ulama lainnya menafsirkan hadits ini:
Pertama, nasihat untuk Allah, maksudnya adalah beriman kepada Allah, menjauhi syirik dan ingkar kepada sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, menyucikan-Nya, dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhi diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci semata mata karena-Nya, berjihad di jalannya, bersyukur atas nikmat-Nya, ikhlas, dan berlemah lembut.
Kedua, nasihat untuk kitab-Nya, maksudnya adalah beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkan-Nya firman-firman itu kepada rasul-Nya, membaca dan melafazkannnya dengan baik, menjaganya, dan mempelajari dan mengamalkan ilmunya, serta mendakwahkannya kepada manusia.
Ketiga, nasihat untuk rasul-Nya, maksudnya adalah membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati semua perintahnya dan larangannya, membela semasa hidup maupun sesudah matinya, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghidupkan sunnahnya, mengajak manusia kepada ajaran-ajaran beliau saw., dan meniru akhlak dan kesopanannya.
Keempat, nasihat untuk para pemimpin umat Islam, maksudnya adalah menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintahnya dan memperingatkan kesalahannya dengan lemah lembut, memberi tahu mereka jika lupa, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka, dan berjihad bersama mereka, mendoakannya agar mendapat kebaikan.
Kelima, nasihat untuk semua kaum muslimin, artinya memberikan bimbingan danbantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, beramar ma’ruf dan nahi munkar dengan sikap santun dan kasih sayang, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, dan melindungi harta dan kehormatan mereka.
2. Hadits 8
Dari Ibnu ‘Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat, dan mengeluarkan zakat. Barang siapa telah melaksanakannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dalam Islam, dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini telah digunakan sebagai hujjah oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. di masa kekhalifahannya untuk memerangi orang-orang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Sehingga Umar bin Khattab ra. mengikuti jejak Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.untuk memerangi kaum tersebut.
Kalimat ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia…’ menurut Khathabi dan ulama lainnya adalah memerangi kaum penyembah berhala, kaum musyrik Arab, dan orang yang tidak mau beriman, bukan golongan ahli kitabdan mereka yang mengakui keesaaan Allah. Sedangkan bukti keimanan atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad saw. adalah dengan melaksanakan shalat dan menunaikan zakat.
Kalimat ‘…dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta’ala.’ maksudnya adalah hal-hal yang mereka rahasiakan atau sembunyikan, terutama pada masalah niat, karena seseorang tidak dapat menilai niat orang lain, dan hanya Allah yang mengetahui isi hati dan niat seseorang.
3. Hadits 9
Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr r.a., ia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi, dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimat ‘Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi’ menunjukkan adanya sifat mutlak untuk meninggalkan semua larangan, kecuali jika terdapat udzur di dalamnya, maka hal demikian tidak apa-apa. Seperti memakan bangkai dalam keadaan darurat dengan tidak berlebihan. dalam keadaan tidak darurat, semua larangan harus ditinggalkan tanpa kecuali, karena pada dasarnya meninggalkan larangan adalah hal yang tidak memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan yang banyak. Hal ini berbeda dengan melaksanakan perintah, dimana sebagian besar hal-hal yang disyariatkan dalam Islam memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan.
Kalimat ‘dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu.’ merupakan kalimat yang singkat namun padat makna dan menjadi prinsip penting dalam Islam. Pelaksanaan setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. hal ini karena setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam memerlukan tenaga, waktu, harta, serta pengorbanan, sedangkan kemampuan masing-masing individu tidak sama. Sebagai contoh adalah shalat. Seseorang yang tidak mampu berdiri, boleh melakukan shalat dengan duduk sesuai dengan kemampuannya. Begitu pula dalam membayar zakat, jika seseorang tidak mampu membayar untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, maka hendaknya membayar sesuai dengan kemampuannya.
Kalimat ‘Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka.’ adalah sebuah larangan untuk terlalu banyak bertanya, yang jika diberikan jawabannya justru akan semakin mempersulit diri sendiri, sehingga sulit untuk menunaikan perintah, ibadah ataupun amanah dengan sempurna. hal ini telah tercatat dalam sejarah, ketika Bani Israil diperintahkan untuk menyembelih seekor lembu, namun mereka bnyak bertanya dengan pertanyaan yang akhirnya menyulitkan mereka.
4. Hadits 10
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw.: ‘Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah kami berikan kepadamu. Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu, menengadahkan kedua tangannyake langit seraya berdoa: ‘Wahai tuhan, Wahai Tuhan,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan makanan yang haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya?” (HR. Muslim)
Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran untuk membelanjakan sebagian harta (rezeki) yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya hendaknya harus terjamin kehalalannya tanpa tercampur dengan syubhat.
Hadits ini juga menjelaskan tentang adab-adab berdoa, dan syarat diterimanya amal. Orang yang berdoa hendaknya memperhatikan kehalalan harta yang didapat dan yang dibelanjakannya. Selain itu menengadahkan tangan saat berdoa merupakan salah satu dari adab berdoa. Doa dan amal tersebut, meskipun telah dilakukan dengan sebaik-baiknya, kemakbulannya tergantung pada harta, pakaian, makanan, dan minuman yang dikonsumsinya. Jika seseorang mengkonsumsi dari harta yang haram, maka doanya dan amal baiknya tidak dapat dikabulkan. Namun jika mengkonsumsi dari harta yang halal, niscaya doa dan amal baiknya akan dikabulkan oleh Allah.
5. Hadits 11
Dari Abu Muhammad, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasulullah saw. dan kesayangan beliau telah berkata: “Aku telah menghafal (sabda) dari Rasulullah saw.: ‘Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa-apa yang tidak meragukan kamu.’” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i, berkata Tirmidzi: ini adalah hadits hasan shahih)
Hadits ini ringkas namun padat makna. Maksud hadits ini adalah perintah untuk meninggalkan segala sesuatu yang menjadikan kamu ragu-ragudan berganti kepada hal-hal yang tidak meragukan. Hal ini kembali kepada pengertian dari hadits keenam, yaitu meninggalkan perkara syubhat, yaitu pekara yang samar dan meragukan yang berada diantara batas halal dan haram.
6. Hadits 12
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah saw.: ‘Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.’” (HR. Tirmidzi, hadits hasan)
Salah satu ciri orang mukmin adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. hadits yang senada dengan hadits di atas adalah hadits yang berbunyi ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka dia akan berkata yang baik atau lebih baik diam’ Artinya, seorang yang beriman akan meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat, dan hanya berbicara dengan perkataan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula dalam amal-amalnya, seorang mukmin akan meninggalkan amal-amal yang tidak bermanfaat dan hanya melakukan amal-amal yang bermanfaat saja. Imam Al-Hasan ra. meriwayatkan, ia berkata: “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang yaitu apabila orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiatnya.”
7. Hadits 13
Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., pelayan Rasulullah saw., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesama muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama berkata bahwa arti kata ‘tidak beriman’ ialah imannya tidak sempurna dan bukan berarti tidak memiliki iman sama sekali. Hal ini senada dengan makna hadits-hadits lain yang meggunakan redaksi ini.
Sedangkan maksud kalimat ‘mencintai milik saudaranya’ berarti mencintai hal-hal kebajikan atau hal-hal yang mubah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan melakukan amal amal yangbaik bagi dirinya namun baik pula dampaknya bagi orang lain.
Hadits ini secara umum menegaskan pentingnya hak persamaan atas umat manusia, dan menolak egoisme dan tinggi hati. Hadits ini, oleh sebagian ulama juga dimaknai bahwa seorang mukmin dengan mukmin yang lain adalah laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudaranya sesama muknin sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Wallahu a’lam
-
Arsip
- Agustus 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (2)
- Agustus 2008 (2)
- Juni 2008 (5)
- Mei 2008 (1)
- April 2008 (1)
- Januari 2008 (1)
- Desember 2007 (7)
- September 2007 (3)
- Agustus 2007 (6)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS